Skip to main content

Apa Kabar Barus

Prof. Dr. Meutia Hatta
Juru Kunci Makam Mahligai Zahiruddin Pasaribu bersama Prof. Dr. Meutia Hatta tahun 2011 lalu saat kunjungan kerja. (Photo: l am)

Pasca kunjungan Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres) Bidang Pendidikan Prof. Dr. Meutia Hatta Ke Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara 18/11/2011 lalu (Baca:Rekam Jejak Barus)
Pada masa kepemimpinan Bupati Tapanuli Tengah Raja Bonaran Situmeang sampai saat ini tindak lanjut program untuk membangun Barus sebagai kota religi masih jalan di tempat.


Sangat di sayangkan Barus dengan dimensi sejarah yang tinggi (Baca:Barus Kota Tua dan Bertuah)dapat dilihat juga riwayat Barus dari berbagai situs-situs terpercaya tidak terwujud sesuai harapan masyarakat Tapanuli Tengah khusnya tokoh-tokoh masyarakat Barus.

Kunjungan saya ke Barus tanggal 11/11/2011 dan beberapa bulan saya menetap disana menikmati keindahan panorama Pantai Barat Samudera Hindia Teluk Nauli dan berketepatan dengan datang nya Prof. Dr. Meutia Hatta beserta rombongan mengingatkan saya dengan tulisan saya (Baca:Rekam Jejak Barus). Dan ketika saya buka-buka kembali catatan perjalanan saya terbersit keinginan tahuan yang mendalam tentang perkembangan Barus. Baik dari perkembangan Museum Barus dan Makam Mahligai nya serta makam Papan Tinggi Syeikh Mahmud Barus. (Baca:Makam Papan Tingi)

Berhubung saya warga Kabupaten Asahan langkah pertama saya mencoba menghubungi sahabat-sahabat saya dan orang-orang tua saya di Barus selaku tokoh penting di kalangan masyarakat Tapanuli Tengah. Pertama saya menghubungi Ustaz Shodikin kemudian Zahiruddin Pasaribu selaku juru kunci Makam Mahligai kira nya mereka di beri kemudahan segala urusan nya di dunia dan akhirat.

Dari hasil perbincangan saya melalui via sambungan televon dengan beliau-beliau itu semua mengeluarkan nada prihatin.

"Museum Barus tak kunjung di bangun jalan di tempat, pasca turun nya ibu Meutia Hatta"kata Ustaz Shodikin. Langsung saya berpikir keras dan terinsfirasi dari catatan saya kenapa bisa seperti itu sementara Indonesia  kaya raya (Baca:Indonesia Madu Segala Zaman) (Baca juga:Indonesia Madu Segala Zaman I). Apalagi Barus kota tua dan bertuah memiliki nilai sejarah dan perdaban.


Ustaz Shodikin mengatakan baik pembangunan Museum Barus, Makam Mahligai, Makam Papan Tinggi dan Makam 40 Aulia tidak benar terwujud seperti yang diharapkan dan di cita-citakan warga masyarakt akan pembangunan nya. Padahal begitu kental nya sejarah Barus di hati masyarakat Tapanuli Tengah maupun di mana saja bahkan sampai keluar negeri dengan bukti kunjungan wisatawan manca negara ke Makam Mahligai Barus.


Ustaz Shodikin juga mengatakan bahwa sebenar nya  pembangunan Makam Mahligai, Makam Papan Tinggi, maupun Makam 40 (empat Puluh) Aulia Barus bisa di bangun jika kita ummat Islam memiliki visi dan misi yang sama untuk kebesaran Sejarah Islam Pertama masuk nya melalui gerbang Barus.

"Islam masuk pertama ke Indonesia dari Barus, tidak ada Islam di Indonesia kalau tidak dari Barus dan dari Baruslah Islam berkembang ke daerah-daerah lain di Indonesia,"kata Ustaz Shodikin. Kalau kita mau, lanjut nya, berapalah dana membangun makam para Auli 40 bergotong royong para dermawan di Indonesia.

"Sementara menyangkut Museum Barus, Makam Papan Tinggi, dan Makam Mahligai harus ada sebuah wadah yang benar untuk melaksanakan pembangunan tersebut dan tidak terlepas dari peran pemerintah tentu nya,"kata Ustaz Shodikin

Ustaz Shodikin menghimbau kepada pejabat pemerintah agar seriuslah memperhatikan Barus dari segala sudut pandang apalagi Barus kaya dengan sejarah yang sangat penting dalam dunia Islam dan kebudayaan Indonesia.

Beranjak dari telepon Ustaz Sodikin kemudian saya menghubungi Bapak Zahiruddin Pasaribu selaku juru kunci Makam Mahligai yang bertugas lebih kurang dari 37 tahun mengurusi cagar budaya Makam Mahligai dan Makam Papan Tinggi  bersama rekan-rekan nya.

Berketepatan pada saat saya menelvon Bapak Zahiruddin Minggu, 4/10/2015 sekira Jam 13.30 wib beliau sedang berada di Makam Mahligai sedang melayani para pengunjung Makam Mahligai. Pada Oktober 2011 saya pernah berkunjung langsung kerumah Beliau di Aek Dakka Kecamatan Barus, khusus bercerita seputar riwayat Barus beserta dengan pohon Kapur Barus yang masih ada beberapa pohon yang hidup di Barus bersama teman saya Tahi Benno Huta Barat warga Kolang, Kecamatan Kolang, Kabupaten Tapanuli Tengah.

Dalam sambungan televon kami Pak Zahiruddin mengisahkan kembali perkembangan barus seiring dengan sambutan perkataan televon saya ke masa lampau saat kunjungan Prof. Dr. Meutia Hatta ke Barus Jum'at 18/11/2011. (Baca disini:Rekam Jejak Barus)

Bapak Zahiruddin Pasaribu dengan hangat nya bercerita apalagi terkait dengan Makam Mahligai meski belum kunjung di bangun pemugaran nya.

"Saya sekarang sedang melayani pengunjung di Makam Mahligai, namun saya tidak sibuk, dan terkait masalah Makam Mahligai dan Makam Papan Tinggi, belum juga di bangun sejak kedatangan Ibu Meutia Hatta,"kata Zahiruddin Pasaribu. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tapanuli Tengah, sambung Zahiruddin, pernah mencanangkan untuk membagun pertama sekali yakni Makam Papan Tinggi pada tahun 2014 namun sampai sekarang tidak terlaksana.

"Yah tetap seperti ini saja jalan di tempat,'tegas Beliau.

Menurut penuturan Bapak Zahiruddin, bahwa Makam Mahligai sudah di ambil alih oleh Pemkab Tapanuli Tengah (Tapteng) melalui Dinas Parawisata Tapteng.

"Coba ananda berkunjung ke Dinas Pariwisata Tapteng semua data ada di situ,'ungkap Zahiruddin.

Namun saya menjawab, tidak usah lah dulu saya kesana sebab saya masih di Asahan dan lebih afdolt kalau saya bertanya dan meminta keterangan langsung kepada masyarakat setempat.

Dalam perbincangan televon kami bapak zahiruddin kembali menegaskan bahwa Makam Mahligai sudah di ambil alih Pemkab Tapteng dan bertambah luas areal nya.

"Sudah bertambah luas areal nya, hendak nyalah Makam Mahligai ini di pugar dan di lestarikan,"kata Zahiruddin.

Semua pengunjung, kata nya lagi, berkeluh kesah dan prihatin terhadap keberadaan Makam Mahligai yang terancam punah dan mengarah kepada pemkab Tapteng agar memperhatikan nya dengan serius.

Usai topik perbincangan Makam Mahligai, kemudian saya mempertanyakan tentang progaram Pemkab Tapteng 4 tahun silam mengenai budi daya pohon Kapur Barus di Barus dari usulan sekelompok masyarakat petani Barus agar nama Barus sesuai dengan simbol Kapur Barus yang di perdagangkan keluar negeri pada zaman dahulu. Namun lagi-lagi program tersebut jalan ditempat.

Sangat mencengangkan saya ketika Bapak Zahiruddin mengatakan bahwa pada tanggal 22 Agustus 2015 sebanyak 26 (dua puluh enam) duta negara sahabat melakukan penanaman pohon kapur Barus secara simbolik di Makam Mahligai namun sampai sekarang belum di realisasikan dan bibit pohon tersebut di bawa pulang kembali oleh Dinas kehutanan dan Perkebunan Tapanuli Tengah. 

