Skip to main content

Kader Konservasi: Bukit Barisan 'Turmatutung' Menangis


Ekosistem
Kawasan Hutan Lindung Tormatutung Asahan beralih fungsi. Photo Amiruddin Dolok Saribu Kader Konservasi Alam


Aksi perambahan Hutan Lindung Tormatutung Asahan, terus berlanjut, dan pembakaran pun di lakukan setelah di biarkan di rambah. Aksi pembakaran tersebut seperti nya sengaja di biarkan oleh pihak Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) TK II Kabupaten Asahan. Pembakaran-pembakaran yang terus di lakukan oleh pihak masyarakat maupun pengusaha membuat stabilitas hutan rusak parah,akibat nya biodeversity hutan secara otomatis punah.Kejadian tersebut terus-terusan berlanjut, tepat nya di Batu Rosak, Aek Batu, Desa Aek Nagali dan di Aek Gorat, Dolok Nauli, Dolok Bartong, Desa Hutarau, Kecamatan Bandar Pulau Kabupaten Asahan, Sumut.


                                     
Dishutbun Asahan seperti nya sudah lumpuh menanggulangi kerusakan hutan, sebab pengrusakan tersebut sampai saat ini terus berlanjut. Aksi dan kampanye para pegiat lingkungan berlalu begitu saja. Berbagai media masa dan LSM mengangkat topik kerusakan Hutan Lindung Tormatutung Asahan tidak di perdulikan oleh Dishutbun Asahan. Dari kerusakan yang terlihat, bukan saja saat ini saja tapi sudah di mulai sejak lama karena di biarkan.
                                     
Dari pantauan investigasi yang berulang kali terlihat kawasan hutan Lindung Tormatutung Asahan sudah beralih pungsi. Tampak jelas hamparan-hamparan kebun kelapa sawit yang telah menghasilkan dalam jumlah yang berton-ton di keluarkan dari Hutan Kawasan tersebut.Pekikan-pekikan singso, suara gemuruh pepohonan rubuh terus terdengar.

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 1999 TENTANG KEHUTANAN, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 1997 TENTANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOM0R 45 TAHUN 2004 TENTANG PERLINDUNGAN HUTAN, PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor: P.30/Menhut-II/2009 TENTANG TATA CARA PENGURANGAN EMISI DARI DEFORESTASI DAN DEGRADASI HUTAN (REDD) dan peraturan yang lain nya tidak jelas pengejewantahan nya.
                                    
Peraturan dan Perundang-undangan tersebut hanya diatas kertas, masyarakat akhir nya semakin bebal dengan terus-terusan menggunduli hutan dengan alasan mata pencaharian yang dan lapangan kerja yang sulit. Itulah selalu yang jadi alasan masyarakat dalam menebangi hutan bahkan ke jantung Hutan Lindung. Alasan klasik tentunya, sebab yang terlihat di lapangan justru setelah hutan tersebut di gunduli dan di tanami kelapa sawit yang mulai berproduksi dijual kembali kepada pengusaha. Satu poin kesalahan oleh Dishutbun Asahan karena tidak ada nya pembinaan dan pengawasan.

Yang lebih sakit nya lagi ketika penggundulan Hutan tersebut, bermuatan titipan-titipan para pengusaha dengan memakai pekerja masyarakat miskin, berlindung di balik tameng kemiskinan. Padahal pengelola Hutan ini lah sebenar nya yang miskin dan sama sekali masa bodoh. Sudah jelas-jelas areal penanaman Gerakan Hutan Dan Lahan (GERHAN) ribuan hektar di daerah tersebut pada Tahun 2005, 2006, 2007 tepat nya di Aek Batu, Aek Gorat, Dolok Nauli, Dolok Bartong dan Batu Rosak dengan di tanami pohon Mahoni, habis di babat kini di buka menjadi areal perladangan dan perkebunan, di tanami dengan kelapa sawit.
                                 

Bukan saja perambahan liar saja yang bergejolak, aksi penebangan liar pun terus berjalan mulus di Daerah Aliran Sungai (DAS) Asahan, Sabungan, Bedeng dan masih saja terus berlindung di balik dokumen, sementara pakta lapangan membuktikan kerusakan lingkungan yang seakan terkordinasi. Dalil-dalil penyelidikan terus di lontarkan oleh instansi terkait sementara Hutan terus-terusan di gunduli, lingkungan mengalami kerusakan.

Lantas kemanakah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ( APBD) di pos Dishutbun Asahan, dengan nilai yang cukup lumayan yang pernah di cetuskan berbagai pegiat lingkungan di Asahan. Dana tersebut antara lain, APBD Tahun 2008 dengan judul " Penanganan Reflesif kasus pelanggaran di dalam Kawasan Hutan dan Ilegal Loging " telah menghabiskan dana sebesar Rp 404 Juta lebih. Kemudian masih di tahun yang sama dengan judul " Sosialisasi Pencegahan dan Dampak Kebakaran Hutan dan Lahan dengan dana Rp 93 Juta lebih. Selanjut nya tentang " Biaya Operasional Pengawasan Kawasan Hutan dan Hasil Hutan Kabupaten Asahan di atas APBD Tahun 2008, sebesar Rp 349.7234.815,00,-.
                               
APBD untuk pengawasan hutan itu dilanjutkan pada Tahun 2009 dengan judul " Penanganan Reflesif Kasus Pelanggaran di dalam Kawasan Hutan dan Hasil Hutan di Kabupaten Asahan " dengan APBD sebesar Rp 89 Juta lebih. Selain itu ada juga " Biaya Operasional Pengawasan Kawasan Hutan dan Hasil Hutan di Kabupaten Asahan " dengan APBD sebesar Rp 74.999.800.00,-. APBD itu juga terus berlanjut di kucurkan pemerintah, pada Tahun 2010 Pemkab Asahan balik mengucurkan dana dengan tema " Penanganan Reflesif Kasus Pelanggaran di dalam Kawasan Hutan dan Ilegal Loging " sebesar Rp 40 Juta

Sementara untuk pada Tahun 2011 dan APBD kembali di gelontorkan untuk program Perlindungan dan Konversi Sumber Daya Hutan senilai Rp 283 Juta lebih. Cukup spektakuler tentunya dengan besaran dana-dana tersebut. Tapi mengapa Hutan Lindung Tormatutung Asahan tetap gundul, mengapa DAS Asahan kian parah, pepohonan kayu kelas di tebangi.
                               
Kerusakan yang terjadi di seputaran Hutan Lindung Tormatutung Asahan kini menjadi sorotan , pegiat lingkungan dari Greenpeace Indonesia pun bersuara, melalui gerakan Hijaukan Negeri. Julfahmi juru kampanye Greenpeace Indonesia terheran-heran melihat laporan yang disampaikan Tim Pegiat Lingkungan Asahan. " Permasalahan ini harus di sampaikan kerpemerintah pusat terkait kerusakan Hutan Lindung Tormatutung Asahan " Kata Julmahmi. Selasa (26/7).Saat ini data telah terkumpul sejumlah data dan sudah di layangkan keberbagai instansi terkait.Menurut Julfahmi kerusakan hutan tidak boleh dibiarkan apapun alasan nya, apalagi Hutan Lindung.
                              
Kru terus menyuarakan kerusakan Hutan Lindung Tormatutung Asahan di samping bermukim tidak jauh dari kawasan tersebut senantiasa melakukan survey secara periodik dan melaporkan nya terus ke Dishutbun Asahan namun tetap saja tidak ada action terhadap pengawasan Hutan Lindung Tormatutung Asahan, bahkan sejumlah dalil-dalil yang di lontarkan sebagai pembelaan diri yang menurut penulis salah kaprah. Bahkan secara diam-diam kru melakukan pemantauan namun kedatangan kru sudah di pentau oleh penggarap di pintu gerbang memasuki kawasan hutan di daerah tersebut.
                              
Jaringan tersebut terkodinir begitu rapi, ketika sampai dilokasi terang saja para penggarap liar sudah kabur menyelamatkan diri, dengan meninggalkan bekas-bekas tempat air minum dan hisapan puntung rokok. Terlihat jelas perambahan tersebut masih segar, hijau. Hutan dan semak belukar tersebut rubuh, membuat air mata para pegiat lingkungan menetes. Toh, situasi kejadian seperti ini kita sampaikan pun belum ada respon.

Ketika memasuki kaki kawasan Hutan Lindung Tormatutung di lokasi yang di sebutkan diatas, kita akan melihat sederetan barak-barak dan pemukiman-pemukiman warga menetap yang terus-terusan mengkebiri areal Hutan Lindung Tormatutung Asahan. Bahkan pendatang-pendatang dari luar daerah terus berebut membabati hutan, bukan orang miskin tentunya, sebab terlihat perbekalan-perbekalan yang mereka bawa dengan kendaraan-kendaran yang cukup layak, tidak seperti yang kita dengar , dengan alasan kemiskinan menggarap hutan.
                                 

Dilihat dari kerusakan hutan tersebut, betapa lumpuh nya Dishutbun Asahan dalam melakukan perlindungan hutan.Belum lagi kejadian yang mengerikan Rabu (3/8/2011) di Dusun VII Desa Parleangan Kecamatan Bandar Pulau Kabupaten Asahan, Sumut, Harimau telah mengamuk menyantab sekawanan ternak milik warga berupa Lembu 3 ekor dan kambing 1 ekor. 

Pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan Wildlife Conservation Society (WCS) turn menginap dan menghalau nya, namun ketika tim tersebut pulang kemarin nampak lagi jejak Harimau baru di perkampungan tersebut. Kawasan pemukiman pun bertambah panas, yang biasa nya dahulu dingin dan sejuk, satwa banyak yang punah, debit air menurun, pluktuasi cuaca tidak menentu, sebab ekologi telah rusak. Mata rantai ekosistim terputus, siklus tanah menjadi tandus. Dishutbun Asahan melalui Polhut nya datang meninjau kelokasi kita tidak pungkiri, namun mereka datang setelah ada nya tulisan kritikan di media, namun hanya setakat rekreasi saja. Laporan kerusakan hutan di terima oleh Dishutbun Asahan namun kerusakan hutan jalan terus di perkirakan ribuan hektar nya dari tahun ke tahun mulai dari Kecamatan Bandar Pulau, Aek Songsongan dan Kecamatan Bandar Pasir Mandoge, Kabupaten Asahan-Sumut.
                                   
Lalu bagaimanakah solusi nya....?
Menuju Indonesia Hijau, Program gemar menanam di harapkan dapat menanggulangi, kerusakan demi kerusakan Hutan Lindung Tormatutung Asahan....( Tombak Nagara/Amir Dolok Saribu)


































Popular posts from this blog

BARUS KOTA BERTUAH MINIATUR DAN DIMENSI SPRITUAL DARI PUNCAK MAKAM PAPAN TINGGI

Makam Tuan Syeikh Mahmud Barus di Papan Tinggi Desa Pananggahan, Kec. Barus Utara, Kabupaten Tapanuli Tengah-Sumut, sebagai Pembawa Syiar Agama Islam di Indonesia. Dari atas puncak Papan Tinggi atau yang biasa di sebut masyarakat setempat dengan sebutan Tompat atau Tangga Seribu menyimpan dimensi spritual yang tersembunyi. Dari atas terlihat hamparan pemukiman kota Barus dengan bentangan  samudera Hindia sebagai gerbang masuk nya Agama Kristen dan Islam di Indonesia dengan kekayaan Sumber Daya Alam ( SDA ) yang pada zaman itu yakni kapur barus. (Baca : Rekam Jejak Barus)

Pancur Napitu Merah Putih Alur Danau Toba dan Legenda Sisingamangaraja

Pancur Napitu di temukan pada tahun 1833 oleh sekelompok masyarakat Batak saat membuka perkampungan Parhutaan Maria Gunung di Dusun I, Desa Gunung Berkat, Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara. Pancur Napitu arti nya 7 sumber mata air yang keluar dari batu. Meskipun saat musim kemarau mata air tersebut tidak pernah kering dan bila saat musim  penghujan 7 mata air tersebut tetap mengeluarkan air yang jernih.

SUNGAI ASAHAN DALAM MINIATUR PEMBENTUKAN KABUPATEN BANDAR PULAU YANG BAROKAH

Oleh: Amiruddin Dolok Saribu Alias Tombak Nagara
Sungai Asahan berasal dari Danau Toba Kabupaten Tobasa dengan melintasi pegunungan hutan lindung Tormatung Asahan mengalir dan membelah sejumlah desa-desa di Kabupaten Asahan, Tobasa dan bermuara ke Kota Madya Tanjung Balai membaur ke pantai laut Selat Malaka. Sungai Asahan merupakan kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) masyarakat Kabupaten Asahan, Sumatera Utara. Salah satu yang membuat Sungai Asahan mendunia karena sering menjadi tempat ajang perlombaan arum jeram bertaraf international. Namun sejak di bangun nya PLTA Asahan III arung jeram sudah tidak terdengar lagi kabar nya.

Tugu Perjuangan Bandar Pulau 'Susah di kenang senang di lupakan'

Tungu Perjuangan Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara, merupakan bukti sejarah sebagai Pengibar pertama sangsaka Merah Putih di Asahan. Bandar pulau akan selalu di kenang, banyak putera-putri Bandar Pulau yang sudah berhasil di luar daerah, jadi apabila melihat photo ini pasti akan terkenang dengan Kampung halaman nya.

Tugu Sarang Helang 'Dikenang Sifat Kesatria Rakyat Asahan'

Selain Tugu Perjuangan Bandar Pulau yang terletak di Desa Bandar Pulau Pekan, Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara, (Baca:Tugu Perjuangan Bandar Pulau masih ada satu lagi sebuah Tugu Perjuangan Sarang Helang yang terletak di Desa Sarang Helang, Kecamatan Sei Kepayang Timur, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara.