Skip to main content

Pancur Napitu Merah Putih Alur Danau Toba dan Legenda Sisingamangaraja

7 Sumber Mata Air keluar dari batu
Amiruddin Dolok Saribu (Kader Konservasi Alam) di lokasi Pancur Napitu  (Photo : Amiruddin Dolok Saribu)

Pancur Napitu di temukan pada tahun 1833 oleh sekelompok masyarakat Batak saat membuka perkampungan Parhutaan Maria Gunung di Dusun I, Desa Gunung Berkat, Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara. Pancur Napitu arti nya 7 sumber mata air yang keluar dari batu. Meskipun saat musim kemarau mata air tersebut tidak pernah kering dan bila saat musim  penghujan 7 mata air tersebut tetap mengeluarkan air yang jernih.
Kejernihan mata ir tersebut melebihi kejernihan kaca, intensitas air dan dimensi kejernihan nya memanjakan mata bagi pengunjung dan tidak bosan-bosan untuk memandang nya secara berulang-ulang dan berdecak kagum atas kebesaran alam. Di lokasi inilah tempat masyarakat pertama kali nya mengibarkan sangsaka merah putih pada tanggal 17 Agustus 1945 selain daripada di Tugu Perjuangan Bandar Pulo. 

Riwayat tidak penah mati di kalangan masyarakat Desa Gunung Berkat, bahwa Pancur Napitu memiliki legenda dari keajaiban Tongkat Sisingamanagaraja saat mengembara ke Desa Gunung Berkat atau Maria Gunung, hingga ke Desa Aek Nagali dan Sumur Sisisngamagaraja di Bandar Pasir Mandoge.
Ekspedisi Kader Konservasi Alam
Amiruddin Dolok Saribu (Kader Konservasi Alam) mengabadikan momen telaga Pancur Napitu
Di sisi lain Pancur Napitu diyakini masyarakat Desa Gunung Berkat dimana 7 sumber mata air tersebut berasal dari alur bawah tanah Danau Toba, pasal nya setiap tahun nya warga sering menemukan sekampadi keluar dari sumber mata air tersebut. Di sisi laen pameo masyarakat melegendakan 7 sumber mata air Pancur Napitu terjadi karena akibat pukulan tongkat sakti Raja Sisisngamangaraja saat rombongan mendirikan tenda peristirahatan dan sulit menemukan air bersih.
Sumber air keluar dari celah batu
Sumber mata air Pancur Napitu keluar dari celah batu. (Amiruddin Dolok Saribu-Kader Konservasi)
Riwayat tersebut berkembang biak namun masih setakat pameo masyarakat belum ada penelitian khusus secara akademisi, namun masyarakat tetap menyakini dan menurunkan riwayat tersebut secara turun temurun hingga sampai sekarang. Dan, sampai sekarang masyarakat menjadikan area Pancur Napitu menjadi objek wisata desa bersama keluarga sebagai tempat berkumpul nya para perantau dari dalam dan luar negeri untuk merekatkan silaturahmi.
Miki Marpaung dan ramli Marpaung
Keluarga Ramli Marpaung di Pancur Napitu

Para pelajar pun dan mahasiswa sering menjadikan objek wisata desa tersebut menjadi arena bermain bersama dari dalam dan luar daerah. Mula nya Pancur Napitu sepi dari pemberitaan dan kunjungan wisata, namun tahun 2017 sekumpulan anak-anak Sekolah Menengah Pertama, SMA dan Mahasiswa Desa Gunung Berkat merenovasi Pancur Napitu dengan swadaya sendiri dan ramai di perbincangkan di media sosial.
Kawasan Hutan Lestari
Pemuda Desa Gunung Berkat di area Pancur Napitu dengan kawasan hutan alam lestari.

Camat Bandar Pulau Triharja, beserta Kepala Desa tidak ketinggalan ikut menjadikan tempat tersebut menjadi tujuan dalam pertemuan arisan para kepala desa serta kaur nya.
"Mereka penasaran dengan Pancur Napitu karena booming dan camat menghubungi kami akan berkunjung ke Pancur Napitu bersama para Kepala Desa,"kata Fery Samosir, Kepala Desa Gunung Berkat, Kamis 28/9/2017 saat Tim Kader Konservasi Alam bersilaturahmi di kediaman nya.
Bocah Berselfie
Bocah berselfie di Pancur Napitu (Photo: Amiruddin Dolok Saribu-Kader Konservasi)
Pancur Napitu kini menjadi objek wisata desa bersama arti nya tidak berorientasi bisnis pariwisata melainkan di kembangkan secara bergotong royong oleh pemuda/i Desa Gunung Berkat dibantu dengan keterlibatan dan dukungan Kepala Desa Fery Samosir bersama tokoh masyarakat agar keindahan dan kejernihan mata air Pancur Napitu tetap lestari menjadi ikon Desa Gunung Berkat.
"Setiap hari muda-mudi ramai berkumpul di Pancur Napitu kadang mereka minta bantuan kita beri walau masih setakat alakadar nya, namun yang pasti kita support kegiatan mereka untuk hal-hal yang positif,"terang Fery Samosir.
Muda Mudi Memasak
Muda-Mudi, masak-memasak di sekitar Pancur Napitu (Photo : Amiruddin Dolok Saribu Kader Konservasi)
Di sekitar Pancur Napitu masih di tumbuhi hutan alam asli bertaut dengan Daerah Aliran  Sungai (DAS) Aek Sakkur. Namun masih banyak yang harus di tata agar Pancur Napitu dapat di jadikan tempat arena Kemah Bersama dan di bangun jalan terasering untuk pondok panjang tempat pertemuan para Kader Konservasi dan Pramuka melihat potensi sumber mata air jernih dan dengan pepohonan hutan yang masih asli yang tidak berstatus kawasan hutan.
Telaga
Telaga Pancur Napitu (Photo : Amiruddin Dolok Saribu Kader Konservasi)
GUNUNG BERKAT , PASAR BELANDA DAN PERANG GERILYA

Desa Gunung Berkat sama hal nya dengan Maria Gunung, di ujung desa tersebut terdapat dusun Pargambiran dan tembus ke Pasar Belanda kawasan Hutan Lindung Tormatutung 1/A. Pada tahun 2006 kami bersilaturahmi ke rumah seorang tokoh masyarakat yang bergelar Tuan Guru Alm. Syeikh Khalipah Makmur Marpaung bersama Bakhtiar Marpaung. Almarhum menceritakan bahwa Gunung Berkat merupakan tempat persembunyian para gerilyawan pejuang kemerdekaan RI dan beliau salah satu ikut di dalam nya terlibat dalam menentang aksi penjajahan Belanda. 
Ekspedisi Kader Konservasi Alam
Pasar Belanda atau Pasar Tobasa saat ekspedisi Amiruddin Dolok Saribu Kader Konservasi Alam. (Photo : Amiruddin Dolok Saribu Kader Konservasi Alam)
Pasar Belanda biasa disebut oleh masyarakat dengan Pasar Toba karena menghubungkan ke Meranti, Halado, Pintu Pohan Kabupaten Tobasa. Namun Pasar Toba tersebut kini telah musnah akibat kekejaman izin koridor yang melenceng oleh salah satu perusahaan. Dan, Gunung Berkat atau Maria Gunung merupakan pasar lintasan masyarakat pedagang Toba atau pasar Pangallung menuju Tanjung Balai. dan Tidak Jauh dari Gunung Berkat di temukan Tugu Ibu Simardan dan di Pasar Belanda ujung Pargambiran di temukan makam adik Simardan bernama Sitiomina.
Pasar Belanda
Makam Sitiomina di Pasar Toba. (Photo: Amiruddin Dolok Saribu Kader Konservasi Alam)
Pancur Napitu Wisata Desa dan Perekat Persaudaraan.
Setiap hari Pancur Napitu ramai di kunjungi orang walau masih berbasis lokal namun Pancur Napitu menjadi tempat berkumpul para sanak saudara Desa Gunung Berkat dari dalam dan luar daerah guna mempererat tali silaturahmi yang masih kental dengan adat budaya batak yang di kenal dengan Dalihan Natolu. Dahulu Aek Sugapa di Pargambiran yang menjadi arena rekreasi desa Gunung Berkat. Sudah tidak asing bagi masyarakat kumpul dan makan bersama dengan makanan yang biasa di sebut holat dan limas. Holat dan Limas ciri khas masakan adat budaya batak yang tetap di lestarikan oleh masyarakat Desa Gunung Berkat.


Dengan kebersamaan dan rasa kekeluargaan objek-objek wisata Desa Gunung Berkat seperti Pancur Napitu, Aek Sugapa, Si Begu-Begu menjadi tempat berkumpul bersenang-senang menikmati pemandangan alam dan makan khas Holat dan Limas.
Baca Juga :
1. MENGUNGKAP MISTERI PATUNG SI GANAGANA GONTING MALAHA YANG KINI TELAH HILANG
2. Pancur Napitu Keadilan Hutan Dana Desa Dan Peran CSR
3. MENJAGA ALAM MEMBAWA BERKAH, MENULIS MEMBAWA BERKAH, MANGROVE ASAHAN MEMBAWA BERKAH, THANKS PERTAMINA KISARAN
4. LOMBA PENILAIAN KKA DAN KPA
5. BBKSDA apresiasi masyarakat peduli konservasi

Popular posts from this blog

BARUS KOTA BERTUAH MINIATUR DAN DIMENSI SPRITUAL DARI PUNCAK MAKAM PAPAN TINGGI

Makam Tuan Syeikh Mahmud Barus di Papan Tinggi Desa Pananggahan, Kec. Barus Utara, Kabupaten Tapanuli Tengah-Sumut, sebagai Pembawa Syiar Agama Islam di Indonesia. Dari atas puncak Papan Tinggi atau yang biasa di sebut masyarakat setempat dengan sebutan Tompat atau Tangga Seribu menyimpan dimensi spritual yang tersembunyi. Dari atas terlihat hamparan pemukiman kota Barus dengan bentangan  samudera Hindia sebagai gerbang masuk nya Agama Kristen dan Islam di Indonesia dengan kekayaan Sumber Daya Alam ( SDA ) yang pada zaman itu yakni kapur barus. (Baca : Rekam Jejak Barus)

SUNGAI ASAHAN DALAM MINIATUR PEMBENTUKAN KABUPATEN BANDAR PULAU YANG BAROKAH

Oleh: Amiruddin Dolok Saribu Alias Tombak Nagara
Sungai Asahan berasal dari Danau Toba Kabupaten Tobasa dengan melintasi pegunungan hutan lindung Tormatung Asahan mengalir dan membelah sejumlah desa-desa di Kabupaten Asahan, Tobasa dan bermuara ke Kota Madya Tanjung Balai membaur ke pantai laut Selat Malaka. Sungai Asahan merupakan kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) masyarakat Kabupaten Asahan, Sumatera Utara. Salah satu yang membuat Sungai Asahan mendunia karena sering menjadi tempat ajang perlombaan arum jeram bertaraf international. Namun sejak di bangun nya PLTA Asahan III arung jeram sudah tidak terdengar lagi kabar nya.

Tugu Perjuangan Bandar Pulau 'Susah di kenang senang di lupakan'

Tungu Perjuangan Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara, merupakan bukti sejarah sebagai Pengibar pertama sangsaka Merah Putih di Asahan. Bandar pulau akan selalu di kenang, banyak putera-putri Bandar Pulau yang sudah berhasil di luar daerah, jadi apabila melihat photo ini pasti akan terkenang dengan Kampung halaman nya.

Tugu Sarang Helang 'Dikenang Sifat Kesatria Rakyat Asahan'

Selain Tugu Perjuangan Bandar Pulau yang terletak di Desa Bandar Pulau Pekan, Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara, (Baca:Tugu Perjuangan Bandar Pulau masih ada satu lagi sebuah Tugu Perjuangan Sarang Helang yang terletak di Desa Sarang Helang, Kecamatan Sei Kepayang Timur, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara.