Skip to main content

HKm Tormatutung Potensi Hasilkan Kayu Kaliandra

Pendataan Kelompok Tani Hkm Tormatutung
Pendataan Kelompok Tani Hutan (KTH) Hutan Kemasyarakatan (HKm) di Tormatutung
Sejak di usung program Hutan Kemasyarakatan (HKm) pada  tahun 2010 di Desa Huta Rau, Desa Aek Nagali dan Desa Gunung Berkat, Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Asahan maka Kabupaten Asahan telah  mencanangkan program Hutan Kemasyarakatan (HKm) di 3 (Tiga) desa tersebut sesuai dengan  Peraturan Menteri Kehutan (Permenhut) RI Nomor : P. 37/Menhut-II/2007 Tentang Hutan Kemasyarakatan.

Adapun luas areal pencadangan HKm di 3 (Tiga) desa tersebut seluas ± 4200 ha di dalam kawasan hutan lindung Tormatutung Asahan register 1/A Kecamatan Bandar Pulau. Meski ada 3 Kecamatan yakni Kecamatan Bandar Pulau, Kecamatan Aek Songsongan dan Kecamatan Bandar Pasir Mandoge, Kabupaten Asasahan berada di kaki pegunungan Bukit Barisan Hutan Lindung Tormatutung namun hanya Kecamatan Bandar Pulau yang mengusung program HKm.

"Sesuai dengan arahan Dishutbun Asahan hanya program HKm yang dapat melegalkan masyarakat perambah atau masyarakat sempadan hutan Tormatutung untuk menduduki kawasan hutan lindung di Kecamatan Bandar Pulau,"kata Saudi Kepala Desa Huta Rao, Senin 28/9/2015.

Dan sebagai, sambung Saudi, tindak lanjut HKm yang kami usung sejak 2010 hingga sekarang masih dalam tahapan pengurusan Izin Usaha Pemanfaatan Hutan Kemasyarakatan (IUPHKm) sekalian sambil berjalan mencari maupun melobi pihak-pihak investor.

"Mudah-mudahan saja dengan lobi-lobi yang kami bangun dapat meyakinkan pihak investor agar program HKm ini secepat nya terwujud, sebab luasan HKm tersebut mencapai ±4200 ha yang apabila di kelola bersama investor akan  di tanami dengan jenis pohon Kaliandra merah sehingga dapat menambah nilai perekonomian warga,"ujar  Saudi
Tim Perifikasi HKm Kemenhut RI
Tim Perifikasi Kementerian Kehutanan RI untuk KTH HKm  Tormatutung Desa Aek Nagali-Desa Huta Raudan Desa Gunung Berkat
                                       
Berdasarkan pakta identifikasi lapangan oleh penulis bersama Jaringan Wahana Rimbawan (Jawara) Asahan,  yang di mulai sejak tahun 2006 hingga sejak tahun 2010 sampai terbentuk nya beberapa Kelompok Tani Hutan (KTH) di kawasan hutan Tormatutung ribuan hektar kawasan hutan beralih fungsi dan di rambah beralih fungsi menjadi tanaman Kelapa Sawit. Dengan demikian  tata kelola hutan Tormatutung tidak terkendali sehingga menyebabkan deforestasi hutan.

Pada umum nya perambah hutan Tormatutung berkelompok menduduki kawasan hutan Tormatutung di jadikan perladangan dengan menanam Padi gunung maupun palawija. Setiap tahun terus dirambah dan rata-rata tiap perambah membuka kawasan hutan minimal ±2 ha atau biasa di sebut pancangan dimana satu pancang seluas 2 ha dan kawasan tersebut di rambah habis dan di bakar sehingga mematikan vegetasi hutan dan anak-anak sungai.

Sebagai kajian, setiap Kepala Keluarga (KK) setiap tahun membuka 2 ha saja di kali jumlah perambah tiap desa dan kecamatan sudah barang tentu setiap tahun berkurang kawasan Hutan Tormatutung minimal 500 atau mencapai 1000 ha. Maka kegiatan ilegal tersebut apabila tidak di antisipasi sejak dini maka lambat laut hutan lindung Tormatutung akan punah.

Salah satu memenej para perambah tersebut adalah pengawasan, penindakan terhadap perambah namun penindakan selalu menimbulkan konflik sosial di tengah masyarakat. Maka program HKm merupakan langkah-langkah yang dapat meminilalisir perambahan hutan dengan catatan para perambah yang telah terbentuk dalam sebuah KTH di edukasi oleh pemerintah.

Selain mengusung program HKm pemerintah juga harus melakukan penatabatasan kawasan hutan lindung Tormatutung dan mengukuhkan kawasan hutan lindung Tormatutung sejalan dengan pasca terbit nya SK 579/Menhut-II/2014 Tentang Penunjukan Kawasan Hutan Provinsi Sumatera Utara.
Pendataan HKm Gunung Berkat
Pendataan KTH HKm Gunung Berkat
Untuk menata masyarakat perambah dan mengelola ekosistem Tormatutung bernilai ekonomis dan berwawasan lingkungan yang berkelanjutan dengan tidak merubah fungsi kawasan hutan perlu di bentuk sebuah sistem dengan melibatkan masyarakat aktif penggarap hutan untuk membentuk Kelompok-Kelompok Tani Hutan (KTH) dengan pemberdayaan masyarakat sempadan hutan berbasis HKm.

Dengan terbentuk nya Kelompok-Kelompok Tani Hutan (KTH) maka program HKm di Desa Gunung Berkat, Huta Rao dan Aek Nagali secara bertahap mulai berproses hingga tahap perifikasi. Dan sampai sekarang para kepala desa bersama Dishutbun Asahan  terus berjibaku mencari peminat sebagai investor dan terus mengikuti tahapan perizinan mulai dari Izin Usaha Pemanfaatan Hutan Kemasyarakatan (IUPHKm) sampai ke jenjang Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Kemasyarakatan (IUPHHK HKm) untuk penanaman kayu Kaliandra. 
Semoga Sukses...Salam Lestari...Salam Rimbawan. SAVE TORMATUTUNG...

Baca Juga:
Temun Rimbawan Sumut 2014 Dan Kemah Bakti


Popular posts from this blog

BARUS KOTA BERTUAH MINIATUR DAN DIMENSI SPRITUAL DARI PUNCAK MAKAM PAPAN TINGGI

Makam Tuan Syeikh Mahmud Barus di Papan Tinggi Desa Pananggahan, Kec. Barus Utara, Kabupaten Tapanuli Tengah-Sumut, sebagai Pembawa Syiar Agama Islam di Indonesia. Dari atas puncak Papan Tinggi atau yang biasa di sebut masyarakat setempat dengan sebutan Tompat atau Tangga Seribu menyimpan dimensi spritual yang tersembunyi. Dari atas terlihat hamparan pemukiman kota Barus dengan bentangan  samudera Hindia sebagai gerbang masuk nya Agama Kristen dan Islam di Indonesia dengan kekayaan Sumber Daya Alam ( SDA ) yang pada zaman itu yakni kapur barus. (Baca : Rekam Jejak Barus)

Pancur Napitu Merah Putih Alur Danau Toba dan Legenda Sisingamangaraja

Pancur Napitu di temukan pada tahun 1833 oleh sekelompok masyarakat Batak saat membuka perkampungan Parhutaan Maria Gunung di Dusun I, Desa Gunung Berkat, Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara. Pancur Napitu arti nya 7 sumber mata air yang keluar dari batu. Meskipun saat musim kemarau mata air tersebut tidak pernah kering dan bila saat musim  penghujan 7 mata air tersebut tetap mengeluarkan air yang jernih.

SUNGAI ASAHAN DALAM MINIATUR PEMBENTUKAN KABUPATEN BANDAR PULAU YANG BAROKAH

Oleh: Amiruddin Dolok Saribu Alias Tombak Nagara
Sungai Asahan berasal dari Danau Toba Kabupaten Tobasa dengan melintasi pegunungan hutan lindung Tormatung Asahan mengalir dan membelah sejumlah desa-desa di Kabupaten Asahan, Tobasa dan bermuara ke Kota Madya Tanjung Balai membaur ke pantai laut Selat Malaka. Sungai Asahan merupakan kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) masyarakat Kabupaten Asahan, Sumatera Utara. Salah satu yang membuat Sungai Asahan mendunia karena sering menjadi tempat ajang perlombaan arum jeram bertaraf international. Namun sejak di bangun nya PLTA Asahan III arung jeram sudah tidak terdengar lagi kabar nya.

Tugu Perjuangan Bandar Pulau 'Susah di kenang senang di lupakan'

Tungu Perjuangan Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara, merupakan bukti sejarah sebagai Pengibar pertama sangsaka Merah Putih di Asahan. Bandar pulau akan selalu di kenang, banyak putera-putri Bandar Pulau yang sudah berhasil di luar daerah, jadi apabila melihat photo ini pasti akan terkenang dengan Kampung halaman nya.

MENGUNGKAP MISTERI PATUNG SI GANAGANA GONTING MALAHA YANG KINI TELAH HILANG

Tim Inventarisasi Situs Sejarah dan Cagar Budaya Kabupaten Asahan yang dibentuk Bupati Asahan, Drs. H. Taufan Gama Simatupang, MAP, melalui SK 204-Porbud/2011, tanggal  31 Mei 2011 telah  berhasil menyingkap misteri Situs Sejarah penting yang selama ini tersembunyi dari perhatian publik. Namun misteri tersebut juga telah lenyap dengan hilang nya keberadaan patung Siganagana 5 tahun silam tidak berapa lama setelah Tim Inventarisir mengungkapkan nya.