Skip to main content

Konservasi Lintas Stakeholder Untuk Hutan Lestari.


Tanam Pohon
Kegiatan Konservasi Sungai dan Hutan dengan menanam pohon 
Di Desa saya yakni Desa Gonting Malaha, Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara adalah sebuah desa yang berada di pelosok dan masih sangat terjal untuk menempuh ke sana. Dengan pemukiman penduduk yang berada di bawah kaki pegunungan hutan lindung Tormatutung register 1/A Asahan.
Desa tersebut juga ds yang memiliki historis pergerakan pejuang-pejuang gerilyawan kemerdekaan RI. Selain desa kami yakni Desa Gonting Malaha, desa-desa yang lain juga persis keberadaan nya seperti desa saya, seperi Desa Perkebunan Aek Tarum, Desa Huta Rau, Desa Aek nagali, Desa gunung Berkat, Desa Buntu Maraja dan Desa Gajah Sakti dalam wilayah pemerintahan Kecamatan Bandar Pulau. 

Berangkat dari situ saya bersama rekan-rekan pegiat lingkungan lokal terus memantau keberadaan kedaulatan dan stabilitas hutan lindung Tormatutung. Banyak anak-anak sungai yang berasal dari pegunungan Tormatutung yang mengalir ke desa-desa kami dan tumpah ruah ke Sungai Asahan dan sungai silau yang berada dalam pengawasan Dirjen Perlindungan Daerah Aliran Suungai dan Hutan Lindung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) RI.


Hutan lindung Tormatutung di tetapkan sebagai kawasan lindung berdasarkan jatikon Zelf-Bestuur tanggal 22 Juni 1916 dengan luas 36,800 Ha.Namun luasan hutan Tormatutung setiap tahun berkurang akibat perambahan dan perladangan masyarakat berpindah-pindah.

Untuk menjaga kelestarian hutan Tormatutung dan Daerah Aliran Sungai (DAS) beserta anak-anak sungai nya seperti Sungai, Asahan dan Sungai Silau, Sungai Aek tarum, Aek sakur dan Aek Piasa perlu di laksanakan pemantauan dan kampanye-kampanye tentang penyelamatan hutan, sungai dan satwa langka. Masih banyak terdapat Harimau Sumatera di kawasan hutan Tormatutung.

Ada juga Beruang, Rusa, Kijang dan burung Rangkok serta burung Merak. Selain itu ada juga Siamang hitam dan kera yang lebih mendominasi. Namun hutan Tormatutung terus di rambah dan di perjual belikan.
Perambahan hutan lindung Tormatutung
Hutan Lindung Tormatutung di ramabah dan di perjual belikan tepat nya di Nasulak, Dusun V Gunung Berkat
Berdasarkan pantauan langsung kami saat patroli hutan bersama tim Polisi Hutan (Polhut) Asahan yang di Komandani TR. Nainggolan, SH, MAP hutan Tormatutung harus di jaga dan tetap lestari. Meskipun tidak mungkin itu semudah dengan fakta lapangan setidak nya ada upaya-upaya dalam pengamanan hutan.Konservasi merupakan salah satu bentuk kegiatan nyata yang dapat di terapkan dan di wariskan kepada masyarakat agar senantiasa menjaga kelestarian hutan. Kegiatan konservasi yang di lakukan masyarakat rimbawan dan kader-kader konservasi sangatlah membantu tugas-tugas pemerintah dalam menjaga kedaulatan hutan.
Penanaman pohon
Kegiatan konservasi antar staholder dengan melakukan penanaman pohon di Aek Jatuh, Desa Perkebunan Aek Tarum
Setiap kegiatan yang berbentuk pengamanan hutan dan kegiatan konservasi pihak Polhut dan perusahaan-perusahaan yang bersempadan dengan hutan lindung selalu menyertakan kami yang tergabung dalam kader konservasi dan Jaringan Wahana Rimba Raya (Jawara) Kabupaten Asahan. Hal tersebut kami lakukan karena kecintaan dan panggilan jiwa kami untuk menjaga kelestarian hutan dan lingkungan agar suasana sejuk dan segar dapat senantiasa di nikmati oleh masyarakat luas.Meski suasana sejuk tersebut tidak sesejuk 10 tahun yang lalu akibat berkurang nya luasan hutan dan pengaruh tanaman Kelapa sawit yang menyebabkan hawa panas meskipun bulan penghujan, apalagi saat kemarau panjang sungguh-sungguh sangat menggerahkan.

Dibanding dengan daerah-daerah lain khusus nya di Provinsi Sumatera Utara luasan Hutan Asahan masih terbilang masih memadai walau jauh dari standarmutu hutan meski Balai Pemantaban Kawasan Hutan (BPKH) I Medan belum memberi keterangan rinci tentang sebaran hutan lindung Tormatutung atau hutan Mangrove pantai Selat Malaka seperti di Tanjung Balai, Bagan Asahan, Sei Sembilang, dan Silo Baru.Dan kami berharap kira nya BPKH I Medan dapat memberi data rinci sebaran jenis hutan di Kabupaten Asahan melalui Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kabupaten Asahan namun setiap kami konfirmasi belum kami dapatkan jawaban rinci.Ke nyataan tersebut berdasarkan amatan kami langsung di lapangan. Ribuan hektar hutan tepi pantai mangrove telah beralih fungsi menjadi tanaman perkebunan Kelapa Sawit demikian hal nya dengan hutan lindung Tormatutung. Perusahaan dan pemerintah acap kali menjadi pemicu utama runtuh nya ekosistem hutan Asahan dengan mudah nya menerbitkan perizinan dan keberadaan Hak Guna Usaha (HGU) non prosedural dalam kawasan hutan. Di tambah lagi tingkat perambahan yang setiap tahun merubah status kawasan hutan dengan tanaman Kelapa sawit.


Sebaran hutan di Asahan terdapat beberapa tingkatan mulai dari jenis hutan lindung Tormatutung reg 1/A, hutan produksi 5/A Nantalu, hutan yang dapat di konversi (HPK) yang sudah punah beralih menjadi Alih Pungsi Lahan (APL) menjadi tanaman perkebunan kelapa sawit yang di dominasi milik perusahaan-perusahaan perkebunan dan masyarakat perambah.Dan dengan terbit nya SK.579/Menhut-II/2014 tentang penunjukan kawasan hutan Sumatera Utara sebaran hutan di Asahan jauh semakin berkurang.Untuk itu perlu penanganan yang serius dalam menjaga kedaulatan hutan di Kabupaten Asahan.

Kami berharap peran serta pemerintah yang berkompeten dalam bidang ini harus lebih wellcome lagi dalam membangun masyarakat yang lebih peduli dengan hutan, masyarakat yang cerdas yang memahami fungsi hutan lindung sebagai penyangga kehidupan.Dan lebih cerdas lagi mengelola sifat ke tamakan agar di minimalisir demi kepentingan masyarakat luas tercipta nya hutan lestari dan pemerataan pembangunan berbasis kemasyarakatan dalam hal ini penerapan konsep ekonomi hijau.Kebijakan harus menyentuh lapisan masyarakat atau kalangan rakyat (grassroad) bukan memihak kepada kepentingan pengusaha karena ada konvensasi rupiah walau harus melanggar peraturan dan perundang-undangan.

Kegiatan-kegiatan konservasi adalah langkah-langkah yang edukatif dalam menjaga hutan lestari, menjalin kemitraan dan kedekatan dengan masyarakat yang bersempadan dengan hutan atau yang bersempadan dengan perusahaan agar masyarakat lebih peduli dan tidak takut dengan petugas kehutanan atau kepolisian. Karena selama ini yang menjadi momok di tengah masyarakat adalah petugas kehutanan hanya berani bertindak kepada masyarakat lemah yang merambah hutan sementara terhadap pengusaha atau perusahaan tidak di tindak tegas. 

Untuk itu pemerintah juga harus mampu membangun dan menerapkan secara nyata terhadap pembangunan perekonomian berbasis kehutanan atau ekonomi hijau seperti Hutan Kemasyarakatan (HKm) atau Hutan Desa (HD), Hutan Tanaman Rakyat (HTR) dan Hutan Kemitraan yang dapat menggantikan tegakan hutan yang di rambah dengan penanaman berbagai tanam-tanaman kayu-kayuan yang bernilai ekonomi tinggi yang terpenting asal jangan tanaman kelapa sawit yang merusak struktur tanah dan lingkungan.

Ekonomi konservasi adalah kegiatan yang menerapkan prinsip hutan lestari dan ramah lingkungan serta mengedepankankan pemberdayaan masyarakat dalam peningkatan perekonomian nya. Sampai saat ini kegiatan konservasi yang kami lakukan tak kunjung di lirik oleh Pemkab Asahan namun dikarenakan kita murni panggilan jiwa kami tidak mempermasalahkan hal tersebut yang penting pada prinsip nya hutan kita harus tetap lestari demi untuk anak-anak cucu kita di masa mendatang.

Di sisi lain kami juga menghimbau agar perusahaan perkebunan di Kabupaten Asahan menerapkan Nilai Konservasi Tinggi (NKT) atau High conservasi Value (HCV) yang selaama ini belum terlihat gaung nya dan tentu nya  merangkul masyarakat sempadan perusahaan agar pemberdayaan masyarakat dari kewajiban tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan dapat memberi kontribusi ekonomi dan penerapan hutan dan lingkunganb lestari. Baca Juga: Pertamina TBBM I Kisaran Konservasi Mangrove Asahan

Perlu kesadaran yang mendalam dan perlu melakukan kajian-kajian yang mendasar dan tentu nya dapat merubah keserakahan serta kesombongan para pemilik perusahaan yang mengeksploitasi sumber daya alam yang hanya mementingkan keuntungan semata (kavitalis) tanpa penerapan tanggung jawab sosial dan lingkungan dan non NKT.

Peranserta pemerintah sangat kami harapkan untuk membuka kepura-pura tidak tahuan para pengusaha perkebunan akan tanggung jawab perusahaan tersebut. Akan tetapi kadang muncul juga di benak kami dugaan-dugaan bahwasanya jangan-jangan antara pengusaha dan pemerintah saling main mata atau berselingkuh untuk menikmati hasil-hasil eksploitasi tersebut. Sebab semakin kaya seseorang dengan kekavitalisan nya maka makin serakah pula ia nya dan semaki pandai bersilat lidah atau bertopeng monyet atau dengan kata lain musang berbulu domba. 

Disinilah perlu nya revolusi mental di segala bidang dan di mulai dari diri kita sendiri.Sifat tak kenal maka tak sayang harus di buang dari budaya kita, sifat-sifat kompeni para belanda-belanda kepala hitam harus di buang dari alam bawah sadar kita yang hanya semata mengeruk keuntungan dan keuntungan tanpa mau peduli dengan lingkungan sekitar nya. Apalagi hari ini masih dalam suasana memperingati Selamat Hari Bumi Mari kita Instropeksi Diri

Kira nya tulisan saya ini yang saya lapisi dengan harapan dan doa kehadirat Allah Swt untuk di dengar NYA dan dapat merubah situasi yang tidak menyenangkan ini, merubah alam bawah sadar dan pola pikir yang para kavitalis-kavitalis yang mengeksploitasi sumber daya alam  ke arah pembangunan yang berwawasan lingkungan, sehat, cerdas dan bermartabat.

Sebab kejahatan-kejahatan yang terselubung dalam pemerintahan dan kejahatan lingkungan seperti nya sudah mengkristal dan berakar berurat sehingga sulit mereka lepas dari jeratan gizi kavitalis padahal merugikan tatanan hukum dimensi harmoni alam semesta.

Dampak-dampak kegiatan pengrusakan hutan dan bumi semakin kian terasa dan aneh nya uang yang di keruk dari hasil eksploitasi sumber daya alam tersebut  tidak mampu menegembalikan atau mengendalikan nya jika muncul bala bencana dari hasil eksploitasi tersebut.

Pembangunan di segala bidang bukanlah menghancurkan alam semesta atau merusak lingkungan, jauh lebih penting adalah pembangunan kemanusiaan yang adil dan beradap nawa cita para pendiri-pendiri bangsa ini, bukan malah melestarikan pembangunan sistim kavitalis demi seonggok kepentingan individualitas mumpung masih berkuasa dan kaya raya babat saja apa yang bisa di babat. Dengan kata lain semua bisa di atur.

Salam Lestari...!!! Konservasi Yes...Yes...Yes...!!!

Baca Juga:

Popular posts from this blog

BARUS KOTA BERTUAH MINIATUR DAN DIMENSI SPRITUAL DARI PUNCAK MAKAM PAPAN TINGGI

Makam Tuan Syeikh Mahmud Barus di Papan Tinggi Desa Pananggahan, Kec. Barus Utara, Kabupaten Tapanuli Tengah-Sumut, sebagai Pembawa Syiar Agama Islam di Indonesia. Dari atas puncak Papan Tinggi atau yang biasa di sebut masyarakat setempat dengan sebutan Tompat atau Tangga Seribu menyimpan dimensi spritual yang tersembunyi. Dari atas terlihat hamparan pemukiman kota Barus dengan bentangan  samudera Hindia sebagai gerbang masuk nya Agama Kristen dan Islam di Indonesia dengan kekayaan Sumber Daya Alam ( SDA ) yang pada zaman itu yakni kapur barus. (Baca : Rekam Jejak Barus)

Pancur Napitu Merah Putih Alur Danau Toba dan Legenda Sisingamangaraja

Pancur Napitu di temukan pada tahun 1833 oleh sekelompok masyarakat Batak saat membuka perkampungan Parhutaan Maria Gunung di Dusun I, Desa Gunung Berkat, Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara. Pancur Napitu arti nya 7 sumber mata air yang keluar dari batu. Meskipun saat musim kemarau mata air tersebut tidak pernah kering dan bila saat musim  penghujan 7 mata air tersebut tetap mengeluarkan air yang jernih.

SUNGAI ASAHAN DALAM MINIATUR PEMBENTUKAN KABUPATEN BANDAR PULAU YANG BAROKAH

Oleh: Amiruddin Dolok Saribu Alias Tombak Nagara
Sungai Asahan berasal dari Danau Toba Kabupaten Tobasa dengan melintasi pegunungan hutan lindung Tormatung Asahan mengalir dan membelah sejumlah desa-desa di Kabupaten Asahan, Tobasa dan bermuara ke Kota Madya Tanjung Balai membaur ke pantai laut Selat Malaka. Sungai Asahan merupakan kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) masyarakat Kabupaten Asahan, Sumatera Utara. Salah satu yang membuat Sungai Asahan mendunia karena sering menjadi tempat ajang perlombaan arum jeram bertaraf international. Namun sejak di bangun nya PLTA Asahan III arung jeram sudah tidak terdengar lagi kabar nya.

Tugu Perjuangan Bandar Pulau 'Susah di kenang senang di lupakan'

Tungu Perjuangan Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara, merupakan bukti sejarah sebagai Pengibar pertama sangsaka Merah Putih di Asahan. Bandar pulau akan selalu di kenang, banyak putera-putri Bandar Pulau yang sudah berhasil di luar daerah, jadi apabila melihat photo ini pasti akan terkenang dengan Kampung halaman nya.

Tugu Sarang Helang 'Dikenang Sifat Kesatria Rakyat Asahan'

Selain Tugu Perjuangan Bandar Pulau yang terletak di Desa Bandar Pulau Pekan, Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara, (Baca:Tugu Perjuangan Bandar Pulau masih ada satu lagi sebuah Tugu Perjuangan Sarang Helang yang terletak di Desa Sarang Helang, Kecamatan Sei Kepayang Timur, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara.