Skip to main content

Kerusakan Hutan Lindung Berdampak Banjir Di Asahan.

Banjir Kiriman dari luapan Sungai Silau  sering melanda Warga Desa Prapat Janji, Pulau Mandi dan Sei Silau Selasa, 19/2/2013 Foto Amir Dolok Saribu/Sudirman Marpaung.

Jembatan Tomuan Holbung Longsor ditinjau oleh Kapolsek Bandar Pasir Mandoge AKP Sendimen Purba dan Kapolhut Asahan TR. Nainggolan SH Selasa, ( 19/2/2013 )
Powered by Telkomsel BlackBerry®Foto: Amiruddin Dolok Saribu.

Kisaran.

        Kerusakan Hutan Lindung Tormatutung Asahan, Provinsi Sumatera Utara,belakangan ini berdampak  sering terjadi nya  banjir kiriman seperti di pemukiman bantaran Sungai Silau. Paktor penyebab banjir tersebut dipicu kerusakan Hutan Lindung Tormatutung akibat perambahan liar di Kecamatan Bandar Pasir Mandoge, selain itu telah beroperasi PT. Toba Pulp Lestari ( TPL ) di Desa Tomuan Holbung, Kecamatan Bandar Pasir Mandoge, Kabupaten Asahan walau mereka memiliki izin HPH.


“Sejak PT. TPL beroperasi di Desa Tomuan Holbung seringkali Sungai Silau meluap dan jembatan Tomuan Holbung di atas Sungai Silau juga longsor,”kata S. Manurung, warga Desa Tomuan Holbung, Selasa ( 19/2/2013).

        “Memang HPH PT. TPL ada tapi pihak Dishutbun Asahan telah melayangkan surat ke Menhut RI agar HPH PT. TPL di tinjau ulang sebab Hulu Sungai Silau tempat beroperasi nya PT. TPL  mengalir membelah kota Kisaran,”kata Kapolhut Asahan TR. Nainggolan saat meninjau longsor Jembatan Tomuan Holbung sekaligus meninjau kerusakan Hutan Lindung Tormatutung Asahan di Tomuan Holbung.

          Akibat degradasi dan deforestasi hutan Tormatutung  meningkat tajam, banjir kiriman sering melanda  warga Desa Prapat Janji, Sungai Silau dan Pulau Mandi.
“Gawat kami, menjadi langganan banjir tidak pernah-pernah nya seperti ini,”kata Sukardi warga Desa Prapat Janji.

           Di ketahui  Fungsi Hutan Lindung tidak boleh berobah status nya dan kelestarian nya harus terjaga  sesuai yang di amanatkan dalam UU No. 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan, yakni Hutan lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah.

           “Hutan lindung (protection forest) adalah kawasan hutan yang telah ditetapkan oleh pemerintah atau kelompok masyarakat tertentu untuk dilindungi, agar fungsi-fungsi ekologisnya, terutama menyangkut tata air dan kesuburan tanah, tetap dapat berjalan dan dinikmati manfaatnya oleh masyarakat di sekitarnya,”kata Faisal Khairo aktifis lingkungan Asahan, Rabu (20/2/2013). Isu Hutan Lindung Tormatutung, Sambung Faisal, di Bandar Pasir Mandoge, Bandar Pulau dan Aek Songsongan terdiri dari 3 bahagaian  sebagai degradasi dan deforestasi hutan yakni;
1. Perambahan liar.
2. Reboisasi yang tidak benar dan
3. Pengrusakan DAS/illegalogging.

          Menanggapi kerusakan Hutan Lindung Tormatutung Asahan Faizal mengajak seluruh elemen masyarakat agar  menjadi perhatian serius oleh seluruh stakeholder terutama peran masyarakat penyangga hutan.

          “Kalau Polhut Asahan saja untuk menjaga stabilitas Hutan Lindung Tormatutung jelas tidak mampu melainkan Pemkab Asahan dan seluruh elemen masyarakat  harus duduk bersama dalam menyikapi kerusakan yang kian parah,”terang Faizal Khairo. Harus ada Komitmen, sambung Faizal, kita bersama dan perambahan harus di hentikan sebelum banjir bandang menggulung warga sebab kerusakan hutan Lindung Tormatutung tinggal menunggu bom waktu saja sementara Pohut dia Asahan cuma 8 orang padahal luasan Tormatutung puluhan ribu hektar yang terbentang mulai dari Kecamatan Bandar Pasir Mandoge, Bandar Pulau, dan Kecamatan Aek Songsongan, hal yang mustahil jika tidak kita tanggulangi bersama.

          Hal serupa juga dilontarkan oleh Direktur Executive Walhi Sumut  Kusnaidi bahwa kerusakan hutan lindung Tormatutung harus menjadi perhatian serius.

           “Pemerintah dan seluruh elemen masyarakat harus duduk bersama dalam menyikapi kerusakan Hutan Tormatutung sebelum bencana besar menimpa kita,”kata Kusnaidi saat dihubungi via selular. ( d01 )

Popular posts from this blog

Pancur Napitu Merah Putih Alur Danau Toba dan Legenda Sisingamangaraja

Pancur Napitu di temukan pada tahun 1833 oleh sekelompok masyarakat Batak saat membuka perkampungan Parhutaan Maria Gunung di Dusun I, Desa Gunung Berkat, Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara. Pancur Napitu arti nya 7 sumber mata air yang keluar dari batu. Meskipun saat musim kemarau mata air tersebut tidak pernah kering dan bila saat musim  penghujan 7 mata air tersebut tetap mengeluarkan air yang jernih.

BARUS KOTA BERTUAH MINIATUR DAN DIMENSI SPRITUAL DARI PUNCAK MAKAM PAPAN TINGGI

Makam Tuan Syeikh Mahmud Barus di Papan Tinggi Desa Pananggahan, Kec. Barus Utara, Kabupaten Tapanuli Tengah-Sumut, sebagai Pembawa Syiar Agama Islam di Indonesia. Dari atas puncak Papan Tinggi atau yang biasa di sebut masyarakat setempat dengan sebutan Tompat atau Tangga Seribu menyimpan dimensi spritual yang tersembunyi. Dari atas terlihat hamparan pemukiman kota Barus dengan bentangan  samudera Hindia sebagai gerbang masuk nya Agama Kristen dan Islam di Indonesia dengan kekayaan Sumber Daya Alam ( SDA ) yang pada zaman itu yakni kapur barus. (Baca : Rekam Jejak Barus)

REKAM JEJAK BARUS

Pesan Prof Dr. Meutia Hatta kepada Wartawan ( Pers )
" Tulislah sesuatu tentang Barus karena Barus ini bagian dari kebanggaan Nasional, dan juga Jati Diri kita, identitas Nasional karena ini menunjukkan peradaban Indonesia yang lama yang mungkin juga di lupakan orang. Bahkan mungkin bisa menjawab apakah masyarakat Bahari itu juga ada disini. Kita selalu berpikir Indonesia Timur, tapi mungkin disini juga ada. Apalagi disini memungkinkan ada pelabuhan dan sebagai nya. Ini harus ada klaim budaya, tapi klaim budaya itu baru bisa di lakukan apabila sudah ada bukti-bukti yang cukup. Jadi saya kira wartawan juga ikut mendorong . Tapi tolong juga di ingat kan karena wartawan itu ( Pers ) juga mempunyai pungsi mendidik Bangsa. Jadi tolonglah sifat " Tak Kenal Maka Tak Sayang " itu hilang dari perasaan terutama anak-anak muda kita yang duduk di SD sampai dengan Perguruan Tinggi. Jadi saya kira itu harapan saya bagi pers. Mari Pers ikut mendidik Bangsa". ( Amanat Pr…

Tugu Perjuangan Bandar Pulau 'Susah di kenang senang di lupakan'

Tungu Perjuangan Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara, merupakan bukti sejarah sebagai Pengibar pertama sangsaka Merah Putih di Asahan. Bandar pulau akan selalu di kenang, banyak putera-putri Bandar Pulau yang sudah berhasil di luar daerah, jadi apabila melihat photo ini pasti akan terkenang dengan Kampung halaman nya.

MENGUNGKAP MISTERI PATUNG SI GANAGANA GONTING MALAHA YANG KINI TELAH HILANG

Tim Inventarisasi Situs Sejarah dan Cagar Budaya Kabupaten Asahan yang dibentuk Bupati Asahan, Drs. H. Taufan Gama Simatupang, MAP, melalui SK 204-Porbud/2011, tanggal  31 Mei 2011 telah  berhasil menyingkap misteri Situs Sejarah penting yang selama ini tersembunyi dari perhatian publik. Namun misteri tersebut juga telah lenyap dengan hilang nya keberadaan patung Siganagana 5 tahun silam tidak berapa lama setelah Tim Inventarisir mengungkapkan nya.