Skip to main content

Warning !!! Menilisik Keberadaan Hutan Lindung Mangrove Asahan Selat Malaka

Hutan Tepi Pantai Selat Malaka
Ekspedisi Rimbawan Asahan dan Kader Konservasi Alam Sumut pada  Jalur Hijau Pekat  Hutan  Lindung Mangrove  Kabupaten Asahan Selat Malaka.

Kabupaten Asahan memiliki beragam status kawasan hutan salah satu nya kawasan  hutan lindung Mangrove di tepi pantai Selat Malaka seperti di Silo Baru, Sungai Sembilang, Pematang Sungai Baru, Bagan Asahan, Tanjung Balai dan Sei Kepayang. Tatkala Rimbawan Asahan melakukan ekspedisi ke Hutan Lindung Mangrove Desa Pematang Sungai Baru dan Silo Baru untuk meninjau dan pengepungan perambah kayu Mangrove 15/2/2015 lalu, terlihat sebaran hutan Mangrove Asahan telah beralih fungsi menjadi kawasan perkebunan Kelapa Sawit dan Tambak.

Tim ekspedisi Lembaga Pemuda Pemerhati Lingkungan Hidup (LPPLH) Sumatera Utara, KKA,  dan Jaringan Wahana Rimba Raya (Jawara) Pada Hutan Lindung Mangrove Kaabupaten Asahan Desa Pematang Sungai Baru.
                                     
Sejalan dengan itu aksi pencurian kayu Mangrove begitu gencar nya terjadi dikarenakan bernilai jual tinggi untuk di selundupkan ke Malaysia. Hal tersebut di tuturkan masyarakat setempat ketika para pegiat lingkungan Asahan mengintai para perambah Mangrove di Desa Pematang Sungai Baru dalam tim Ekspedisi Jawara dan LPPLH Bapak Bakhtiar, Lae Dani dan Ruslan Sembiring S.Sos dari LPPNRI. Dalam penggerebekan perambah, terlihat hutan tegakan mangrove di tebas dengan menggunakan parang dan chainsaw, namun sangat di sayangkan para perambah keburu kabur dan meninggalkan 4 perahu dan beberapa tumpukan kayu Mangrove yang kemudian diangkut oleh Polisi Hutan (Polhut Asahan) untuk diamankan.
Perahu dan Tumpukan Kayu Mangrove di amankan para pegiat lingkungan.
Peristiwa tersebut mengingatkan diri kami sebagai Kader Konservasi Alam (KKA) untuk menuliskan dalam catatan website saya www.rimbanauli.com selaku KKA untuk menata program kedepan terhadap para rimbawan dan KKA dalam menjaga kedaulatan hutan Mangrove Asahan yang sangat urgen dalam kehidupan para nelayan setempat yakni untuk  tempat ikan-ikan berkembang biak dan penjaga garis pantai atau pemukiman.

Selain itu Hutan Lindung Mangrove Asahan harus diwaspadai keberadaannya dari perambahan kayu mangrove dan konversi lahan sehingga tutupan hutan mangrove Asahan berada diambang kepunahan.
Menelusuri anak sungai yang di kelilingi hutan Mangrove menuju laut  lepas Selat Malaka saat membawa  kayu dan perahu perambah untuk di serahkan ke Polhut Asahan bersama para nelayan dan pegiat lingkungan Asahan di Desa Pematang Baru.
Berdasarkan hasil ekspedsisi tersebut saat ini pegiat lingkungan berharap kepada pihak terkait dan para nelayan untuk tetap semangat menjaga kelestarian hutan Mangrove Asahan. Seperti salah seorang pecinta tanaman Mangrove Bapak Paimun JB dari Kelompok Tani Hutan (KTH) Makmur Desa Silo Baru. Bersama keluarga dan tetangga nya Paimun JB senantiasa membudi dayakan tanaman Mangrove meski sudah lanjut usia namun semangat mereka tidak pernah pudar untuk menjaga kelestarian hutan Mangrove Asahan. Baca Juga : MENJAGA ALAM MEMBAWA BERKAH, MENULIS MEMBAWA BERKAH, MANGROVE ASAHAN MEMBAWA BERKAH, THANKS PERTAMINA KISARAN
Kayu Mangrove dan Perahu Perambah
Bapak Paimun JB bersama rekan nya saat mengamankan kayu mangrove dan perahu perambah untuk di serahkan kepada Polhut Asahan melalui jalur laut Pantai Selat Malaka.

Pada tanggal 25 Desember 2017 KKA kembali melakukan Ekspedisi Pada Kawasan Hutan Lindung Mangrove di Desa Pematang Sungai Baru, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara, terlihat berdasarkan fakta identifikasi lapangan  keadaan sebaran hutan mangrove kian mengkhawatirkan. Pasalnya aksi pencurian kayu semakin merajalela, dan alih pungsi lahan yang tidak memuat kaidah-kaidah konservasi dan keanekaragaman hayati, serta kearifan lokal yang tertuang dalam Petunjuk Tekhnis Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) dan UU No 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan dan UU No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE).

Bahkan, sebaran hutan lindung Mangrove Asahan ada yang terdapat tinggal 65 m di bibir pantai yang selama ini mencapai 1 km lebih tergerus oleh ganasnya  invasi kelapa sawit bagi pemilik modal. Dan Kebun Kelapa Sawit tersebut menjadi tanda tanya besar bagi Kader Konservasi Alam.
Ekspedisi Kader Konservasi Alam (KKA) 25 Desember 2017 Pada Kawasan Hutan Lindung Mangrove Kabupaten Asahan Desa Pematang Sungai Baru eks Gerhan 2013.

Kami selaku selaku masyarakat yang dibintek oleh BP2SDM KLHK RI dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam, Hutan dan Lingkungan serta Pengamanan Hutan Partisipatif melalui sekolah Balai Diklat KLHK RI Pematang Siantar melihat ancaman ekologi sudah didepan mata dan sudah tidak sesuai dengan Garis-Garis Besar Haluan Kehutanan (GBHK) Dewan Kehutanan Nasional (DKN) pasca Kongres Kehutanan Indonesia (KKI) 2016.


Selain mendapat Piagam Penghargaan Wana Lestari Terbaik I dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara (BBKSDASU) kami menilai situasi ini harus cepat diantisipasi deteksi dini dan reaksi cepat tanggap, karena selain pengrusakan hutan perburuan liar juga kerap terjadi sehingga menyebabkan kepunahan burung Sirpu, Burung Kepodang, Kacer, Jalak Laut dan Elang Laut dalam ancaman punah.

Pemerintah Kabupaten Asahan tidak mendukung Kedaulatan Hutan Kabupaten  Asahan, Tidak Menegakan Kualitas Lingkungan, Tidak pro Rencana Aksi Daerah Gas Rumah Kaca (RAD GRK) instrumen Peraturan Presiden Rencana Akasi Nasional (RAN GRK), mitigasi, adaptasi bencana dalam perubahan iklim (NDC).
Ada yang salah dalam pengelolaan kawasan hutan, perlindungan dan konservasi serta penegakan hukum lingkungan dan pasal pembiaran sehingga kejadian yang memalukan ini harus sering terjadi dan berlarut-larut sengaja dibiarkan. 

Keadaan ini harus menjadi perhatian serius Ibu Menteri LHK RI, Menteri KKP, Menko Polhukam, DKN, KPK, Kantor Staf Presiden (KSP) Bapak Jend. TNI (Purn) Moeldoko dalam Gerakan Penyelamatan Tumbuhan dan Satwa Liar beserta Gerakan Nasional Penyelamatan Sumber Daya alam berpihak kepada masyarakat lemah. Sebab apabila permasalahan ini berlarut-larut tidak ditindak lanjuti akan menjadi ancaman ekologi dan kepunahan biodiversity ekosistem pantai Hutan Lindung Mangrove Kabupaten Asahan. 








Dalam amatan kami dilapangan sejak tahun 2003 dalam menjaga Kedaulatan Hutan Lindung Mangrove Asahan, perlu kami tegaskan agar dilakukan Pengukuhan Kawasan Hutan, Melibatkan Masyarakat Lokal dalam mengambil keputusan tentang Kedaulatan Hutan Asahan, reformasi birokrasi, pembinaan dan pemberdayaan masyarakat dan penegakan hukum lingkungan agar KKI berwujud nyata 'Tata Kelola Hutan Indonesia Yang Baik' KKI VI Jakarta) dimana Hutan Milik publik Penjaga Peradaban (Siti Nurbaya Menteri LHK RI).

