Skip to main content

MENGUNGKAP MISTERI PATUNG SI GANAGANA GONTING MALAHA YANG KINI TELAH HILANG

Patung Sigana-gana. Photo: Amiruddin Dolok Saribu Kader Konservasi Alam.

Tim Inventarisasi Situs Sejarah dan Cagar Budaya Kabupaten Asahan yang dibentuk Bupati Asahan, Drs. H. Taufan Gama Simatupang, MAP, melalui SK 204-Porbud/2011, tanggal  31 Mei 2011 telah  berhasil menyingkap misteri Situs Sejarah penting yang selama ini tersembunyi dari perhatian publik. Namun misteri tersebut juga telah lenyap dengan hilang nya keberadaan patung Siganagana 5 tahun silam tidak berapa lama setelah Tim Inventarisir mengungkapkan nya. 


Situs Sejarah tersebut di kenal dengan nama  peninggalan Kerajaan Nahombang, berupa makam purba yang ditandai dengan adanya patung-patung (gana-gana), benteng-benteng peperangan dengan pasukan Aceh dan juga terdapatnya beberapa buah gua bersejarah dibawah Air Tejun Silalahi, yang saat ini dijadikan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Micro Hydro (PLTMH) Gonting Malaha, Kecamatan Bandar Pulau, Asahan. baca; PLTMH GONTING MALAHA

Patung -patung tersebut terletak di Parhutaan Gana-gana dan Parhutaan Gunung, sekarang berada dalam wilayah Desa Gonting Malaha, Dusun I Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara, namun karena tidak ada yang memperdulikan atau mengangkat sejarah tersebut akhir nya terpendam dan hampir punah. 

Seorang keturunan Tuan (Raja) Nahombang, dari sundut (Keturunan) ke-10, bernama H. Kaddam Nahombang Bin Tuan Prael Nahombang (75 tahun) , menceritakan  kepada rombongan Tim Investigasi Cagar Budaya Asahan  yang dipimpin Alm. Bapak Zasnis Sulungs, Sabtu (9/7/2011). Nama “Nahombang” (dialek Batak = yang berkembang) itu sebenarnya bukan saja menjadi nama sebuah kerajaan yang memiliki pemerintahaan sejak abad ke 15 M (1498-1946). Tapi ia juga telah menjadi sebuah marga bagi keturunannya dan telah berkembang hingga sekarang, bukan saja di Asahan, tetapi juga telah tersebar kesegala penjuru tanah air. Tuan Guru H. Kaddam Sihombing kini sudah almarhum demikian juga Bapak Zasnis Sulung Marpaung.
Zasnis Sulung Mrp.
Alm H. Kaddam Sihombing di dampingi istri bersama Alm Bapak Zasnis Sulung Marpaung selaku  Ketua Tim Inventarisasi Situs Sejarah dan Cagar Budaya Kabupaten Asahan. Photo: Amiruddin Dolok Saribu Kader Konservasi Alam.
Dan cerita ini kembali saya tuliskan  untuk mengenang kedua tokoh masyarakat tersebut bersama rekan-rekan saya dan mengenang bahwa Desa Gonting Malah memiliki banyak sejarah agar generasi tidak pernah melupakan sejarah dan kampung halaman nya yakni Desa Gonting Malaha. Dan pada saat kisah ini  di mulai saya bersama Tim Inventarisasi Situs Sejarah dan Cagar Budaya Kabupaten Asahan saya hadir selaku putera daerah Gonting Malaha bersama rekan-rekan media dari Trans 7, Jawa Pos,  Harian SIB dan Harian Metro 24 Jam, Sabtu 9/72011.
Trans7
Abanganda Gandi dari media Trans 7 yang juga ketua IJTI Kabupaten Asahan bersama media Jawa Pos (Metro Asahan), Alm. Esmar Siagian dari Media Harian Sinar Indonesia Baru  (SIB), Amiruddin Dolok Saribu Harian Metro24jam, Forum Advokasi Ketahatan Hutan Tormatutung Asahan (Fakta) Bapak Kamaluddin Sitorus di lokasi Benteng Pertahanan Siganagana Sabtu 9/7/2011. Photo: Amiruddin Dolok Saribu Kader Konservasi Alam.

Sebelumnya, kata H. Kakdam, kerajaan Nahombang tercatat sebagai kerajaan Batak Toba yang tumbuh di negeri “Pardembanan” (sebelum bernama Asahan). Ia berasal dari rumpun marga Sihombing Lumbantoruan, berpusat di Huta Gugur, Bahal Batu, Siborong-borong, Tapanuli Utara sekarang.

Adapun tarombo atau silsilah Nahombang tersebut, ialah sebagai berikut : Nahombang adalah anak dari Oppu Raja Soaloon, anak dari Oppu Niadian, anak dari Oppu Raja Natarus, anak dari Datu Parulas, anak dari Tuan Hinalang, anak dari Huta Gurpun (Jumbat Nabolon), anak dari Lumbantoruan (Ina Br. Situmorang) dan anak dari Toga Sihombing.
PLTMH Gonting Malaha
Gua Boru Silalahi di lokasi PLTMH Gonting Malaha saat di abadikan rekan-rekan media. Photo: Amiruddin Dolok Saribu Kader Konservasi Alam.

Sampai dinasti ke-6, Raja Nahombang masih menganut budaya leluhurnya, yakni animisme dan dinamisme, atau yang lajim disebut “Pelebegu” (Pemuja Hantu), dengan adat istiadat “Dalihan Natolu”. Namun, semenjak kerajaan Nahombang tersebut diperangi oleh pasukan Aceh, maka Raja Nahombang bersama rakyatnya telah memeluk agama Islam, untuk menyesuaikan diri dengan induknya Kesultanan Asahan dan kerajaan Simargolang.


Memburu Siamang

Menurut H. Kakdam dalam Kisah nya menceritakan dihadapan Tim dan warga masyarakat, bahwa berdasarkan legenda yang hidup hingga sekarang dikalangan marga Nahombang, bahwa kehadiran Raja Nahombang ke daerah Asahan dahulu kala sebenarnya terjadi secara tidak sengaja.  " Nahombang yang sudah dewasa kala itu meninggalkan kampungnya di Huta Gurgur, Bahal Batu, merantau ke Porsea, terletak di tepian Tao (Danau) Toba. Di tempat perantauan ini dia bersama sejumlah orang, telah membuka hutan untuk dijadikan perladangan ". Tutur H. Kakdam.

Suatu hari, lanjut H. Kakdam, ketika Nahombang sedang asyik mengerjakan ladangnya, telah tergoda pada seekor monyet Siamang berbulu putih yang bertengger di dahan pohon meranti dekat gubuknya. Ketika itu ia sangat berminat untuk menangkap dan memelihara monyet yang lucu ini, karena baru kali inilah Nahombang pernah melihat monyet Siamang berbulu putih. Sebab itu, Nahombang telah mengambil senjata Tulupnya (Sumpitan), untuk “menembak” kaki monyet itu agar jatuh ke tanah. Tapi sayang, tembakan Nahombang selalu  gagal  mengenai sasaran, karena sang monyet pandai sekali mengelak.

Singkat cerita  H. Kakdam , sudah lebih dari sepuluh hari Nahombang memburu monyet itu dengan rasa penasaran , tapi selalu gagal mendapatkannya. Tanpa sadar saat itu Nahombang telah menjelajahi hutan rimba sampai jauh meninggalkan ladangnya. Tetapi Nahombang tetap bersikeras untuk mendapatkan Siamang berpulu putih itu. 

Dalam benak Nahombang, sepertinya monyet itu memiliki kesaktian atau bukan monyet sembarangan, dan memiliki misi tersembunyi untuk membawa Nahombang kesuatu tempat tertentu dengan maksud tertentu pula. Sampai akhir nya tanpa sadar Nahombang sudah tersesat jauh.

Dan akhirnya,  monyet tersebut  telah  membawa Nahombang sampai kesuatu peladangan yang penuh tanaman padi. Tanah peladangan ini kemudian diketahui milik Raja Simargolang dari Dinasti ke-III, yang bersemayam di Huta Pea Raja (sekarang Kampung Sawah, Desa Marjanji Aceh, Kecamatan Aek Songsongan). Sesampainya di sini, tiba-tiba saja monyet aneh itu telah raib dari pandangan. Sudah puas mencari, namun  Nahombang tak berhasil menemukan monyet buruannya.

Di tengah perasaan kesal, akhirnya Nahombang terpaksa memasuki gubuk  yang terdapat di tengah ladang tersebut, untuk beristirahat, menghilangkan kelelahannya. Seperti biasa, setiap pagi, ladang ini telah didatangi oleh para “hatoban” (pekerja) Raja Simargolang, untuk menjaga tanaman padinya agar tidak diganggu binatang. 

Namun,  pagi itu para “hatoban” tersebut  benar-benar terperanjat, ketika melihat sesosok tubuh tak dikenal sedang tertidur pulas di dalam gubuk mereka. Para “hatoban” itu pun heran, karena  menemukan satu keanehan dibagian kepala laki-laki itu, di mana sebelah dari kupingnya berdaun lebar, hampir selebar daun keladi boyan besarnya. 

Seorang dari “hatoban” itu akhirnya melaporkan temuannya kepada Raja Simargolang. Mendapat laporan ini. Raja Simargolang memerintahkan Hulubalang dan sejumlah prajurit kerajaan menangkap “pendatang haram” tersebut, guna pemeriksaan. Ketika itu juga Nahombang telah ditangkap tanpa perlawanan dan langsung dihadapkan kepada Raja Simargolang. 

Setelah ditanyai Raja Simargolang, maka laki-laki itu pun menjawab, bahwa namanya adalah Nahombang bermarga Sihombing Lumbantoruan, berasal dari Huta Gurgur, Bahal Batu, Siborong-borong dan telah merantau ke Porsea membuka tanah peladangan. Kemudian ia telah melihat seekor monyet Siamang berbulu putih, sehingga terpikat untuk memilikinya dan memburunya hingga sampai ke ladang padi di mana ia ditangkap. 

Mendengar cerita itu, Raja Simargolang pun tertawa terbahak-bahak, membuat yang mendengarnya kaget. Ketika itu Raja Simargolang  memetik-metikkan jari telunjuk dengan ibu jarinya bagaikan ingin memanggil sesuatu. Ternyata yang muncul adalah seekor monyet Siamang berbulu putih dan langsung meloncat ke atas bahu Raja Simargolang. “Coba kau lihat, apakah ini monyet yang kau buru itu?”, tanya Raja Simargolang. “ Benar Tuanku, itulah monyet yang hamba buru itu”, jawab Nahombang terheran-heran.

Kemudian Raja Simargolang menjelaskan bahwa monyet itu adalah binatang peliharaannya dan sudah lama menghilang. Malam  sebelumnya, kata sang raja, ia telah bermimpi. melihat monyet ini akan pulang membawa seorang laki-laki dari tempat jauh. Dari mimpi itu Raja Simargolang mengetahui bahwa Nahombang adalah orang baik, sehingga dapat diterima menjadi warga negeri “Pardembanan” (dialek Batak = tempat makan sirih) tersebut. 

Tadinya Raja Simargolang menyuruh tamunya untuk tinggal pada sebuah rumah dibelakang istana. Namun Nahombang lebih suka tinggal digubuk ladang tempatnya ditangkap tadi.  Alasannya, supaya ia bisa bekerja menjaga ladang tersebut, agar padinya tidak diganggu hewan. Raja Simargolang pun memperkenankannya. 

Betapa gembiranya Raja Simargolang ketika melihat hasil panennya tahun itu melimpah ruah. Hal ini bisa terjadi karena tak seekor burung atau binatang pun yang datang mengganggu tanaman padi itu. Ini semua akibat kepintaran Nahombang menjaga ladang rajanya itu. Demikian pula tahun berikutnya, hasil panen yang diperoleh Raja Simargolang pun berlipat ganda pula. 

Pasalnya,  karena Nahombang yang sangat giat bekerja tersebut, telah memperluas ladang padi rajanya hingga berpuluh hektar lagi. Itu pulalah yang membuat Raja Simargolang begitu sayang kepada Nahombang, sehingga bermaksud mengawinkannya dengan puteri tertuanya bernama Raja Manase Br. Simargolang. Tuan puteri ini memang berparas cantik, akan tetapi ia memiliki cacat, karena kedua matanya buta sejak kecil.

Ketika rencana perkawinan dengan Nahombang yang bergelar “Silambing Pinggol” (dialek Batak = sikuping besar)  ini disampaikan ayahandanya kepada Puteri Manase, ternyata sang Puteri  dapat menyetujuinya, dengan satu syarat. “Berikanlah pada beta pakaian yang tak lapuk dihujan dan tak lekang dipanas, supaya beta kelak dapat melihat dunia yang indah ini”, katanya pada ayahandanya.

Raja Simargolang pun mengerti maksud permintaan ananda puterinya itu. Dan pada hari yang baik, dilakukanlah acara pernikahan Nahombang dengan Puteri Raja Manase Br. Simargolang itu, dengan pesta besar selama tujuh hari tujuh malam. Kemudian acara perkawinan itu diakhiri dengan suatu acara khusus, di mana pasangan pengantin yang diiringi Raja Simargolang dan Permaisurinya, menaiki sebuah rumah anjungan terbuka yang memiliki dua belas anak tangga.

Setibanya di atas anjungan itu, maka Raja Simargolang pun bersabda  : “Wahai puteriku, dari tempat ini beta akan memberikan pakaian yang ananda minta, yakni pakaian yang tak lapuk dihujan dan tak lekang dipanas, berupa tanah pusaka bertuah, yang luasnya dari mulai puncak pegunungan Tormatutung hingga kebatas laut (Selat Malaka). Tanah ini beta serahkan kepada ananda berdua suami isteri, agar kamu dapat membangun kerajaan di sana, sampai keanak cucu nanti”, katanya.

Dengan kehendak Tuhan,  tiba-tiba saja kedua belah mata Puteri Raja Manase yang buta,  berubah dan dapat melihat pemandangan alam yang indah dari atas anjungan itu. “Ayah. ibu, suamiku, beta dapat melihat, beta sudah bisa melihat”, kata Puteri Manase berteriak sambil meloncat-loncat kegirangan. Mendengar ini, Raja Simargolang dan Permaisurinya terkejut,  seraya memeluk puterinya yang tercinta itu. Sedang Nahombang, juga turut menangis haru, menyaksikan perubahan pada isterinya yang terlihat semakin cantik ini. 

Diserang Aceh

Setelah upacara perkawinan yang meriah itu, maka Nahombang bersama isterinya telah diantar oleh Raja Simargolang bersama rombongan ke tempat barunya, yang kelak akan menjadi lokasi kerajaan Nahombang, terletak di Parhutaan Gana-Gana, sekarang Desa Gonting Malaha. Tak lama setelah Nahombang dinobatkan Raja Simargolang menjadi Raja bergelar Tuan di Parhutaan Gana-gana tersebut, maka kampung baru ini telah ramai dikunjungi atau ditempati warga yang datang dari Toba dan Simalungun. 

Akan tetapi lambat laun, Parhutaan Sigana-gana ini semakin padat penduduknya, sehingga Tuan Nahombang memindahkan istana dan pusat pemerintahannya ke Parhutaan Gunung di tepian Sei. Aek Tarum, yang tak jauh letaknya dari Parhutaan Gana-gana. Dari perkawinan Tuan Nahombang dengan permaisurinya Raja Ina Manase Br. Simargolang, telah melahirkan tiga orang anak laki-laki bernama  Tuan Manarsar Gunung, Tuan Gunung Maraja dan Tuan Domu Raja. 

Setelah Tuan Nahombang wafat, maka sebagai raja pengganti adalah putera tertuanya Tuan Manassar Gunung. Dan raja dinasti ke-II ini memiliki dua orang anak laki-laki, yakni Tuan Rajippu dan Tuan Jombahana. Dan yang menjadi raja selanjutnya adalah Tuan Rajippu, memiliki permaisuri Boru Silalahi, memperoleh tiga orang anak Pumarsupan, Siappede dan Puteri Sri Gunung bergelar Sisekkur.

Lalu, kerajaan Nahombang pun telah diperangi oleh pasukan kerajaan Aceh. Apa pasal ?. Dari sebuah buku legenda yang bertulisan tangan tahun 1979, karangan (Almarhum) Tuan Jahmaria alias Mursid Baharuddin Nahombang, bahwa latar belakang peperangan Aceh dengan kerajaan Nahombang, adalah disebabkan Raja Aceh ingin meminang puteri Tuan Rajippu, bernama Puteri Sri Gunung alias Sisekkur, tapi ditolak.

Lain legenda, lain pula fakta sejarah. Menurut sejarawan Zasnis Sulungs, penyerangan pasukan Aceh terhadap Kerajaan Nahombang tersebut, terjadi berkisar pada tahun 1568 M. Pasalnya, gara-gara Raja Simargolang bersama rombongannya telah menjadikan Kerajaan Nahombang sebagai tempat persembunyiannya, setelah digempur pasukan Aceh. 

Ketika itu, kata Zasnis, Sultan Aceh Alauddin Riayat Syah Al Qahhar, telah memimpin langsung armada angkatan perangnya menyerang Raja Simargolang dari Dinasti ke-V, yang bersemayam di Huta Raja (sekarang Kampung Pertandaan, Dusun Titi Putih, Desa Gunung Melayu, Kecamatan Rahuning). Raja Suimagolang telah dipersalahkan karena mengusir anandanya Sultan Asahan, Abdul Jalil Rakhmadsyah dari istananya di Tangkahan Sitarak (sekarang Desa Pulau Rakyat Pekan), hingga terpaksa menyingkir ke Batubara.
Kontributor Jawa Pos Media Group
Edwin Garingging Korlip Harian Metro Siantar-Asahan (Jawa Pos Media Group) saat melakukan liputan di lokasi Siganagana. Photo: Amiruddin Dolok Saribu Kader Konservasi Alam.

Serangan pasukan Aceh dengan peluru meriam secara bertubi-tubi ke Huta Raja tersebut, membuat istana dan rumah-rumah rakyat Simargolang hancur berantakan dan terbakar musnah. Akibatnya Raja Simargolang  bersama pembesar dan sisa pasukannya tak bisa mempertahankannya lagi, lalu melarikan diri ke Parhutaan Gunung, untuk berlindung di Kerajaan Nahombang.

Namun, pasukan Aceh terus memburu Raja Simargolang sampai ke Parhutaan Gunung melalui Sei. Aek Tarum, sehingga kerajaan Nahombang yang berada di tepi sungai kecil itu menjadi korban, akibat secara bertubi-tubi dibombardir peluru-peluru meriam. Untuk menjelaskan bagaimana hebatnya serangan meriam-meriam pasukan Aceh itu, dapat didengar dari suatu legenda yang menyatakan beberapa buah dari meriam Aceh tersebut, ada yang sampai meleleh bagaikan menangis, karena kepanasan ketika memuntahkan peluru-pelurunya menggempur Kerajaan Nahombang itu. Daratan yang dijadikan tempat meriam itu, hingga saat ini dinamakan kampung “Tangisan Meriam”, sekarang masuk Desa Batu Anam, Kecamatan Rahuning, Asahan.

Ketika itu, isteri Tuan Rajippu, bernama Boru Silalahi, tak bisa lagi lari kemana-mana untuk menyelamatkan diri, karena dalam keadaan hamil berat. Lalu, dia telah dibawa sejumlah pengawal dan inang pengasuhnya masuk ke dalam gua dibalik sebuah air terjun, yang kemudian hari dinamakan air terjun Silalahi. Kemudian Boru Silalahi telah melahirkan anak laki-lakinya di sana. 

Sedang Raja Simargolang dan Tuan Rajippu Nahombang pada mulanya telah lari ke Desa Buntu Maraja. Akan tetapi disebabkan tetap merasa terancam jiwanya, maka akhirnya mereka menyerah kalah dan membuat perjanjian perdamaian dengan Sultan Aceh di Huta Pea Raja (sekarang Marjanji Aceh), Kecamatan Aek Songsongan, Asahan. 
Alm. Bapak Zasnis Sulung Marpaung ketika melakukan penelitian di lokasi Siganagana. Photo: Amiruddin Dolok Saribu Kader Konservasi Alam.

Di dalam upacaram perdamaian itu, Raja Simargolang dan Tuan Rajippu Nahombang berikut raja-raja hulu lainnya yang terlibat dalam peperangan itu, telah berjanji takluk ke bawah duli Sultan Aceh dan anandanya Sultan Asahan, Abdul Jalil Rakhmadsyah. Sejak saat itu Kerajaan Simargolang dan Kerajaan Nahombang ditetapkan sebagai kerajaan kecil yang mengabdi kepada Kesultanan Asahan. 

Selanjutnya Kesultanan Asahan berikut Kerajaan Simargolang dan Kerajaan Nahombang, akhirnya runtuh dan tak pernah bangkit lagi, setelah terjadinya aksi  “Revolusi Sosial” bulan Maret 1946. Kekuasaan sistem monarkhi itu dituduh sebagai kaki tangan penjajah Belanda, feodalis dan pengisap darah rakyat, sehingga banyak raja dan kaum bangsawan yang dieksekusi secara liar ***

PERMINTAAN  H. KAKDAM.
Tuan Guru
Alm. H. Syeikh  Kaddam Sihombing. Photo: Amiruddin Dolok Saribu Kader Konservasi Alam.

Mengingat usia nya yang sudah renta dan saat ini dalam perawatan karena sakit yang diderita nya, ia pun masih semangat menceritakan riwayat Raja Nahombang di depan para Tim dan Warga masyarakat saat itu. " Kami bermohon kepada Tim dan Pemkab Asahan agar situs tersebut janganlah hanya tinggal sejarah saja, mengingat patung-patung tersebut tidak terawat dan semak belukar hendak nya lah di pugar dan di buat menjadi tempat wisata budaya walaupun hanya tingkat desa ". Pinta H. Kakdam merendah. Minggu (24/7/2011).

Dan kepada teman saya Zasnis semasa masih kecil, imbuh H. Kakdam, tengok-tengoklah saya yang sakit-sakitan ini, janganlah lupakan saya, kira nya sejarah ini menjadi berguna dan ada yang di kenang oleh keturunan-keturunan Nahombang. Di usia nya yang renta dan sedang dalam masa perawatan sakit Pankreas baru habis di operasi. H. Kakdam tidak menyangka bisa hidup lagi dan bisa menceritakan sejarah Raja Nahombang  tersebut.
Parhutaan Gunung
Sisa-sisa bukti sejarah Benteng Pertahanan Raja Nahombang tampak dari depan.Photo: Amiruddin Dolok Saribu Kader Konservasi Alam. 


"saya kira, saya tidak bisa hidup lagi, tapi syukurlah Tuhan masih memanjangkan umur saya agar riwayat ini tidak terkubur ". Tutur H. Kakdam. H. Kakdam kini masih terbaring dalam perawatan untuk memulihkan kondisi nya yang kurus sehabis operasi di Rumah sakit H. Adam Malik Medan sebulan yang lalu. Kemudian H. Kakdam juga meminta agar pemkab Asahan jangan melupakan sejarah. " Hidupkan kembali sejarah itu, ingatlah Bandar Pulau ini penuh dengan sejarah, baik sejarah budaya dan sejarah perjuangan sesuai dengan Tugu Perjuangan Bandar Pulau ". Tutur H. Kakdam. Dan , lanjut H. Kakdam, perhatikanlah kampung halaman kami yang sangat jauh di pelosok ini, di bawah untaian kaki bukit Tormatutung.
Parhutaan Gunung
Benteng Pertahanan Raja Nahombang tampak dari belakang. Photo: Amiruddin Dolok Saribu Kader Konservasi Alam. 


H. Kakdam memiliki seorang Istri bernama Marliah Boru Marpaung memiliki keturunan sebanyak 8 orang, empat laki-laki dan empat perempuan bermukim di Dusun I Desa Gonting Malaha, Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan. H. Kakdam juga di kenal sebagai Tokoh agama, pemimpin Jama'ah Persulukan Thariqat Nagsyabandiyah pondok pesantren Darussalam sebagai Guru Mursyid di Desa Gonting Malaha. 

APA YANG DAPAT DI PETIK DARI KISAH INI.

Tokoh masyarakat Desa Gonting Malaha sudah banyak yang berpulang kehadirat Ilahi, namun sejarah tidak pernah hilang dan jangan sekali-kali melupakan sejarah. Generasi penerus harus lebih mencintai sejarah bangsa nya, lingkungan di mana kita berada. Dan pemerintah harus memperhatikan ketertinggalan di bidang infrastruktur dan bidang lain nya.

Selain itu setiap situs-situs cagar budaya harus di lestarikan menjadi warisan generasi yang akan datang untuk penelitian dan perkembangan ilmu sosial kemasyarakatan, budaya dan tekhnologi pada umum nya. Sebab dengan bukti sejarah tersebut kita dapat membuat perbandingan dan pemetaan peradaban dahulu dan yang akan datang. Janganlah Gonting Malaha 'kala susah di kenang kala senang di lupakan' ini yang selalu di ungkapkan alm. H. Syeikh Kaddam Sihombing setiap tampil di podium ketika di minta pemerintah untuk memberi wejangan sepatah dua patah kata.
Kompleks Makam
Wartawan media elektronik dari Trans7 Bang Syahriful Gandi saat melakukan liputan di lokasi Patung Siganagana. Photo: Amiruddin Dolok Saribu Kader Konservasi Alam. 
Dan kepada oknum yang telah mencuri Patung Siganagana semoga sadar apa yang telah dilakukan nya dengan mengambil patung tersebut. Kemudian bukti-bukti sejarah yang lain nya agar tetap terpelihara dan di lestarikan. 

Baca Juga:


Popular posts from this blog

BARUS KOTA BERTUAH MINIATUR DAN DIMENSI SPRITUAL DARI PUNCAK MAKAM PAPAN TINGGI

Makam Tuan Syeikh Mahmud Barus di Papan Tinggi Desa Pananggahan, Kec. Barus Utara, Kabupaten Tapanuli Tengah-Sumut, sebagai Pembawa Syiar Agama Islam di Indonesia. Dari atas puncak Papan Tinggi atau yang biasa di sebut masyarakat setempat dengan sebutan Tompat atau Tangga Seribu menyimpan dimensi spritual yang tersembunyi. Dari atas terlihat hamparan pemukiman kota Barus dengan bentangan  samudera Hindia sebagai gerbang masuk nya Agama Kristen dan Islam di Indonesia dengan kekayaan Sumber Daya Alam ( SDA ) yang pada zaman itu yakni kapur barus. (Baca : Rekam Jejak Barus)

Munas VI Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) 2017 TN Baluran

TN Baluran (Kader Konservasi Alam)

Usai kegiatan Jambore Nasional Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 8-10 Agustus di Taman Nasional (TN) Baluran, Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur, Baca; Jambore Nasional HKAN 2017 Seluruh jajaran pengurus FK3I Provinsi se-Indonesia bersama Kader Konservasi Alam (KKA) melakukan Musyawarah Nasional (Munas) ke-VI 11-12 Agustus 2017 di Taman Nasional Baluran, Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur untuk menentukan pengurus periode 2017-2022. Sesuai dengan tema HKAN 2017 Konservasi ALam Konservasi Kita.hingga tingkat tapak.

Bara JP Tapteng Dikukuhkan, Mantan Trio KPUD Turut Bidani.

Tapanuli Tengah, Sumatera Utara-Kader Konservasi Alam (KKA)  Pasca terbit nya Surat Keputusan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Barisan Relawan Jokowi Presiden (Bara JP) No. 043/K-Wil/DPP/Bara JPresiden/IX/2017 tanggal 7 September 2017 oleh Ketua Umum DPP Bara JP Sihol Manulang dalam satu poin nya Menugaskan Kabul Lumban Tobing (sebagai Koordinator), Adrin Ndraha dan Nursarifah Sitompul (sebagai Anggota) untuk menjalankan roda organisasi Barisan Relawan Jokowi Presiden Tapanuli Tengah secara kolektif kolegial selaku Caretaker Dewan Pengurus Cabang (DPC) Barisan Relawan Jokowi Presiden Tapanuli Tengah serta mempersiapkan dan melaksanakan Konferensi Cabang Luar Biasa DPC BaraJP Tapanuli Tengah selambatnya dalam tempo 60 (enampuluh) hari untuk memilih dan menetapkan Pengurus Definitif Barisan Relawan Jokowi Presiden Tapanuli Tengah. 

Pertamina TBBM I Kisaran Konservasi Mangrove Asahan

ASAHAN, metro24jam.com – Berangkat dari fungsi sebagai penjaga garis pantai dari abrasi dan terjangan tsunami, yang melatarbelakangi dilakukannya kegiatan penanaman pohon Mangrove sebanyak 48.000 pohon Mangrove atau seluas 12 Ha di Desa Silau Baru, Kecamatan Silau Laut, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, Selasa (13/12/2017).