Skip to main content

Tugu Perjuangan Bandar Pulau 'Susah di kenang senang di lupakan'


Pengibar Sangsaka Merah Putih Pertama Di Asahan
Tugu Perjuangan Rakyat Bandar Pulau. Photo Amiruddin Dolok Saribu Kader KOnservasi Alam
Tungu Perjuangan Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara, merupakan bukti sejarah sebagai Pengibar pertama sangsaka Merah Putih di Asahan. Bandar pulau akan selalu di kenang, banyak putera-putri Bandar Pulau yang sudah berhasil di luar daerah, jadi apabila melihat photo ini pasti akan terkenang dengan Kampung halaman nya.

Dalam catatan sejarah Bandar Pulau merupaksn eks keresidenan Asahan dan pernah tercatat tempat percetakan mata uang kala itu. Bandar Pulau basis gerilyawan pejuang kemerdekaan Repoblik Indonesia, seperti yang di tutukan oleh salah seorang tokoh masyarakat H. Syeikh Ka'dam Sihombing tetangga saya. 

"Dahulu saya menjabat sebagai Pemuda Pagar Desa (PD) dan saya bertugas menghantar makanan para pejuang didalam hutan," kata nya menuturkan, Sabtu 22/8/2015.

Abdullah Heteng, lanjut nya, Abdul Manan Lubis, Usman YS, Ubah Batu Bara dan Usman Janggut mereka adalah pejuang-pejuang gerliyawan Repoblik Indonesia yang pernah bermukim di Bandar Pulau, dan basis pergerakan nya di Desa Gonting Malaha pada masa itu masih hutan kampung saya itu.

"Tapi apalah mau di kata, sampai sekarang Desa Gonting Malaha umum nya Kecamatan Bandar Pulau belum sepenuh nya merdeka sebab jalan saja sampai sekarang tidak pernah mendapat aspal,"keluh Syeikh Ka'dam. Tapi, sambung nya, setiap pemilihan kepala daerah atau sejenis nya semua mereka datang kemari dengan segala janji.

"Bandar Pulau ini susah nya aja di kenang senang di lupakan,"kata Syeih Ka'dam. Padahal Bandar Pulau ini merupakan tempat sejarah dan merpakan eks keresidenan serta dahulu nya tempat percetakan mata uang.

Dalam perjalanan dan pantauan saya memang Desa Gonting Malaha belum pernah mendapat aspal sejak Indonesia merdeka, begitu juga Desa Gajah Sakti, Desa Buntu Maraja dan Desa Huta Rau ysng nota bene wilayah pemerintahan Kecamatan Bandar Pulau. Demikian hal nya Desa Gunung Berkat. Semoga pemerintah dapat memberikan perhatiaan nya kepada Kecamatan Bandar Pulau khusus nya infra struktur jalan, sementara Indonesia ini madu segala zaman. 

Bandar Pulau di lintasi Sungai Asahan yang telah di pergunakan Jepang sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Sigura-gura peleburan aluminium Kuala Tanjung (Inalum), teramat kaya Indonesia ini.

Maka tidaklah heran jika masyarakat Bandar Pulau ingin mekar membentuk kabupaten baru yang kini tengah di usung oleh tim Gerakan Pemekaran Kabupaten Bandar Pulau (Gempala) yang di ketuai Khairum Khanapi Silalahi.
73 Tahun
Jalan Desa Gonting Malaha belum beraspal hingga saat ini. Photo Amiruddin Dolok Saribu Kader KOnservasi Alam

70 Tahun Tugu Perjuangan Bandar Pulau "Susah Di Kenang Senang Di Lupakan"

Popular posts from this blog

Pancur Napitu Merah Putih Alur Danau Toba dan Legenda Sisingamangaraja

Pancur Napitu di temukan pada tahun 1833 oleh sekelompok masyarakat Batak saat membuka perkampungan Parhutaan Maria Gunung di Dusun I, Desa Gunung Berkat, Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara. Pancur Napitu arti nya 7 sumber mata air yang keluar dari batu. Meskipun saat musim kemarau mata air tersebut tidak pernah kering dan bila saat musim  penghujan 7 mata air tersebut tetap mengeluarkan air yang jernih.

BARUS KOTA BERTUAH MINIATUR DAN DIMENSI SPRITUAL DARI PUNCAK MAKAM PAPAN TINGGI

Makam Tuan Syeikh Mahmud Barus di Papan Tinggi Desa Pananggahan, Kec. Barus Utara, Kabupaten Tapanuli Tengah-Sumut, sebagai Pembawa Syiar Agama Islam di Indonesia. Dari atas puncak Papan Tinggi atau yang biasa di sebut masyarakat setempat dengan sebutan Tompat atau Tangga Seribu menyimpan dimensi spritual yang tersembunyi. Dari atas terlihat hamparan pemukiman kota Barus dengan bentangan  samudera Hindia sebagai gerbang masuk nya Agama Kristen dan Islam di Indonesia dengan kekayaan Sumber Daya Alam ( SDA ) yang pada zaman itu yakni kapur barus. (Baca : Rekam Jejak Barus)

Tugu Titik Nol Barus

BARUS, SUMUTPOS.CO –  Presiden Joko Widodo (Jokowi) didampingi Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Tengku Erry Nuradi meresmikan Tugu Titik Nol Islam Nusantara yang terletak dipinggir pantai Barat Sumatera di Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara, Jumat (24/03/2017).
Hadir juga  Ketua Umum DPP Jam’iyah Batak Muslim Indonesia (JBMI) Syekh KH Ali Akbar Marbun, Sekjen DPP JBMI Arif R Marbun, Ketua DPW JBMI Sumut  Aidan Nazwir Panggabean, tokoh agama, tokoh masyarakat, mantan Ketua DPR RI Akbar Tanjung, sejumlah menteri, FKPD Provsu, Tapanuli Tengah dan undangan. Peresmian ditandai dengan penandatangan prasasti, menekan tombol sirine dan peninjauan lokasi oleh Presiden Jokowi. Tugu (Monumen) ini memiliki tiga tiang penyangga bola dunia ini memiliki filosofi adat Batak yang menjadi kearifan lokal masyarakat adalah Adat Dalihan Na Tolu.

WISATA ALAM PEMANDIAN AEK SAKKUR

Wisata alam Pemandian Aek Sakkur terletak Di Dusun I, Desa Gonting Malaha, Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara-Indonesia 21274. Setiap hari-hari besar tempat ini ramai di kunjungi oleh wisatawan setempat, meski bersifat lokal namun tempat dan suasana nya dapat mempertemukan dan berkumpul nya kerbat dan sanak saudara dari berbagai belahan penjuru.