Kami sudah berulangkali menyampaikan permasalahan hutan Kabupaten Asahan melalui media publik cetak (pers), media sosial, laporan resmi, dan laporan langsung, maupun laporan tertulis via televon dan Whatsapp serta sms namun tidak mendapat respon dan antisipasi dini (tindak lanjut).
Kita memiliki tanggung jawab yang sama dalam menjaga kelestarian hutan Indonesia sebagaimana amanat konstitusional bagi generasi mendatang.

Salam Lestari....



Popular posts from this blog

Pancur Napitu Merah Putih Alur Danau Toba dan Legenda Sisingamangaraja

Pancur Napitu di temukan pada tahun 1833 oleh sekelompok masyarakat Batak saat membuka perkampungan Parhutaan Maria Gunung di Dusun I, Desa Gunung Berkat, Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara. Pancur Napitu arti nya 7 sumber mata air yang keluar dari batu. Meskipun saat musim kemarau mata air tersebut tidak pernah kering dan bila saat musim  penghujan 7 mata air tersebut tetap mengeluarkan air yang jernih.

BARUS KOTA BERTUAH MINIATUR DAN DIMENSI SPRITUAL DARI PUNCAK MAKAM PAPAN TINGGI

Makam Tuan Syeikh Mahmud Barus di Papan Tinggi Desa Pananggahan, Kec. Barus Utara, Kabupaten Tapanuli Tengah-Sumut, sebagai Pembawa Syiar Agama Islam di Indonesia. Dari atas puncak Papan Tinggi atau yang biasa di sebut masyarakat setempat dengan sebutan Tompat atau Tangga Seribu menyimpan dimensi spritual yang tersembunyi. Dari atas terlihat hamparan pemukiman kota Barus dengan bentangan  samudera Hindia sebagai gerbang masuk nya Agama Kristen dan Islam di Indonesia dengan kekayaan Sumber Daya Alam ( SDA ) yang pada zaman itu yakni kapur barus. (Baca : Rekam Jejak Barus)

Tugu Titik Nol Barus

BARUS, SUMUTPOS.CO –  Presiden Joko Widodo (Jokowi) didampingi Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Tengku Erry Nuradi meresmikan Tugu Titik Nol Islam Nusantara yang terletak dipinggir pantai Barat Sumatera di Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara, Jumat (24/03/2017).
Hadir juga  Ketua Umum DPP Jam’iyah Batak Muslim Indonesia (JBMI) Syekh KH Ali Akbar Marbun, Sekjen DPP JBMI Arif R Marbun, Ketua DPW JBMI Sumut  Aidan Nazwir Panggabean, tokoh agama, tokoh masyarakat, mantan Ketua DPR RI Akbar Tanjung, sejumlah menteri, FKPD Provsu, Tapanuli Tengah dan undangan. Peresmian ditandai dengan penandatangan prasasti, menekan tombol sirine dan peninjauan lokasi oleh Presiden Jokowi. Tugu (Monumen) ini memiliki tiga tiang penyangga bola dunia ini memiliki filosofi adat Batak yang menjadi kearifan lokal masyarakat adalah Adat Dalihan Na Tolu.

Tugu Perjuangan Bandar Pulau 'Susah di kenang senang di lupakan'

Tungu Perjuangan Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara, merupakan bukti sejarah sebagai Pengibar pertama sangsaka Merah Putih di Asahan. Bandar pulau akan selalu di kenang, banyak putera-putri Bandar Pulau yang sudah berhasil di luar daerah, jadi apabila melihat photo ini pasti akan terkenang dengan Kampung halaman nya.

WISATA ALAM PEMANDIAN AEK SAKKUR

Wisata alam Pemandian Aek Sakkur terletak Di Dusun I, Desa Gonting Malaha, Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara-Indonesia 21274. Setiap hari-hari besar tempat ini ramai di kunjungi oleh wisatawan setempat, meski bersifat lokal namun tempat dan suasana nya dapat mempertemukan dan berkumpul nya kerbat dan sanak saudara dari berbagai belahan penjuru.