Skip to main content

REKAM JEJAK BARUS

Anggota Dewan Perimbangan Presiden Repoblik Indonesia
Prof Dr. Meutia Hatta dan Amiruddin Dolok Saribu Kader Konservasi Alam. Photo: Amiruddin Dolok Saribu-Kader Konservasi Alam 
Pesan Prof Dr. Meutia Hatta kepada Wartawan ( Pers )

" Tulislah sesuatu tentang Barus karena Barus ini bagian dari kebanggaan Nasional, dan juga Jati Diri kita, identitas Nasional karena ini menunjukkan peradaban Indonesia yang lama yang mungkin juga di lupakan orang. Bahkan mungkin bisa menjawab apakah masyarakat Bahari itu juga ada disini. Kita selalu berpikir Indonesia Timur, tapi mungkin disini juga ada. Apalagi disini memungkinkan ada pelabuhan dan sebagai nya. Ini harus ada klaim budaya, tapi klaim budaya itu baru bisa di lakukan apabila sudah ada bukti-bukti yang cukup. Jadi saya kira wartawan juga ikut mendorong . Tapi tolong juga di ingat kan karena wartawan itu ( Pers ) juga mempunyai pungsi mendidik Bangsa. Jadi tolonglah sifat " Tak Kenal Maka Tak Sayang " itu hilang dari perasaan terutama anak-anak muda kita yang duduk di SD sampai dengan Perguruan Tinggi. Jadi saya kira itu harapan saya bagi pers. Mari Pers ikut mendidik Bangsa". ( Amanat Prof Dr Meutia Hatta Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres ) RI Bidang Pendidikan dan Kebudayaan saat kunjungan kerja nya di Barus, Jum'at 18/11/2011).
Anggota Dewan Pertimbangan Presiden
Prof Dr. Meutia Hatta. Photo: Amiruddin Dolok Saribu-Kader Konservasi Alam 
Laporan Amiruddin Dolok Saribu Kader Konservasi Alam Alias Tombak Nagara

Barus, Tapanuli Tengah-Kader Konservasi Alam.

Kota Barus adalah sebuah Kota Tua dan bersejarah sekaligus Kota Bertuah yang masuk dalam wilayah  pemerintahan Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara. Kota Barus dapat di tempuh sekitar 2 ( Dua ) jam dari ibu kota Kabupaten Tapanuli Tengah, Pandan.

Riwayat Barus tak pernah mati dari generasi ke generasi sebab Barus melengket dengan sejarah.   “ Barus adalah Kota tua, sekaligus kota sejarah dan sekaliguskota bertuah. Banyak kota-kota di dunia ini tapi akan tetapi tidak melengket dengan sejarah. Barus melengket dengan sejarah maka nya di kenang. Sekaligus berpadu dengan Tuah. Tuah Barus ini sungguh luar biasa. Banyak elemen-elemen dan kenyataan-kenyataan dalam hidup dan kehidupan kita dari masa dahulu sampai sekarang , “ kata DRS. H Habibuddin Pasaribu Tokoh Masyarakat Barus saat pidato nya di hadapan Bupati Tapanuli Tengah Raja Bonaran Situmeang SH MHum  dan Prof. Dr. Meutia Hatta anggota Dewan Pertimbangan Presiden ( Watimpres ) RI bidang Pendidikan Dan Kebudayaan pada kunjungan kerja nya di Barus Jum’at ( 18/11/2011 ).

Masuk nya pertama kali Islam dan Kristen ke Indonesia adalah Barus dengan ada nya di temukan makam-makam tua,yang bertuliskan huruf-huruf Arab dan Persia.Banyak di temukan di Barus pecahan-pecahan keramik dari zaman Tiongkok yang berumur ribuan tahun, kemudian benda-benda sejarah dari Persia, Eropa,dan prasasti-prasasti dari India.

Semua barang-barang bukti sejarah tersebut sekarang`masih tersimpan dibagian Archehologi Departemen P dan K yang kini berada di Kelurahan Batugerigis Barus ( Museum sementara barus ). Penemuan-penemuan para Arkeolog Perancis dan Indonesia berupa bukti-bukti sejarah tersebut menunjukkan bahwa Barus telah terkenal keseluruh dunia sejak ribuan tahun yang lalu dan telah ada hubungan perdagangan yang luas dengan Negeri-Negeri Tiongkok , Arab, Eropa, Mesir Kuno, Madagaskar dan Sailan  ( Buku Barus satu Abad ).

Pelaut Indonesia telah berlayar ke seantero dunia 6000 tahun yang lalu memperdagangkan Kapur Barus dan lain-lain yang menyebut nya bangsa ini Oceania. Buku - buku Yunani " Priplous Tes Arithas " yang di tulis pada tahun 70 Masehi, menyatakan bahwa orang-orang India dan Yunani telah berdagang sampai ke Crisye Chersonesos ( Barus dan Labu Tua ).

Cerita Dewa ruci di Jawa , cerita ini lebih dulu ada di Yunani dan Babylonia dari cerita Gilgamesh masuk melalui Mahonyedaro pada kerajaan Dempo, Palembang sekarang. 3000 tahun yang lalu atau 1000 tahun Sebelum Masehi , oleh Nabi Sulaiman telah menyuruh rakyat nya berlayar ke Ophir ( Barus ) 3 X dalam setahun, berdagang rempah-rempah di Liang Gorga yang terletak di Desa Sibintang Barus, ada aksara Hindu Kuno , orang-orang Yunani dan India telah datang berdagang ke Cryse Chersnesos yang tidak lain adalah Barus.

            
BARUS GERBANG RAYA PINTU MASUK NYA AGAMA ISLAM KE INDONESIA.

Abad Pertama Hijriah, Islam telah masuk ke Barus ( 48 H ), pada zaman Khulafaurrasyidin yang di pimpin oleh Khalifah Syaidina Abubakar Siddiq, Umar Ibnul Khothob, Usman dan Sayyidina Ali r.a dalam kitab " Sejarah Melayu "  di sebutkan Tuan Syeikh Ismail dari Mekkah yang belum tahu jalan ke Pessei ( Passai ) singgah di Barus, dengan route via Saylon, membawa Al Qur'anul Karim ".
           
Orang Cina IT Sang, pada zaman Dinasty Tang datang ke Barus, menemukan telah banyak orang Arab. Pelaut Cina berjumpa dengan kolony Arab di Pantai Barat Sumatera tepat nya di Kota Barus. Sarjana Cina Hsuan Sang dari Koang Cu, pada zaman Dinasty Tang berlayar keselatan melalui Kucing ke Sriwijaya, Tulang Bawang, tembus ke Selat Sunda, ke Barus dan India.

     
Raja Sanjaya anak Sena, melakukan peperangan dengan Bali, Bima, Melayu, Kemir Keling, Cina, dan Barus. Barus pada waktu itu di  kuasai oleh seorang Ratu bergelar " Putri Runduk ". Pada tahun 844 Masehi pedagang-pedagang Siray dan Oman datang ke Barus. Pada tahun 850-900 Masehi kerajaan Syailendra, yang menaklukan negeri Barus dan menamakan nya Fansur atau Kalasapura.

Pada tahun 1127-1152 Masehi kerajaan Jayadana dengan Ratu nya dapat di tawan Raja Janggi ( Janggala ) kemudian berdiri lagi kerajaan Tuanku Raja Muda bertakhta di Labutua   ( Sekarang Desa Lobu Tua ) Barus dan mempunyai seorang Putri yang bernama Andam Dewi ( Kecamatan Andam Dewi ) yang terkenal karena kecantikan nya sampai ke Negeri Madagaskar/Afrika.

Oleh Kerajaan Marina di Madagaskar dengan bendera Merah Putih dan mempunyai lambang Garuda, ingin mempersunting Putri Andam Dewi, tetapi di tolak Raja Muda. Kerajaan ini menyerang Negeri Barus ( Fansur ) dengan terkenal nya Barus di sambar Garudo ( Garuda ) yang berkepala Tujuh. Cerita Legenda ini menjadi terkenal di masyarakat Barus sampai turun temurun.

Pada waktu itu hampir sebagian orang melarikan diri ke tanah Karo dengan Marga Barus serta Brahmana sekarang. Oleh Paman Andam Dewi bernama Sultan Gambang Patuanan, dapat membunuh burung Garuda dan satu kepala nya jatuh di Aek Busuk ( Sungai Aek Busuk di Kecamatan Andam Dewi )

Makam-makam tua banyak terdapat di Barus dan Batu Ping. Orang-orang yang yang bermakam ditempat tersebut adalah orang-orang yang membawa ajaran Agama Islam dan pendiri istana kecil serta pengikut nya ( Makam Mahligai ) dan Makam Papan Tinggi Syeikh Mahmud Barus yang panjang makam tersebut mencapai 8 M dan Batu Nisan setinggi 1 M dan berdiameter 40 cm bertuliskan hurup Arab. Sementara Batu Ping adalah sebagai momen sejarah peperangan saat melawan penjajah Belanda.
Makam Papan Tinggi
Makam Papan Tinggi Syeikh Mahmud Barus berada di puncak bukit dengan menaiki anak tangga yang biasa di sebut Tangga Seribu. Photo: Amiruddin Dolok Saribu-Kader Konservasi Alam 
Sejarah berdiri nya Kota Sibolga tidak lepas dari sejarah Kota Barus sebagai pelabuhan untuk mengambil hasil alam " Kapur Barus ". Namun kebesaran nama Barus sebagai penghasil kapur Barus pada zaman dahulu kala telah lenyap oleh perkembangan zaman, padahal Kota Barus masih menyimpan pohon-pohon tersebut yang oleh masyarakat Barus menyebut nya kayu Kapur sebagai penghasil bahan baku ( getah ) untuk Kapur Barus sebagai bahan pengawet.

Juru Kunci atau Juru Pelihara ( Jupel ) Makam Syikh Mahmud Barus dan Makam Mahligai,(Baca:Makam Mahligai Makam Papan Tinggi) Zaharuddin Pasaribu  yang sudah bertugas selama 31 tahun mengatakan bahwa pohon Kapur sebagai penghasil Kapur barus masih ada tumbuh di wilayah pegunungan di Barus berharap kepada Pemerintah Kabupaten ( Pemkab ) Tapanuli Tengah agar pohon tersebut di  " budi daya " kan melalui Dinas kehutanan dan Perkebunan ( Dishutbun ) Tapteng.

" Mengingat sejarah Barus selayak nya pohon tersebut di budi daya kan agar kebesaran nama Barus tetap lestari dari generasi kegenerasi , " kata Zaharuddin Pasaribu beberapa waktu yang lalu.

Sekarang Kota barus hanyalah sebuah kota kecil yang tak bergairah secara ekonomi dan dinamika penduduk yang monoton. Hidup sebagai nelayan tradisional dan  petani serta penduduk nya banyak yang merantau. Bila kita singgah ke Kota Barus kita hanya akan melihat desa " biasa ".

Barus sebuah nama daerah terpencil di pesisir Pantai Barat Sumatera Utara. Tetapi, sejarah daerah ini sebenar nya sangat tua, setua ketika kapal-kapal asing beribu tahun yang lalu sebelum Sebelum Masehi singgah mencari kapur Barus disana. Dan puing-puing peninggalan besi tua pelabuhan tempo dulu di barus masih tertanam di tepi pantai Barus yang menghadap langsung ke Samudera Hindia. Dari Barus pula Agama Islam dan Kristen pertama-tama di perkenalkan ke seluruh Nusantara.

Barus atau biasa di sebut Fansur barang kali satu-satu nya kota di Nusantara yang nama nya telah di sebut sejak awal abad Masehi oleh literatur-literatur dalam berbagai bahasa seperti Bahasa Yunani, Siriah, Armenia, Arab, India, Tamil, China, Melayu dan Jawa.

Dipeta itu disebutkan, di pesisir Barat Sumatera terdapat sebuah Bandar Niaga bernama Barousai ( Barus ) yang menghasilkan wewangian adari Kapur Barus. Di ceritakan Kapur Barus yang di olah dari kayu Kamfer dari Barosai itu merupakan salah satu bahan pembalseman mayat pada zaman kekuasaan Fir'aun sejak Ramses II atau sekitar 5000 tahun SM. (Sumber Dinas Parawisata Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah).

Pada masa Kepemimpinan Bupati Tapanuli Tengah Raja Bonaran Situmeang sebelum tersandung KPK dengan Wakil Bupati nya Syukran Tanjung ysng kini menggantikan posisi Raja Bonaran Situmeang, sempat membawa Anggota Watimpres RI Prof. Dr. Hj. Meutia Hatta ke Barus dengan harapan dapat mengangkat potensi Tapanuli Tengah ke dunia internasional dengan menggadang-gadang Tapanuli Tengah berjulukan Negeri Wisata Sejuta Pesona dan menjadikan Barus sebagai kota religi namun sampai saat ini masih jalan di tempat (Baca:Apa Kabar Barus)

Berikut ini adalah photo dokumentasi saya di lapangan yang saya abadikan saat kunjungan ibu Prof. Dr. Hj. Meutia Hatta selaku putri proklamator RI di Barus 18/11/2011.
Bonaran Situmeang dan Prof Dr. Meutia Hatta
Bupati Tapanuli Tengah Raja Bonaran Situmeang dan Prof Dr. Meutia Hatta saat meninjau Makam Syeikh Barus Papan Tinggi. Photo: Amiruddin Dolok Saribu-Kader Konservasi Alam. 
Museum Barus-Ralif Sibagariang
Ralif Sibagariang, penjaga Museum sementara Barus. Photo: Amiruddin Dolok Saribu-Kader Konservasi Alam .

Museum Barus-Ralif Sibagariang
Ralif Sibagariang, penjaga Museum sementara Barus. Photo: Amiruddin Dolok Saribu-Kader Konservasi Alam. 

Museum Barus
Ralif Sibagariang, penjaga Museum sementara Barus dan Kadis Pariwisata Tapteng H. Budiman Ginting SH. Photo: Amiruddin Dolok Saribu-Kader Konservasi Alam. 
Tangga Seribu Papan Makam Tinggi Barus
Kadis Pariwisata Tapteng H. Budiman Ginting SH dan sekretaris Pariwisata Kabupaten Tapanuli Tengah Azrai M.Si.Photo: Amiruddin Dolok Saribu-Kader Konservasi Alam.  

Museum Barus
Museum Sementera Barus di Kelurahan Batu Gerigis Barus Tempat penyimpanan artifak-artifak sejarah Barus. Photo: Amiruddin Dolok Saribu-Kader Konservasi Alam. 

Museum Barus
Museum Sementera Barus di Kelurahan Batu Gerigis Barus Tempat penyimpanan artifak-artifak sejarah Barus. Photo: Amiruddin Dolok Saribu-Kader Konservasi Alam. 

Museum Barus
Museum Sementera Barus di Kelurahan Batu Gerigis Barus Tempat penyimpanan artifak-artifak sejarah Barus. Photo: Amiruddin Dolok Saribu-Kader Konservasi Alam. 
Tokoh Masyarakat Barus
Riwayat Barus tak pernah mati dari generasi ke generasi sebab Barus melengket dengan sejarah.   “ Barus adalah Kota tua, sekaligus kota sejarah dan sekaliguskota bertuah. Banyak kota-kota di dunia ini tapi akan tetapi tidak melengket dengan sejarah. Barus melengket dengan sejarah maka nya di kenang. Sekaligus berpadu dengan Tuah. Tuah Barus ini sungguh luar biasa. Banyak elemen-elemen dan kenyataan-kenyataan dalam hidup dan kehidupan kita dari masa dahulu sampai sekarang , “ kata DRS. H Habibuddin Pasaribu Tokoh Masyarakat Barus saat pidato nya di hadapan Bupati Tapanuli Tengah Raja Bonaran Situmeang SH MHum  dan Prof. Dr. Meutia Hatta anggota Dewan Pertimbangan Presiden ( Watimpres ) RI bidang Pendidikan Dan Kebudayaan pada kunjungan kerja nya di Barus Jum’at ( 18/11/2011 ). Photo: Amiruddin Dolok Saribu-Kader Konservasi Alam. 

Prof Dr. Meutia Hatta
" Tulislah sesuatu tentang Barus karena Barus ini bagian dari kebanggaan Nasional, dan juga Jati Diri kita, identitas Nasional karena ini menunjukkan peradaban Indonesia yang lama yang mungkin juga di lupakan orang. Bahkan mungkin bisa menjawab apakah masyarakat Bahari itu juga ada disini. Kita selalu berpikir Indonesia Timur, tapi mungkin disini juga ada. Apalagi disini memungkinkan ada pelabuhan dan sebagai nya. Ini harus ada klaim budaya, tapi klaim budaya itu baru bisa di lakukan apabila sudah ada bukti-bukti yang cukup ". ( Amanat Prof Dr Meutia Hatta Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres ) RI Bidang Pendidikan dan Kebudayaan saat kunjungan kerja nya di Barus, Jum'at 18/11/2011)Photo: Amiruddin Dolok Saribu-Kader Konservasi Alam. 
Bonaran Situmeang
Bonaran Situmeang Bersama Prof Dr. Meutia Hatta  dan tokoh masyarakat Barus.Photo: Amiruddin Dolok Saribu-Kader Konservasi Alam.  
Prof Dr. H Dachniel Kmars Rektor STIKIP Barus
Prof Dr. H Dachniel Kmars Rektor STIKIP Barus. Photo: Amiruddin Dolok Saribu-Kader Konservasi Alam. 
Prof Dr. Meutia Hatta
Prof Dr. Meutia Hatta bersama Bonaran Situmeang serta tokoh masyarakat Barus. Photo: Amiruddin Dolok Saribu-Kader Konservasi Alam. 
Prof. Dr Meutia Hatta di Makam Mahligai
Bupati Tapanuli Tengah Raja Bonaran Situmeang dan Prof Dr. Meutia Hatta saat meninjau MakamMahligai Barus. Photo: Amiruddin Dolok Saribu-Kader Konservasi Alam. 
Prof. Dr. Meutia Hatta di Makam Mahligai
Prof Dr. Meutia Hatta saat meninjau Makam Mahligai Barus bersama Juru Pelihara Makam Mahligai Zaharuddin Pasaribu. Photo: Amiruddin Dolok Saribu-Kader Konservasi Alam. 
Makam Mahligai
Prof Dr. Sri Edi Swasono suami Meutia Hatta Pakar sejarah UII yang turut dalam rombongan Watimpres RI ketika meninjau Makam Mahligai. Photo: Amiruddin Dolok Saribu-Kader Konservasi Alam. 
Prof. Dr. Meutia hatta
Bupati Tapanuli Tengah Raja Bonaran Situmeang dan Prof Dr. Meutia Hatta saat meninjau MakamMahligai Barus. Photo: Amiruddin Dolok Saribu-Kader Konservasi Alam. 
Prof. Dr. Meutia hatta
Bupati Tapanuli Tengah Raja Bonaran Situmeang dan Prof Dr. Meutia Hatta saat meninjau MakamMahligai Barus. Photo: Amiruddin Dolok Saribu-Kader Konservasi Alam. 
Prof. Dr. Meutia hatta

Bupati Tapanuli Tengah Raja Bonaran Situmeang dan Prof Dr. Meutia Hatta saat meninjau MakamMahligai Barus. Photo: Amiruddin Dolok Saribu-Kader Konservasi Alam. 
Tokoh Masyarakat Barus
DRS. H Habibuddin Pasaribu Tokoh Masyarakat Barus turut rombongan Watimpres di Makam Mahligai Barus. Photo: Amiruddin Dolok Saribu-Kader Konservasi Alam. 
Prof. Dr. Meutia Hatta
Prof Dr. Meutia Hatta dan Prof Dr. Sri Edi Swasono mebacakan Doa di Makam Mahligai Barus. Photo: Amiruddin Dolok Saribu-Kader Konservasi Alam. 
Makam Mahligai Barus
Makam Mahligai Barus. Photo: Amiruddin Dolok Saribu-Kader Konservasi Alam. 

Bupati Tapanuli Tengah Raja Bonaran Situmeang dan Prof Dr. Meutia Hatta saat meninjau Makam Mahligai Barus. Photo: Amiruddin Dolok Saribu-Kader Konservasi Alam. 
Bonaron Situmeang-Prof. Dr Meutia Hatta
Bupati Tapanuli Tengah Raja Bonaran Situmeang dan Prof Dr. Meutia Hatta saat meninjau MakamMahligai Barus. Photo: Amiruddin Dolok Saribu-Kader Konservasi Alam. 
Rombongan Prof. Dr. Meutia Hatta
Bupati Tapanuli Tengah Raja Bonaran Situmeang dan Prof Dr. Meutia Hatta saat meninjau MakamMahligai Barus. Photo: Amiruddin Dolok Saribu-Kader Konservasi Alam. 

Makam Mahligai Barus
Bupati Tapteng Raja Bonaran Situmeang bersma tokoh masyarakat Barus di Makam Mahligai Barus. Photo: Amiruddin Dolok Saribu-Kader Konservasi Alam. 

Makam Mahligai Barus
Bupati Tapteng Raja Bonaran Situmeang bersama DRS H .Habibuddin Pasaribu dan tokoh masyarakat Barus di Makam Mahligai Barus. Photo: Amiruddin Dolok Saribu-Kader Konservasi Alam. 
Makam Mahligai Barus
Makam Mahligai Barus.Photo: Amiruddin Dolok Saribu-Kader Konservasi Alam.   Baca: Barus Kota Bertuah
Makam Mahligai Barus
Bupati Tapanuli Tengah Raja Bonaran Situmeang dan Prof Dr. Meutia Hatta saat meninjau MakamMahligai Barus. Photo: Amiruddin Dolok Saribu-Kader Konservasi Alam. 
Makam Mahligai Barus
Bupati Tapanuli Tengah Raja Bonaran Situmeang dan Prof Dr. Meutia Hatta saat meninjau MakamMahligai Barus. Photo: Amiruddin Dolok Saribu-Kader Konservasi Alam. 
Makam Mahligai Barus
 Khottob Nasution Wartawan Metro TV di Makam Mahligai Barus. Photo: Amiruddin Dolok Saribu-Kader Konservasi Alam. 

Makam Mahligai Barus
 I am in Makam Mahligai Barus. Photo: Amiruddin Dolok Saribu-Kader Konservasi Alam. 
Makam Mahligai Barus
Makam Mahligai Barus. Photo: Amiruddin Dolok Saribu-Kader Konservasi Alam. 
 Sumur Nomensen di Barus
Bupati Tapanuli Tengah Raja Bonaran Situmeang dan Prof Dr. Meutia Hatta saat meninjau Sumur Nomensen di Barus. Photo: Amiruddin Dolok Saribu-Kader Konservasi Alam.   

Makam Papan Tinggi Barus
Prof Dr. Meutia Hatta dan Wakil Bupati Tapanuli Tengah H. Sukran Jamilan Tanjung di tangga Makam Syeik Mahmud Barus Papan Tinggi. Photo: Amiruddin Dolok Saribu-Kader Konservasi Alam. 

Makam Papan Tinggi
Kadis Pariwisata Tapteng H. Budiman Ginting SH dan sekretaris Pariwisata Kabupaten Tapanuli Tengah Azrai M.Si.Photo: Amiruddin Dolok Saribu-Kader Konservasi Alam.  
Tulisan ini saat perjalanan ku ke Tapanuli Tengah sambil berwisata dengan segala keindahan panorama pantai Samudera Hindia, Pantai Barat Tapanuli Tengah diantara nya Pantai Muara Kolang yang terkenal dengan julukan Negeri Wisata Sejuta Pesona equivalen Well Come to Negeri Wisata Sejuta Pesona. (Baca Juga:Peluang Dan Tantangan Tapteng Negeri Wisata Sejuta Pesona)

Hingga saat ini apakah museum Barus sudah terwujud secara permanen saya belum mengetahui secara pasti perlu berwisata kembali kesana untuk menuliskan secara detail sesuai fakta identifikasi lapangan. Insya Allah...namun beberapa Tokoh Masyarakat Barus saya sempatkan bertelevon menunggu saya ada waktu ke Tapanuli Tengah (Baca: Apa Kabar Barus. Berdasarkan keterangan beliau-beliu masih jalan di tempat. Seperti Pembangunan Museum Barus, Makam Mahligai, Makam Papan Tinggi masih seperti yang dulu.


Popular posts from this blog

BARUS KOTA BERTUAH MINIATUR DAN DIMENSI SPRITUAL DARI PUNCAK MAKAM PAPAN TINGGI

Makam Tuan Syeikh Mahmud Barus di Papan Tinggi Desa Pananggahan, Kec. Barus Utara, Kabupaten Tapanuli Tengah-Sumut, sebagai Pembawa Syiar Agama Islam di Indonesia. Dari atas puncak Papan Tinggi atau yang biasa di sebut masyarakat setempat dengan sebutan Tompat atau Tangga Seribu menyimpan dimensi spritual yang tersembunyi. Dari atas terlihat hamparan pemukiman kota Barus dengan bentangan  samudera Hindia sebagai gerbang masuk nya Agama Kristen dan Islam di Indonesia dengan kekayaan Sumber Daya Alam ( SDA ) yang pada zaman itu yakni kapur barus. (Baca : Rekam Jejak Barus)

MENGUNGKAP MISTERI PATUNG SI GANAGANA GONTING MALAHA YANG KINI TELAH HILANG

Tim Inventarisasi Situs Sejarah dan Cagar Budaya Kabupaten Asahan yang dibentuk Bupati Asahan, Drs. H. Taufan Gama Simatupang, MAP, melalui SK 204-Porbud/2011, tanggal  31 Mei 2011 telah  berhasil menyingkap misteri Situs Sejarah penting yang selama ini tersembunyi dari perhatian publik. Namun misteri tersebut juga telah lenyap dengan hilang nya keberadaan patung Siganagana 5 tahun silam tidak berapa lama setelah Tim Inventarisir mengungkapkan nya.

Munas VI Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) 2017 TN Baluran

TN Baluran (Kader Konservasi Alam)

Usai kegiatan Jambore Nasional Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 8-10 Agustus di Taman Nasional (TN) Baluran, Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur, Baca; Jambore Nasional HKAN 2017 Seluruh jajaran pengurus FK3I Provinsi se-Indonesia bersama Kader Konservasi Alam (KKA) melakukan Musyawarah Nasional (Munas) ke-VI 11-12 Agustus 2017 di Taman Nasional Baluran, Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur untuk menentukan pengurus periode 2017-2022. Sesuai dengan tema HKAN 2017 Konservasi ALam Konservasi Kita.hingga tingkat tapak.

Bara JP Tapteng Dikukuhkan, Mantan Trio KPUD Turut Bidani.

Tapanuli Tengah, Sumatera Utara-Kader Konservasi Alam (KKA)  Pasca terbit nya Surat Keputusan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Barisan Relawan Jokowi Presiden (Bara JP) No. 043/K-Wil/DPP/Bara JPresiden/IX/2017 tanggal 7 September 2017 oleh Ketua Umum DPP Bara JP Sihol Manulang dalam satu poin nya Menugaskan Kabul Lumban Tobing (sebagai Koordinator), Adrin Ndraha dan Nursarifah Sitompul (sebagai Anggota) untuk menjalankan roda organisasi Barisan Relawan Jokowi Presiden Tapanuli Tengah secara kolektif kolegial selaku Caretaker Dewan Pengurus Cabang (DPC) Barisan Relawan Jokowi Presiden Tapanuli Tengah serta mempersiapkan dan melaksanakan Konferensi Cabang Luar Biasa DPC BaraJP Tapanuli Tengah selambatnya dalam tempo 60 (enampuluh) hari untuk memilih dan menetapkan Pengurus Definitif Barisan Relawan Jokowi Presiden Tapanuli Tengah. 

Pertamina TBBM I Kisaran Konservasi Mangrove Asahan

ASAHAN, metro24jam.com – Berangkat dari fungsi sebagai penjaga garis pantai dari abrasi dan terjangan tsunami, yang melatarbelakangi dilakukannya kegiatan penanaman pohon Mangrove sebanyak 48.000 pohon Mangrove atau seluas 12 Ha di Desa Silau Baru, Kecamatan Silau Laut, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, Selasa (13/12/2017).