Skip to main content

INDONESIA MADU SEGALA ZAMAN

INDONESIA MADU SEGALA ZAMAN
I LOVE U INDONESIA
 Indonesia Madu Segala Zaman (tom24jam.blogspot.com)
Apa yang tidak ada di negeri kita yang terkasih dan tercinta ini serangkaian pulau-pulau dengan sebutan 'Indonesia Raya' atau 'Nusantara Raya' dengan ribuan pulau terbentang menjadi satu sehingga para nenek moyang kita menyematkan sebuah petuah untuk negeri Indonesia ini dengan sebuah ungkapan negeri 'gemah ripah loh jinawi'. Sehingga nyanyian Kolam Susu yang di lantunkan oleh Koesplus tak pelak lagi untuk negeri kita tercinta ini.


Ribuan pulau terbentang menjadi satu, tongkat kayu dan batu menjadi tanaman merupakan bagian bait dari lagu-lagu Koseplus yang tidak terbantahkan. Dari Sabang sampai Mereuke laut, darat, udara menghasilkan kekayaan yang tiada tara sehingga negeri Belanda betah menjajah negeri Indonesia sampai 350 tahun lama nya mengeruk rempah-rempah dan kekayaan bumi katulistiwa.


70 tahun Indonesia telah merdeka (17 Agustus 1945-17 Agustus 2015-red) sumber kekayaan alam nusantara tak kunjung ada habis-habis nya. Indonesia pun menjadi tujuan investor luar negeri. Seiring dengan perkembangan zaman dunia melaju kealam ilmu pengetahuan dan tekhnologi menjadi sarana para pebisnis lokal dan dunia melancarkan perdagangan bebas nya dengan segala produk-produk luar negeri membanjiri pangsa pasar Indonesia dan kebijakan-kebijakan lain yang saling sama-sama menguntungkan.

Hal tersebut di sebabkan dengan kekayaan bangsa ini baik dari segi Sumber Daya Alam (SDA) nya maupun kekayaan jumlah penduduk dan keragaman budaya maupun kerukunan ummat beragama di bawah panji-panji Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 membuat Indonesia ini sebagai tempat yang betah untuk di tinggali atau di singgahi karena ada sesuatu dan sesuatu itu adalah -'Indonesia Madu Segala Zaman'.

Saking geram nya anak-anak bangsa Indonesia melihat kekayaan Indonesia mereka saling berpacu untuk menata negeri ini melalui perpacuan khasanah negeri 'demokrasi'. Dari Sabang sampai Merauke bila telah jatuh musim pesta demokrasi wajah-wajah anak negeri menghiasi konstelasi nusantara dengan berbagai atribut ajang kompetensi mulai dari pemilihan presiden, legislatif dari tingkat pusat sampai daerah bahkan pemilihan sampai kepala RT/RW.

Kekayaan alam nusantara di bawah stambuk Negara Kesatuan Repoblik Indonesia (NKRI) merupakan anugerah yang tiada tara, sebut saja mulai dari emas, intan, batu mulia, minyak bumi, gas alam, plutonium, tembaga, besi sampai dari ketingkat tanaman ganja dan bayam dan kangkung sekalipun menjadi khasanah kekayaan negeri ini.

Kemana kita melangkah menghadap kan wajah kita ke tiap penjuru nusantara disitu ada madu Indonesia yang tiada habis-habis nya untuk kita reguk bersama dan menjadi obat bagi masyarakat luas dalam bingkai kesejahteraan bagi hajat hidup orang banyak yang di kuasai oleh negara untuk di pergunakan kepada kepentingan bersama secara berkeadilan dan berkesinambungan.

Madu Indonesia dari segala zaman ini menjadi milik rakyat Indonesia di kelola oleh pemerintah di atur sesuai perundang-undangan untuk kemaslahatan ummat dan apabila ada kata kemiskinan kita jumpai bukanlah kata yang tepat untuk negeri ini melainkan madu tersebut masih mengental atau terhenti di suatu tempat saja. Oleh karena nya pemimpin bangsa ini maupun rakyat nya dapat bekerja sama, bergotong royong membagi-bagikan madu tersebut secara berkeadilan dan berkesinambungan dengan kecakapan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. 

