Skip to main content

Jambore Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2017; Konservasi Alam Konservasi Kita

Kader Konservasi Alam
Kader Konservasi Alam Amiruddin Dolok Saribu mengikuti Jambore HKAN 2017 di Taman Nasional Baluran Situbondo, Jawa Timur
Setiap tahun tepat nya pada tanggal 10 Agustus di peringati Hari Konservasi Alam dan Kader Konservasi Alam (KKA) seluruh Indonesia yang terpilih dari tiap-tiap provinsi meramaikan dan memaknai HKAN. HKAN di selenggarakan sesuai Keputusan Presiden Nomor: 22 Tahun 2009 tentang Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN), merupakan upaya untuk memasyarakatkan konservasi alam secara menyeluruh. Pada 10 Agustus 2017 Peringatan HKAN di pusatkan di Taman Nasional (TN) Baluran, Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur yang memiliki sistem ekosistem savana yang khas sehingga disebut dengan Little Africa van Java
TN Baluran
Kader Konservasi Alam (KKA) Amiruddin Dolok Saribu BBKSDA Sumatera Utara, Sekretaris Dirjen KSDAHE Ir. Heri Subagyadi, M.Sc (Kiri), Pandji Yudistira dan KKA. (Photo : Amiruddin Dolok SaribuKader Konservasi Alam)
KKA yang terpilih di setiap provinsi di seluruh Indonesia hadir dalam kegiatan tersebut demikian pula para pengurus Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) se-Indonesia.
Adapun tema pada HKAN 2017 adalah Konservasi Alam Konservasi Kita.  
TN Baluran
Sertifikat HKAN 2017

Baca Juga : Kongres Kehutanan Indonesia

Kader Konservasi Alam

Berbagai kegiatan di selenggarakan dalam peringatan HKAN 2017, mulai kemah bersama, menanam pohon, Fieldtrip, lomba mewarnai, sepeda gunung, outbond, workshop pembuatan video dan berita memuat seputar konservasi alam serta pentas kesenian daerah.

Makna dan pesan yang terkandung dalam tema tersebut adalah bahwa konservasi alam itu pada hakikatnya adalah untuk kehidupan kita umat manusia serta mahluk hidup lainnya.

Penentuan lokasi puncak HKAN tahun 2017 pada TN Baluran merupakan pilihan tepat. Hal ini disebabkan karena taman nasional ini merupakan milestone upaya konservasi alam, dan merupakan salah satu taman nasional yang ditetapkan pertama kali di Indonesia bersama 4 taman nasional lainnya. 

Selain itu, TN Baluran memiliki type ekosistem savana yang khas perpaduan ekosisten lautan, pantai dan daratan yang menghasilkan keanekaragaman hayati luar biasa sehingga mendapat julukan “little africa van java” dengan jenis-jenis satwa liar besar seperti banteng, kerbau liar, rusa dan lain-lain.
TN Baluran
Bersama Dirjen KSDAHE KLHK RI, Ir. Wiratno, M.Sc, Biro Humas KLHK RI Ir. Djati Witjaksono Hadi, M.Si, Sekdir KSDAHE Ir. Heri Subagyadi, M.Sc, Kepala BBKSDA Sumut DR. Ir. Hotmauli Sianturi, M.Sc.For, Pembina KKA Sumut Ida Marni Ginting.

Baca Juga : Lomba Penilaian KKA dan KPA

Sebagai bagian rangkaian acara peringatan HKAN 2017, Ketua Panitia Pelaksana Hari Konservasi Alam Nasional, Is Mugiono, membuka secara resmi Pameran Konservasi Alam dan Produk Unggulan dalam rangka Peringatan Hari Konservasi Alam Nasional 2017 yang berlangsung dari tanggal 8 – 11 Agustus 2017 di TN Baluran.

Pameran kali ini diikuti 36 institusi, terdiri dari Unit Pelaksana Teknis lingkup Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK (KSDAE) 24 institusi, Direktorat lingkup KSDAE 3 institusi, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung Brantas Jawa Timur, Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Provinsi Jawa Timur 1 institusi, SKPD Kabupaten Situbondo 1 institusi, Perhutani 2 institusi, dan mitra lainnya 4 institusi.

Penyelenggaraan Pameran Konservasi Alam pada setiap peringatan HKAN telah rutin dilaksanakan sejak tahun 2015. Pameran tahun ini merupakan penyelenggaraan yang ketiga kali sejak HKAN diperingati secara nasional, mulai di TN Ujung Kulon (2015), TN Bali Barat (2016) dan TN Baluran tahun 2017.

Is Mugiono selaku Ketua Panitia Pelaksana HKAN, menyampaikan bahwa penyelenggaraan pameran konservasi sebagai sarana memperkenalkan dan memberikan informasi tentang kegiatan-kegiatan konservasi, menumbuhkan persepsi dan kesadaran pentingnya konservasi, dan memotivasi peserta jambore.

“Pameran konservasi alam kali ini selain sebagai ajang untuk sosialisasi, promosi dan edukasi juga diharapkan menjadi ajang pamer “success stories” kegiatan-kegiatan konservasi alam yang dilakukan masing-masing tempat, baik dari aspek perlindungan, pengawetan maupun pemanfaatan”,kata Is Mugiono.

Pada berbagai kesempatan, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya menyatakan bahwa “Keberadaan kawasan konservasi dan keanekaragaman hayati di dalamnya harus kita jaga agar proses-proses ekologis pendukung sistem penyangga kehidupan tetap berjalan sehingga mampu memberikan manfaat secara lestari dan berkelanjutan bagi kesejahteraan manusia baik saat ini dan masa mendatang”. 


Baca Juga : Konservasi Mangrove Asahan



Sekedar diketahui potensi wisata alam pada kawasan konservasi di Indonesia berada pada 556 unit kawasan konservasi seluas sekitar 27 juta hektar. 

Menurut fungsinya dikelola sebagai Taman Nasional sebanyak 52 unit, Taman Wisata Alam 118 unit, Taman Hutan Raya 28 unit, Taman Buru 11 unit, Cagar Alam 219 unit, Suaka Margasatwa 72 unit, serta Kawasan Suaka Alam/Kawasan Pelestarian Alam sebanyak 56 unit.

Untuk memasyarakatkan konservasi alam secara nasional sebagai sikap hidup dan budaya bangsa, Presiden RI pada tahun 2009 melalui Keputusan Presiden no. 22 Tahun 2009 telah menetapkan tanggal 10 Agustus sebagai Hari Konservasi Alam Nasional. Tanggal tersebut merupakan tanggal ditetapkannya UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. 

Jaringan Pemberitaan Pemerintah (JPP) : 

Puncak Hari Konservasi Alam Nasional 2017 di Situbondo dan Banyuwangi

JPP JAKARTA - Menyongsong puncak peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) pada tanggal 10 Agustus mendatang, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) akan menyelenggarakan serangkaian kegiatan di Jawa Timur.
Perhelatan tersebut bertema “Konservasi Alam, Konservasi Kita” di Taman Nasional (TN) Baluran Situbondo dan Festival Taman Nasional/Taman Wisata Alam (TWA) di Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur pada tanggal 8-13 Agustus 2017.
Peringatan HKAN merupakan kampanye gerakan konservasi alam untuk meningkatkan kesadaran pentingnya konservasi alam, dan menumbuhkan peran publik dalam menyelamatkan keanekaragamanan hayati, kawasan konservasi dan lingkungan hidup.
"Di TN Baluran terdapat permasalahan krusial pada ekosistem savanna, yaitu ancaman invasi jenis asing Acacia Nilotica, yang dapat berdampak pada penggeseran dan ancaman kepunahan keberadaan ekosistem asli kawasan. Hal ini memerlukan aksi nyata pemulihan ekosistem bersama. Dengan adanya HKAN 2017 di TN ini, diharapkan dapat menjadi pemicu dan semangat dalam upaya pemulihan ekosistem di kawasan konservasi."
Hal ini disampaikan Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi (PJLHK) Kementerian LHK Is Mugiono, saat mewakili Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) dalam Workshop Pemulihan Ekosistem Pengendalian Jenis Asing Invasif (Invasive Alien Species) Acacia Nilotica di Taman Nasional Baluran di Jakarta, Senin (31/07/2017).
"HKAN 2017 bermakna bahwa konservasi alam itu pada hakikatnya adalah untuk kehidupan umat manusia serta makhluk hidup lainnya, sehingga diharapkan konservasi alam dapat menjadi budaya bangsa Indonesia," ujar Is Mugiono.
Peringatan HKAN 2017 juga akan diperingati oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal KSDAE di seluruh Indonesia.
Terkait penentuan lokasi puncak HKAN 2017 di Taman Nasional Baluran, menurut Is Mugiono dikarenakan TN Baluran merupakan salah satu dari lima TN pertama yang dibentuk di Indonesia, dan memiliki ekosistem savana dan satwa yang khas sehingga dijuluki “Little Africa van Java”.
"Di TN Baluran terdapat permasalahan krusial pada ekosistem savanna, yaitu ancaman invasi jenis asing Acacia Nilotica, yang dapat berdampak pada penggeseran dan ancaman kepunahan keberadaan ekosistem asli kawasan. Hal ini memerlukan aksi nyata pemulihan ekosistem bersama. Dengan adanya HKAN 2017 di TN ini, diharapkan dapat menjadi pemicu dan semangat dalam upaya pemulihan ekosistem di kawasan konservasi," terang Is Mugiono.
Sejak ditetapkannya HKAN oleh Presiden RI melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2009. KLHK telah rutin menyelenggarakan dan mengembangkan peringatan HKAN.
Pada tahun 2014, HKAN mulai dilaksanakan di alam terbuka yaitu di TN Gunung Halimun-Salak, selanjutnya tahun 2015 di TN Ujung Kulon, dan terakhir tahun lalu di TN Bali Barat.
Selain Workshop di Jakarta, peringatan HKAN 2017 akan dimeriahkan dengan berbagai kegiatan yang dapat diikuti oleh masyarakat dan pelajar antara lain, pemberian penghargaan kepada para penggiat konservasi alam, Pameran Konservasi Alam, Jambore Nasional Konservasi Alam, Buyan Jungle Run, Bersih Pantai dan Penanaman Mangrove, Nonton Bareng Film “Bumiku”, serta Sepeda Jelajah Nusantara. (lhk). Sumber : https://jpp.go.id/teknologi/lingkungan-hidup/308838-puncak-hari-konservasi-alam-nasional-2017-digelar-di-banyuwangi#

Ir. Djati Witjaksono Hadi, M.Si; 

Hari Konservasi Alam Nasional 2017 Digelar di Taman Nasional Baluran

HKAN 2017
Staf Ahli Menkominfo Bidang Komunikasi dan Media Massa menerima cinderamata dari Kepala Biro Humas Kementerian LHK di Hotel Santika, Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat (11/8). (Foto: Humas/Dhany) seskab.go.id

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyelenggarakan Forum Tematik Badan Koordinasi Hubungan Kemasyarakatan (Bakohumas) di Banyuwangi, Jawa Timur, 11-13 Agustus 2017.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kementerian LHK, Jati Wicaksono Hadi, mewakili Sekretaris Jenderal Kementerian LHK, menyampaikan bahwa prinsip keberlanjutan, reformasi agraria, keberpihakan pada masyarakat, produksi hutan lestari, pengembangan energi baru dan terbarukan, kesadaran lingkungan dan sukarelawan menjadi pegangan dalam menjalankan program.
Untuk memperingati, lanjut Jati, Hari Konservasi Alam Nasional 2017 yang bertepatan dengan Hari Konservasi Alam Nasional, tahun ini mengangkat tema Konservasi Alam-Konservasi Kita. Peringatan ini, tambah Jati, sesuai Keputusan Presiden Nomor: 22 Tahun 2009 tentang Hari Konservasi Alam Nasional, merupakan upaya untuk memasyarakatkan konservasi alam secara menyeluruh.
“Tahun ini diselenggarakan di Taman Nasional Baluran, Kabupaten Situbondo, yang memiliki sistem ekosistem savana yang khas sehingga disebut dengan Little Africa van Java,” ungkap Jati.
Nawacita
Sementara dalam sesi diskusi, Kepala Biro Humas Kementerian LHK Jati Wicaksono Hadi menyampaikan, bahwa Nawa Cita yang terkait Kementerian LHK adalah:
  1. Membangun Indonesia dari pinggiran;
  2. Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik;
  3. Memperkuat kehadiran negara dalam melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum; dan
  4. Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di Pasar Tradisional.

  5. Beberapa permasalahan yang ditangani oleh Kementerian LHK, menurut Jati, eksploitasi dan konflik pemanfaatan sumber daya alam (SDA) yang belum diiringi peningkatan kesejahteraan masyarakat, menurunnya hutan dan laut sebagai sumber daya, kehilangan habitat dan degradasi, erosi, serta kontaminasi air minum.
    Jati menyampaikan bahwa Indonesia memiliki 54 Taman Nasional (TN) dari mulai TN Gunung Leuser, Aceh hingga TN Wasur di perbatasan Papua Nugini. Sedangkan TN baru adalah Zamrud dan Gandang Dewata.
    “Ayo ke Taman Nasional menjadi jargon Kementerian LHK untuk menyampaikan pesan konservasi dan wisata alam kepada masyarakat,” tutur Jati.
    Saat menyampaikan pengelolaan Taman Nasional Baluran, drh. Supriyanto mewakili Kepala Balai TN Baluran menyampaikan bahwa upaya untuk meningkatkan kebutuhan ketersediaan air yakni kubangan alami (pengecekan secara rutin kualitas dan debit air) dan kubangan buatan (pengisian saat musim kemarau).
    “Untuk melakukan pelestarian hewan dilakukan dengan melakukan bredding semi alami dan monitoring banteng,” tutur Supriyanto.
    Soal pengendalian kebakaran hutan, Supriyanto sampaikan bahwa luas kebakaran selama lima tahun terakhir terus menurun.
    “Wisatawan yang mengunjungi TN Baluran pada tahun 2016 dari domestik sebanyak 91.623 sedangkan dari mancanegara sebanyak 1.193,” tutur Supriyanto.
    Acara Bakohumas Kementerian LHK di Banyuwangi kali ini selain dilakukan dengan metode diskusi juga dengan studi lapangan ke Taman Nasional Baluran. Agenda yang akan berlangsung dimulai sejak 11-13 Agustus 2017.
    Turut hadir dalam acara kali ini Staf Ahli Menkominfo Bidang Komunikasi dan Media Massa, Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi, dan perwakilan humas kementerian/lembaga. (EN/DAN/ES) Sumber :http://setkab.go.id/hari-konservasi-alam-nasional-2017-digelar-di-taman-nasional-baluran/

Popular posts from this blog

BARUS KOTA BERTUAH MINIATUR DAN DIMENSI SPRITUAL DARI PUNCAK MAKAM PAPAN TINGGI

Makam Tuan Syeikh Mahmud Barus di Papan Tinggi Desa Pananggahan, Kec. Barus Utara, Kabupaten Tapanuli Tengah-Sumut, sebagai Pembawa Syiar Agama Islam di Indonesia. Dari atas puncak Papan Tinggi atau yang biasa di sebut masyarakat setempat dengan sebutan Tompat atau Tangga Seribu menyimpan dimensi spritual yang tersembunyi. Dari atas terlihat hamparan pemukiman kota Barus dengan bentangan  samudera Hindia sebagai gerbang masuk nya Agama Kristen dan Islam di Indonesia dengan kekayaan Sumber Daya Alam ( SDA ) yang pada zaman itu yakni kapur barus. (Baca : Rekam Jejak Barus)

Pancur Napitu Merah Putih Alur Danau Toba dan Legenda Sisingamangaraja

Pancur Napitu di temukan pada tahun 1833 oleh sekelompok masyarakat Batak saat membuka perkampungan Parhutaan Maria Gunung di Dusun I, Desa Gunung Berkat, Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara. Pancur Napitu arti nya 7 sumber mata air yang keluar dari batu. Meskipun saat musim kemarau mata air tersebut tidak pernah kering dan bila saat musim  penghujan 7 mata air tersebut tetap mengeluarkan air yang jernih.

SUNGAI ASAHAN DALAM MINIATUR PEMBENTUKAN KABUPATEN BANDAR PULAU YANG BAROKAH

Oleh: Amiruddin Dolok Saribu Alias Tombak Nagara
Sungai Asahan berasal dari Danau Toba Kabupaten Tobasa dengan melintasi pegunungan hutan lindung Tormatung Asahan mengalir dan membelah sejumlah desa-desa di Kabupaten Asahan, Tobasa dan bermuara ke Kota Madya Tanjung Balai membaur ke pantai laut Selat Malaka. Sungai Asahan merupakan kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) masyarakat Kabupaten Asahan, Sumatera Utara. Salah satu yang membuat Sungai Asahan mendunia karena sering menjadi tempat ajang perlombaan arum jeram bertaraf international. Namun sejak di bangun nya PLTA Asahan III arung jeram sudah tidak terdengar lagi kabar nya.

Tugu Perjuangan Bandar Pulau 'Susah di kenang senang di lupakan'

Tungu Perjuangan Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara, merupakan bukti sejarah sebagai Pengibar pertama sangsaka Merah Putih di Asahan. Bandar pulau akan selalu di kenang, banyak putera-putri Bandar Pulau yang sudah berhasil di luar daerah, jadi apabila melihat photo ini pasti akan terkenang dengan Kampung halaman nya.

Tugu Sarang Helang 'Dikenang Sifat Kesatria Rakyat Asahan'

Selain Tugu Perjuangan Bandar Pulau yang terletak di Desa Bandar Pulau Pekan, Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara, (Baca:Tugu Perjuangan Bandar Pulau masih ada satu lagi sebuah Tugu Perjuangan Sarang Helang yang terletak di Desa Sarang Helang, Kecamatan Sei Kepayang Timur, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara.