Skip to main content

Pancur Napitu Keadilan Hutan Dana Desa Dan Peran CSR

Sumber Mata Air
Pancur Napitu Mata Air dari Batu (Photo : Amiruddin Dolok Saribu Kader Konservasi Alam)
Seperti yang telah kami kemukakan pada tulisan Pancur Napitu Merah Putih Danau Toba Dan Legenda Sisingamangaraja bahwa Pancur Napitu sangat potensial di kembangkan menjadi icon Desa Gunung Berkat yang berbatas langsung dengan sebaran hutan lindung Tormatutung 1/A Asahan. Potensi yang kaya dengan Sumber Daya alam (SDA) hendak nya dapat menjadi perkampungan yang ramah lingkungan atau ikut dalam program Pro Iklim (Proklim) Kementerian Lingkungan Hidup  dan Kehutanan Republik Indonesia.

Dari Pancur Napitu ini bisa di kebut berbagai program kegiatan masyarakat karena telah terhubung dalam ruang pariwisata desa. Sebut saja Pancur Napitu berbatas alam dengan PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate (BSRE) Desa Perkebunan Aek Tarum. Dalam pandangan kami selaku Kader Konservasi Alam (KKA) Pancur Napitu harus di lirik oleh perusahaan dalam program pemberdayaan masyarakat berwawasan lingkungan dan pariwisata desa. Dalam hal ini untuk menguji Coorporate Social Responsibility (CSR), ISO 14000, 14001 dan Proper Hijau Standart Management Lingkungan (SML) PT. BSRE.
Keadilan Air
Pancur Napitu (Photo : Go Pro Amiruddin Dolok Saribu Kader Konservasi Alam)

Muda-mudi kampung beserta tokoh masyarakat Desa Gunung Berkat dapat membuat Rancangan Tekhnis (Rantek) nya dalam usulan keadilan CSR dan Keadilan Hutan di mana masyarakatlah yang telah berperan dalam menjaga kelestarian hutan lindung. Pemberdayaan masyarakat Desa Gunung Berkat yang bersempadan dengan kawasan hutan lindung dan bersempadan dengan perusahaan hendak nya menjadi telaahan bersama dalam mendorong percepatan Hutan Kemasyarakatan (HKm) dan Jasa Lingkungan serta Wisata Desa.
Bak Pancur Napitu
Kejernihan Air Pancur Napitu di dalam Bak (Photo : Go Pro amiruddin Dolok Saribu Kader Konservasi Alam)
Dalam amatan kami langsung terjun lapangan selaku Kader Konservasi Alam antusiasme masyarakat begitu terlihat dalam mengelola desa nya dan berlomba-lomba dalam meningkatkan perekonomian nya. Muda-Mudi Desa Gunung Berkat begitu antusias membenahi Pancur Napitu. Sampah-sampah yang terkumpul dan pohon-pohon di sekitar nya di lestarikan dan perlu penanaman-penaman pohon baru tentu nya agar suana di kemudian hari semakin sejuk. Pohon-pohon tersebut dapat menyerap dan menjerap karbon serta menghasilkan oksigen.
Pancur Napitu
Tertib Sampah Pancur Napitu (Photo : Amiruddin Dolok Saribu Kader Konservasi Alam)
Untuk mewujudkan impian tersebut perlu di susun sebuah formula yang dapat menghasilkan modal desa dalam mengelola dan mengembangkan desa nya. Sebut saja perlu di bentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Gunung Berkat yang di dampingi oleh Kader Konservasi alam (KKA), Kelompok Masyarakat Mitra Konservasi (KMMK), dan Kelompok Tani Hutan bahkan di harapkan Peran Bumdes atau dana Desa dapat menjadi stimulan awal untuk mewujudkan hal tersebut. Sehingga masyarakat terberdayakan dan dapat membangun ide-ide kreatif desa menuju Program Kampung Iklim (Proklim) yang bersertifikat dari KLHK RI. Benefid nya apa, out put dan out come nya, sudah barang tentu masyarakat sejahtera, cerdas dan berwawasan lingkungan. Baca Juga : Lomba Penilaian KKA dan KPA
Kebeningan Air Melebihi Kaca
Pancur Napitu Mata Air Dari Batu Kejernihan melebihi kaca. ( Photo : Go Pro Amiruddin Dolok Saribu Kader Konservasi Alam)

Keadilan hutan, keadilan CSR dan dana Desa haruslah menjadi prioritas agar sumber-sumber daya alam yang ada dapat terproteksi dan bijak dalam pemanfaatan nya sebab pada praktek nya telah diatur dalam sebuah rantek pilantrofi bermanfaat secara luas. Perusahaan tidak boleh menutup mata terhadap desa-desa sempadan nya demikian hal nya pemerintah desa harus lebih giat lagi dalam memberdayakan desa dan masyarakat serta mendongkrak sumber-sumber dana percepatan pembangunan desa dan lingkungan.




Popular posts from this blog

Pancur Napitu Merah Putih Alur Danau Toba dan Legenda Sisingamangaraja

Pancur Napitu di temukan pada tahun 1833 oleh sekelompok masyarakat Batak saat membuka perkampungan Parhutaan Maria Gunung di Dusun I, Desa Gunung Berkat, Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara. Pancur Napitu arti nya 7 sumber mata air yang keluar dari batu. Meskipun saat musim kemarau mata air tersebut tidak pernah kering dan bila saat musim  penghujan 7 mata air tersebut tetap mengeluarkan air yang jernih.

BARUS KOTA BERTUAH MINIATUR DAN DIMENSI SPRITUAL DARI PUNCAK MAKAM PAPAN TINGGI

Makam Tuan Syeikh Mahmud Barus di Papan Tinggi Desa Pananggahan, Kec. Barus Utara, Kabupaten Tapanuli Tengah-Sumut, sebagai Pembawa Syiar Agama Islam di Indonesia. Dari atas puncak Papan Tinggi atau yang biasa di sebut masyarakat setempat dengan sebutan Tompat atau Tangga Seribu menyimpan dimensi spritual yang tersembunyi. Dari atas terlihat hamparan pemukiman kota Barus dengan bentangan  samudera Hindia sebagai gerbang masuk nya Agama Kristen dan Islam di Indonesia dengan kekayaan Sumber Daya Alam ( SDA ) yang pada zaman itu yakni kapur barus. (Baca : Rekam Jejak Barus)

REKAM JEJAK BARUS

Pesan Prof Dr. Meutia Hatta kepada Wartawan ( Pers )
" Tulislah sesuatu tentang Barus karena Barus ini bagian dari kebanggaan Nasional, dan juga Jati Diri kita, identitas Nasional karena ini menunjukkan peradaban Indonesia yang lama yang mungkin juga di lupakan orang. Bahkan mungkin bisa menjawab apakah masyarakat Bahari itu juga ada disini. Kita selalu berpikir Indonesia Timur, tapi mungkin disini juga ada. Apalagi disini memungkinkan ada pelabuhan dan sebagai nya. Ini harus ada klaim budaya, tapi klaim budaya itu baru bisa di lakukan apabila sudah ada bukti-bukti yang cukup. Jadi saya kira wartawan juga ikut mendorong . Tapi tolong juga di ingat kan karena wartawan itu ( Pers ) juga mempunyai pungsi mendidik Bangsa. Jadi tolonglah sifat " Tak Kenal Maka Tak Sayang " itu hilang dari perasaan terutama anak-anak muda kita yang duduk di SD sampai dengan Perguruan Tinggi. Jadi saya kira itu harapan saya bagi pers. Mari Pers ikut mendidik Bangsa". ( Amanat Pr…

Tugu Perjuangan Bandar Pulau 'Susah di kenang senang di lupakan'

Tungu Perjuangan Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara, merupakan bukti sejarah sebagai Pengibar pertama sangsaka Merah Putih di Asahan. Bandar pulau akan selalu di kenang, banyak putera-putri Bandar Pulau yang sudah berhasil di luar daerah, jadi apabila melihat photo ini pasti akan terkenang dengan Kampung halaman nya.

MENGUNGKAP MISTERI PATUNG SI GANAGANA GONTING MALAHA YANG KINI TELAH HILANG

Tim Inventarisasi Situs Sejarah dan Cagar Budaya Kabupaten Asahan yang dibentuk Bupati Asahan, Drs. H. Taufan Gama Simatupang, MAP, melalui SK 204-Porbud/2011, tanggal  31 Mei 2011 telah  berhasil menyingkap misteri Situs Sejarah penting yang selama ini tersembunyi dari perhatian publik. Namun misteri tersebut juga telah lenyap dengan hilang nya keberadaan patung Siganagana 5 tahun silam tidak berapa lama setelah Tim Inventarisir mengungkapkan nya.