Putera-Putera Bangsa menjadi menjadi kewalahan membagi-membagi madu tersebut melaui program dan Sistim Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) di karenakan madu-madu nusantara tersebut tiada habis-habis nya, di samping kewalahan untuk membagi-bagikan nya di karenakan banyak juga yang saling berebut dalam memperoleh madu-madu nusantara tersebut kadang ada juga mempegunakan kesempatan lain masuk ke kantong celana dalam nya sendiri sehingga yang lain tiada kebagian dan lama sekali antri menunggu nya. Belum lagi banyak nya burung Elang beterbangan di langit mengincar madu-madu tersebut di karenakan burung elang paling suka menyambar sarang-sarang madu lebah dan mereguk nya sendiri dan tak kalah penting nya mereka saling bermanuver merebut nya melalui jalur spekulasi, konsfirasi dan korupsi. 

Pun demikian madu tersebut tiada habis-habis nya dan lebah-lebah terus memproduksi nya secara automatis dengan akibat mata rantai alam semesta raya yang kaya dengan berbagai zat dan saripati atau mikro organismes pengaya nusantara. Meski hutan-hutan di tebangi beralih fungsi, peternak lebah terus membudi dayakan nya untuk menghasilkan madu yang tidak kalah rasa dan manfaat nya dengan madu lebah hutan. Artinya, dari sudut bagaimanapun bertransformasi Indonesia tetap menghasilkan madu segala zaman dan tiada henti-henti nya. 

Jika sudah demikian Indonesia ini bukanlah negeri sembarangan, Allah Swt, Tuhan yang Maha Kuasa, telah menganugerahkan kita sebuah negeri yang gemah ripah warisan para nenek moyang kita para pemegang 'bambu runcing' pejuang kemerdekaan Repoblik Indonesia, merebut dari tangan penjajahan. Ini semua harus kita jaga bersama dari intaian para pemangsa hewan predator Elang. Dan tak kalah penting nya madu tersebut harus benar-benar menjadi obat bagi rakyat Indonesia secara berkeadilan, sejahtera, dan merata.

Allah Swt telah memberi nikmat dan berkat kepada negeri ini, bahkan kemerdekaan Indonseia sendiripun adalah berkat rahmat Allah Swt dan dari keinginan luhur para pemegang bambu runcing dengan pergerakan gerilyawan pejuang-pejuang kemerdekaan Indonesia. Patutlah kita bercermin, bukan mengeruk seenak nya tanpa tahu balas jasa, karena harta pusaka Indonesia begitu dahsyat nya sebai lumbung-lumbung madu segala zaman.

Dunia telah melaju ke alam yang lebih tinggi dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, siapa yang menguasai tekhnologi akan menguasai dunia. Ilmu pengetahuan memuncak setinggi-tinggi nya, deras nya arus informasi melengket dengan dunia ilmu pengetahuan membuat Indonesia ini menjadi mercusuar dunia. Negara-negara lain menjadi 'ngences' ingin berbagi madu tersebut dengan membeli maupun barter ilmu pengetahuan dan barter berjenis lain nya dengan kesamaan pandangan saling memberi keuntungan.

Menggumpal nya madu Indonesia menimbulkan jalinan kerja sama perdagangan luar negeri di bentuk melalui ASEAN, dan pasar global atupun kerjasama ekonomi bilateral maupun internasional. Himpunan-Himpunan cendikiawan Indonesia atau para mahasiswa dan berbagai stakeholder membuat terobosan-terobosan untuk memasarkan kekayaan bangsa dengan dalil kemakmuran.

Kerjasama ekonomi, pendidikan, budaya dan lain sebagai nya menjadi pekerjaan rumah bangsa untuk di salurkan dengan tepat kepada ummat meskipun yang punya 'gawe' kadang lebih paling banyak menikmati nya di banding dengan pemandangan yang kadang memilukan kita lihat seperti di bawah lampu-lampu merah, kolong jembatan dan bantaran-bantaran sungai kadang menyesakan dada. Tapi apa boleh buat itulah relaita. 

Ruang udara dengan getaran ultrasonor nya telah menghasilkan kekayaan tiada tara, melalui jalur signal-signal telah membanjiri Indonesia dari barbagai merk dengan produk-produk di segala lini dan konstelasi pasar menjadikan Indonesia sebagai tempat yang nyaman untuk di huni. Dan hasil nya tiada terhitung dan itu merupakan sebuah kemajuan tekhnologi menjadi lumbung-lumbung madu yang tiada henti dan habis nya yang dapat di salurkan kepada kemakmuran bangsa dan negeri ini. Indonesia Madu Segala Zaman tiada hentinya, seperti tulisan ini akan tiada henti nya sampai akhir menutup mata.
SALAM INDONESIA RAYA

Mohon maaf pembaca belum ada infirasi baru dan tulisan nya suka-suka dan apa ada nya sesuai dengan kesempatan saja dan yang ada di kepala. 
INDONESIA MADU SEGALA ZAMAN
I LOVE U INDONESIA
                                                 

Popular posts from this blog

BARUS KOTA BERTUAH MINIATUR DAN DIMENSI SPRITUAL DARI PUNCAK MAKAM PAPAN TINGGI

Makam Tuan Syeikh Mahmud Barus di Papan Tinggi Desa Pananggahan, Kec. Barus Utara, Kabupaten Tapanuli Tengah-Sumut, sebagai Pembawa Syiar Agama Islam di Indonesia. Dari atas puncak Papan Tinggi atau yang biasa di sebut masyarakat setempat dengan sebutan Tompat atau Tangga Seribu menyimpan dimensi spritual yang tersembunyi. Dari atas terlihat hamparan pemukiman kota Barus dengan bentangan  samudera Hindia sebagai gerbang masuk nya Agama Kristen dan Islam di Indonesia dengan kekayaan Sumber Daya Alam ( SDA ) yang pada zaman itu yakni kapur barus. (Baca : Rekam Jejak Barus)

Pancur Napitu Merah Putih Alur Danau Toba dan Legenda Sisingamangaraja

Pancur Napitu di temukan pada tahun 1833 oleh sekelompok masyarakat Batak saat membuka perkampungan Parhutaan Maria Gunung di Dusun I, Desa Gunung Berkat, Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara. Pancur Napitu arti nya 7 sumber mata air yang keluar dari batu. Meskipun saat musim kemarau mata air tersebut tidak pernah kering dan bila saat musim  penghujan 7 mata air tersebut tetap mengeluarkan air yang jernih.

MENGUNGKAP MISTERI PATUNG SI GANAGANA GONTING MALAHA YANG KINI TELAH HILANG

Tim Inventarisasi Situs Sejarah dan Cagar Budaya Kabupaten Asahan yang dibentuk Bupati Asahan, Drs. H. Taufan Gama Simatupang, MAP, melalui SK 204-Porbud/2011, tanggal  31 Mei 2011 telah  berhasil menyingkap misteri Situs Sejarah penting yang selama ini tersembunyi dari perhatian publik. Namun misteri tersebut juga telah lenyap dengan hilang nya keberadaan patung Siganagana 5 tahun silam tidak berapa lama setelah Tim Inventarisir mengungkapkan nya.

REKAM JEJAK BARUS

Pesan Prof Dr. Meutia Hatta kepada Wartawan ( Pers )
" Tulislah sesuatu tentang Barus karena Barus ini bagian dari kebanggaan Nasional, dan juga Jati Diri kita, identitas Nasional karena ini menunjukkan peradaban Indonesia yang lama yang mungkin juga di lupakan orang. Bahkan mungkin bisa menjawab apakah masyarakat Bahari itu juga ada disini. Kita selalu berpikir Indonesia Timur, tapi mungkin disini juga ada. Apalagi disini memungkinkan ada pelabuhan dan sebagai nya. Ini harus ada klaim budaya, tapi klaim budaya itu baru bisa di lakukan apabila sudah ada bukti-bukti yang cukup. Jadi saya kira wartawan juga ikut mendorong . Tapi tolong juga di ingat kan karena wartawan itu ( Pers ) juga mempunyai pungsi mendidik Bangsa. Jadi tolonglah sifat " Tak Kenal Maka Tak Sayang " itu hilang dari perasaan terutama anak-anak muda kita yang duduk di SD sampai dengan Perguruan Tinggi. Jadi saya kira itu harapan saya bagi pers. Mari Pers ikut mendidik Bangsa". ( Amanat Pr…

WISATA ALAM PEMANDIAN AEK SAKKUR

Wisata alam Pemandian Aek Sakkur terletak Di Dusun I, Desa Gonting Malaha, Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara-Indonesia 21274. Setiap hari-hari besar tempat ini ramai di kunjungi oleh wisatawan setempat, meski bersifat lokal namun tempat dan suasana nya dapat mempertemukan dan berkumpul nya kerbat dan sanak saudara dari berbagai belahan penjuru.