Saya paling suka dengan kegiatan-kegiatan penanaman pohon apalagi yang nama nya pohon Kapur Barus yang berkaitan dengan sejarah Barus. Sungguh prihatin kita mendengar keluh kesah mereka. Kiranya Allah Swt menggerakan hati manusia untuk melaksanakan cita-cita mereka. 

Save Barus.

Salam Indonesia Raya.

Popular posts from this blog

BARUS KOTA BERTUAH MINIATUR DAN DIMENSI SPRITUAL DARI PUNCAK MAKAM PAPAN TINGGI

Makam Tuan Syeikh Mahmud Barus di Papan Tinggi Desa Pananggahan, Kec. Barus Utara, Kabupaten Tapanuli Tengah-Sumut, sebagai Pembawa Syiar Agama Islam di Indonesia. Dari atas puncak Papan Tinggi atau yang biasa di sebut masyarakat setempat dengan sebutan Tompat atau Tangga Seribu menyimpan dimensi spritual yang tersembunyi. Dari atas terlihat hamparan pemukiman kota Barus dengan bentangan  samudera Hindia sebagai gerbang masuk nya Agama Kristen dan Islam di Indonesia dengan kekayaan Sumber Daya Alam ( SDA ) yang pada zaman itu yakni kapur barus. (Baca : Rekam Jejak Barus)

MENGUNGKAP MISTERI PATUNG SI GANAGANA GONTING MALAHA YANG KINI TELAH HILANG

Tim Inventarisasi Situs Sejarah dan Cagar Budaya Kabupaten Asahan yang dibentuk Bupati Asahan, Drs. H. Taufan Gama Simatupang, MAP, melalui SK 204-Porbud/2011, tanggal  31 Mei 2011 telah  berhasil menyingkap misteri Situs Sejarah penting yang selama ini tersembunyi dari perhatian publik. Namun misteri tersebut juga telah lenyap dengan hilang nya keberadaan patung Siganagana 5 tahun silam tidak berapa lama setelah Tim Inventarisir mengungkapkan nya.

Munas VI Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) 2017 TN Baluran

TN Baluran (Kader Konservasi Alam)

Usai kegiatan Jambore Nasional Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 8-10 Agustus di Taman Nasional (TN) Baluran, Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur, Baca; Jambore Nasional HKAN 2017 Seluruh jajaran pengurus FK3I Provinsi se-Indonesia bersama Kader Konservasi Alam (KKA) melakukan Musyawarah Nasional (Munas) ke-VI 11-12 Agustus 2017 di Taman Nasional Baluran, Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur untuk menentukan pengurus periode 2017-2022. Sesuai dengan tema HKAN 2017 Konservasi ALam Konservasi Kita.hingga tingkat tapak.

Bara JP Tapteng Dikukuhkan, Mantan Trio KPUD Turut Bidani.

Tapanuli Tengah, Sumatera Utara-Kader Konservasi Alam (KKA)  Pasca terbit nya Surat Keputusan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Barisan Relawan Jokowi Presiden (Bara JP) No. 043/K-Wil/DPP/Bara JPresiden/IX/2017 tanggal 7 September 2017 oleh Ketua Umum DPP Bara JP Sihol Manulang dalam satu poin nya Menugaskan Kabul Lumban Tobing (sebagai Koordinator), Adrin Ndraha dan Nursarifah Sitompul (sebagai Anggota) untuk menjalankan roda organisasi Barisan Relawan Jokowi Presiden Tapanuli Tengah secara kolektif kolegial selaku Caretaker Dewan Pengurus Cabang (DPC) Barisan Relawan Jokowi Presiden Tapanuli Tengah serta mempersiapkan dan melaksanakan Konferensi Cabang Luar Biasa DPC BaraJP Tapanuli Tengah selambatnya dalam tempo 60 (enampuluh) hari untuk memilih dan menetapkan Pengurus Definitif Barisan Relawan Jokowi Presiden Tapanuli Tengah. 

Pertamina TBBM I Kisaran Konservasi Mangrove Asahan

ASAHAN, metro24jam.com – Berangkat dari fungsi sebagai penjaga garis pantai dari abrasi dan terjangan tsunami, yang melatarbelakangi dilakukannya kegiatan penanaman pohon Mangrove sebanyak 48.000 pohon Mangrove atau seluas 12 Ha di Desa Silau Baru, Kecamatan Silau Laut, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, Selasa (13/12/2017).