Skip to main content

BBKSDA apresiasi masyarakat peduli konservasi

Foto: M Salim
Lomba Penghijauan dan Konservasi alam “Wana Lestari” tahun 2017 lingkup Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara sudah berakhir di gelar, diikuti puluhan peserta dari Kader Konservasi Alam (KKA) dan Kelompok Pencinta Alam (KPA) dan juga Sispala.
"BBKSDA memberikan apresiasi dalam bentuk penghargaan kepada mereka yang peduli terhadap konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya," kata Kepala BBKSDA Sumatera Utara, Hotmauli Sianturi kepada Kontributor Elshinta, M Salim, Kamis (20/7/2017).

Penghargaan dan hadiah yang diberikan kepada mereka tidak sebanding dengan apa yang telah mereka perbuat dilapangan terkait dengan konservasi, tapi apresiasi ini salah satu bentuk penghargaan dari pemerintah agar teman-teman KKA, Mapala dan Sispala tetap semangat dan eksis dilapangan untuk melestarikan alam ini.
Kegiatan seremoni semacam ini diadakan setiap tahun, tetapi Hotmauli berharap, untuk tahun depan kegiatan ini dilakukan diluar kantor atau dirangkai dengan kegiatan konservasi, penghijauan atau juga pelepasan satwa secara bersama-sama agar kegiatan tersebut terlihat oleh masyarakat lainnya, sehingga dapat menggugah masyarakat lainnya untuk ikut dalam upaya pelestarian lingkungan.
Selain itu Hotmauli juga berharap, para pemenang lomba Wana Lestari tahun-tahun sebelumnya diundang dan juga kader-kader konservasi yang ada sehingga dapat berkumpul dan saling mengenal.
“Saya berharap tahun berikutnya kegiatan semacam ini dilaksanakan dalam sebuah event dilapangan ada aksi konservasi yang dapat menggugah hati masyarakat untuk peduli terhadap lingkungan,” harapnya.
Sispala SMA Negeri 1 Brastagi juga mengalungkan bunga kepada Kepala BBKSDA, Kabag TU dan Kabid Teknis dan Pembina KKA, Mapala dan Sispala sebagai bentuk ucapan terima kasih.
Sambutan juga disampaikan oleh KKA Amiruddin Dolok Saribu, dimana dia menyampaikan ucapan terima kasih atas apresiasi yang diberikan kepada para kader, Mapala dan Sispala. Amir mengaku hadiah bukanlah tujuan utama daripada para penggiat konservasi tapi bagaimana alam tetap lestari dengan peran serta para masyarakat itu yang menjadi tujuan utama.
"Kami berbuat ikhlas sebagaimana yang diajarkan pada setiap agama bahwa melestarikan lingkungan merupakan perintah agama, dan dalam kitab suci agama saya dinyatakan bahwa tampak kerusakan dimuka bumi ini, yang disebabkan oleh tangan manusia yang tidak bertanggung jawab," ujarnya.
Sementara itu peraih juara lomba Penghijauan Wana Lestari Lingkup BBKSDA Sumut yang dibacakan oleh Kepala Bidang Teknis masing-masing untuk kategori KKA juara I Amiruddin Dolok Saribu dari Kabupaten Asahan, juara II Mhd Said dari Kabupaten Langkat, juara III M Salim dari Kabupaten Langkat, sementara itu untuk Mapala juara I Mapala Universitas Medan Area, untuk Sispala juara I SMA Negeri 1 Brastagi Kabupaten Karo.
Kepada masing-masing pemenang mendapatkan piagam penghargaa dan juga alat untuk membantu kerja dilapangan berupa kamera GoPro. Acara tersebut juga dihadiri oleh Kabag TU Tri Atmodjo, Kabid Teknis Irzal Azhar, Pembina KKA, Mapala, Sispala Ida Marni Ginting, serta staf BBKSDA Sumut.
Penulis: Angga Kusuma.
Editor: Sigit Kurniawan. 

Popular posts from this blog

BARUS KOTA BERTUAH MINIATUR DAN DIMENSI SPRITUAL DARI PUNCAK MAKAM PAPAN TINGGI

Makam Tuan Syeikh Mahmud Barus di Papan Tinggi Desa Pananggahan, Kec. Barus Utara, Kabupaten Tapanuli Tengah-Sumut, sebagai Pembawa Syiar Agama Islam di Indonesia. Dari atas puncak Papan Tinggi atau yang biasa di sebut masyarakat setempat dengan sebutan Tompat atau Tangga Seribu menyimpan dimensi spritual yang tersembunyi. Dari atas terlihat hamparan pemukiman kota Barus dengan bentangan  samudera Hindia sebagai gerbang masuk nya Agama Kristen dan Islam di Indonesia dengan kekayaan Sumber Daya Alam ( SDA ) yang pada zaman itu yakni kapur barus. (Baca : Rekam Jejak Barus)

Pancur Napitu Merah Putih Alur Danau Toba dan Legenda Sisingamangaraja

Pancur Napitu di temukan pada tahun 1833 oleh sekelompok masyarakat Batak saat membuka perkampungan Parhutaan Maria Gunung di Dusun I, Desa Gunung Berkat, Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara. Pancur Napitu arti nya 7 sumber mata air yang keluar dari batu. Meskipun saat musim kemarau mata air tersebut tidak pernah kering dan bila saat musim  penghujan 7 mata air tersebut tetap mengeluarkan air yang jernih.

SUNGAI ASAHAN DALAM MINIATUR PEMBENTUKAN KABUPATEN BANDAR PULAU YANG BAROKAH

Oleh: Amiruddin Dolok Saribu Alias Tombak Nagara
Sungai Asahan berasal dari Danau Toba Kabupaten Tobasa dengan melintasi pegunungan hutan lindung Tormatung Asahan mengalir dan membelah sejumlah desa-desa di Kabupaten Asahan, Tobasa dan bermuara ke Kota Madya Tanjung Balai membaur ke pantai laut Selat Malaka. Sungai Asahan merupakan kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) masyarakat Kabupaten Asahan, Sumatera Utara. Salah satu yang membuat Sungai Asahan mendunia karena sering menjadi tempat ajang perlombaan arum jeram bertaraf international. Namun sejak di bangun nya PLTA Asahan III arung jeram sudah tidak terdengar lagi kabar nya.

Tugu Perjuangan Bandar Pulau 'Susah di kenang senang di lupakan'

Tungu Perjuangan Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara, merupakan bukti sejarah sebagai Pengibar pertama sangsaka Merah Putih di Asahan. Bandar pulau akan selalu di kenang, banyak putera-putri Bandar Pulau yang sudah berhasil di luar daerah, jadi apabila melihat photo ini pasti akan terkenang dengan Kampung halaman nya.

Tugu Sarang Helang 'Dikenang Sifat Kesatria Rakyat Asahan'

Selain Tugu Perjuangan Bandar Pulau yang terletak di Desa Bandar Pulau Pekan, Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara, (Baca:Tugu Perjuangan Bandar Pulau masih ada satu lagi sebuah Tugu Perjuangan Sarang Helang yang terletak di Desa Sarang Helang, Kecamatan Sei Kepayang Timur, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara.