Skip to main content

Legenda Pantai Berangas Pelindung Mangrove Silo Baru

Amiruddin Dolok Saribu Kader Konservasi Alam
Amiruddin Dolok Saribu Kader Konservasi Alam di Pantai Berangas Kawasan Hutan Lindung Mangrove Asahan Pantai Timur Selat Malaka. Photo: Amiruddin Dolok Saribu Kader Konservasi Alam.

Pantai Berangas yang terletak di Desa Silo Baru, Kecamatan Silau Laut, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara, menyimpan sejuta misteri dan sejuta potensi kelautan. Berada pada jalur Selat Malaka Pantai Timur dengan kekayaan hutan asli Mangrove yang masih tersisa. Pantai Berangas di kenal juga dengan sebutan Tambun Tulang. Legenda Pantai Berangas terbilang masih tabu untuk di bicarakan karena menyangkut keberadaan Alm. Tuan Guru Seikh Silo yang bernama lengkap Syeikh Haji Abdurrahman Urrahim Bin Nakhoda Alang Batubara. 


Tuan Syeikh Silo lahir di Kampung Rao Batubara yang sekarang Desa Tanjung Mulia Kecamatan Tanjung Tiram, Kabupaten Batu Bara pada tahun 1275 atau 1858 H. Ayah nya bernama Nakhoda Alang bin Nakhoda Ismail, keturunan Tuk Angku Mudik Tampang, Keturunan dari Tuk Angku Batuah yang berasal dari daerah Rao perbatasan Tapanuli Selatan dengan Sumatera Barat.
Silo Baru
Gunawan seorang warga masyarakat Silo Baru sebagai Kader Konservasi Alam Binaan Amiruddin Dolok Saribu di Kawasan Hutan Lindung Mangrove Pantai Berangas. Photo: Amiruddin Dolok Saribu Kader Konservasi Alam.

Pantai Berangas atau Tambun Tulang memiliki misteri sebab pantai tersebut kisah nya tempat pertempuran dan mayat-mayat tertimbun di pantai tersebut maka di namakan Tambun Tulang. Pantai Berangas bukanlah pasir pantai atau beting, melainkan timbunan-timbunan jutaan ton kulit kerang  laut dan sejenis nya sepanjang 3 km. Dan aneh nya Pantai Berangas tersebut dapat berubah-ubah posisi nya dan kadang bisa hilang.
Amiruddin Dolok Saribu
Amiruddin Dolok Saribu Kader Konservasi Alam di Pantai Berangas atauTambun Tulang. Photo: Amiruddin Dolok Saribu Kader Konservasi Alam.

Penelitian khusus di bidang tersebut belum di lakukan, namun keterangan para saksi warga Desa Silo Baru dengan kearifanlokal nya cukup menjadi bahan acuan bagi kami dan Kader Konservasi Alam Amiruddin Dolok Saribu menyusuri tempat tersebut pada tanggal 24 Oktober 2016 dengan menerobos hutan Mangrove Alami Janggawari.
Mangrove Api-Api Janggawari
Amiruddin Dolok Saribu Kader Konservasi Alam bergelantung di hutan alam Mangrove Janggawari Pantai Berangas. Photo: Amiruddin Dolok Saribu Kader Konservasi Alam. 
Misteri Tambun Tulang tidak kami ulas disini, namun dari kearifan lokal nya mengatakan apabila Pantai Berangas di kelola tapi banyak berbuat maksiat di dalam nya serta merta Pantai Berangas tersebut akan hilang dan bergeser seiring hujan dan badai laut yang berkepanjangan. Artinya kearifan lokal yang konkrit dari daya cipta sejarah mistis nya melindungi kawasan Mangrove sekitar Pantai Berangas dan Janggawari, Desa Silo Baru
Janggawari Pantai Berangas
Amiruddin Dolok Saribu Kader Konservasi Alam di hutan alam Mangrove Api-Api Janggawari Pantai Berangas. Photo: Amiruddin Dolok Saribu Kader Konservasi Alam.
Selain memiliki mistis Mangrove di sekitar Pantai Berangas masih asli dengan tegakan Mangrove Api-Api sebagai pionir garis pantai dari abrasi ada Mangrove Jenis Buta-Buta dan Mangrove jenis Bakau. Sebagai Kader Konservasi Alam (KKA) dan sebagaimana amanat Undang-Undang No 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Bab VII Pasal 60 ayat 2 mengatakan bahwa masyarakat dan atau perorangan berperan serta dalam pengawasan kehutanan, KKA garda terdepan dalam pengawasan hutan dan upaya Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem (KSDAHE) untuk keberlanjutan sebaran hutan. (Baca Juga:Hanya Ada Satu Bumi Didalamnya Ada Hak Generasi Mendatang 'Konservasi Alam Konservasi Kita'
Hutan Mangrove Janggawari
Gunawan Kader Konservasi Alam di hutan alam Mangrove Api-Api Janggawari Pantai Berangas. Photo: Amiruddin Dolok Saribu Kader Konservasi Alam. 
Hutan Mangrove Pantai Berangas dapat di tempuh dengan menggunakan perahu dan sepeda motor dengan jarak tempuh berkisar 5 km dari Desa Silau Baru, namun tidak sertamerta seluruh nya dapat ditempuh dengan menggunakan sepeda motor dikarenakan hutan asli yang belum tersentuh pembangunan. Namun menurut hemat kami hutan tersebut harus dilestarikan dengan kemampuan yang dapat memahami nilai-nilai spirit agar memperoleh berkah dan restu alam. (Baca Juga:MENJAGA ALAM MEMBAWA BERKAH, MENULIS MEMBAWA BERKAH, MANGROVE ASAHAN MEMBAWA BERKAH, THANKS PERTAMINA KISARAN
Hutan Mangrove Janggawari
Pintu Masuk kehutan Mangrove Pantai Berangas berdekatan dengan pemukiman Dusun Janggawari, Desa Silo Baru. Photo: Amiruddin Dolok Saribu Kader Konservasi Alam. 
KEADILAN HUTAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

Hutan Mangrove Silo Baru harus di kelola dan dimanfaatkan dalam sektor Jasa Lingkungan (Jasling), masyarakat sekitar harus di berdayakan dan di edukasi agar mengerti manfaat hutan Mangrove sehingga dapat menjaga atau meminimalisir perambahan kayu Mangrove. Untuk itu Kader Konservasi Alam bersama Lembaga Jaringan Wahana Rimba Raya (Jawara) setia sampai akhir dalam upaya KSDAHE. Konservasi tiada henti.!!!
Manggrove Silo Baru
Amiruddin Dolok Saribu Kader Konservasi Alam Bersama masyarakat Desa Silo Baru Photo: Amiruddin Dolok Saribu Kader Konservasi Alam. 
Amatan langsung KKA masyarakat Desa Silo Baru masih bergantung terhadap hutan Mangrove, baik dari kayu Mangrove untuk kebutuhan bangunan maupun dari Kepiting Bakau serta perikanan laut. Memadukan keadilan hutan Mangrove dengan pemeberdayaan masyarakat demi kesejahteraan harus bersinergi agar tidak ada yang terugikan.
HUtan Mangrove Pantai Berangas
RumahKepiting Bakau pada kawasan Hutan indung Mangrove Pantai Berangas, dimana Mangrove menjadi tembat berkembang biak nya Kepiting Bakau. Photo: Amiruddin Dolok Saribu Kader Konservasi Alam. 
Pada zona inti Mangrove Silo Baru di Pantai Berangas dan Janggawari menjadi tempat berkembang biaknya Kepiting-Kepiting Bakau yang memiliki nilai jual ekspor ke Korea dengan variasi harga mulai dari Rp.25.000-Rp.150.000 dan itu tidak akan ditemukan jika hutan Mangrove nya terdegradasi dari perambahan kayu dan pembukaan areal tambak udang.
Mangrove Asahan
Kepiting Bakau hasil tangkapan masyarakat nelayan Silo Baru yang berasal dari HUtan Mangrove Desa Sio Baru.  Photo: Amiruddin Dolok Saribu Kader Konservasi Alam.
Antara pelestarian hutan dan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan hutan haruslah ditempatkan pada porsi yang sesungguh nya dimana masyarakat bukan lagi sebagai penonton akan tetapi harus menjadi bagian dari hutan itu sendiri dalam rangka mengembangkan potensi dan memberdayakan masyarakat. Pemanfaatan hutan yang berfungsi sebagai lindung dan konservasi dapat dilakukan sepanjang tidak mengganggu fungsi nya. Dan itu dapat dibentuk  dengan skema Hutan Kemasyarakatan, dan Jasa Lingkungan bidang Pariwisata. Untuk itu perlu penatabatasan dan pengukuhan kawasan hutan lindung Mangrove Asahan demi tegak nya kepastian hukum dan keadilan hutan untuk masyarakat.
Tegakan Hutan Mangrove Janggawari.  Photo: Amiruddin Dolok Saribu Kader Konservasi Alam.
Sejauh ini Amiruddin Dolok Saribu selaku KKA telah melakukan pendampingan dan kerja sama dengan Kelompok Tani Hutan (KTH) Cinta Mangrove Silau Baru yang diketuai Gunawan seperti melakukan rehabilitasi Mangrove Silo Baru seluas 12 ha dan pembentukan HKm nya walau masih berjalan tertatih-tatih karena keterbatasan SDM dan ribet nya kepengerusan administrasi di tingkat Desa karena persaingan kepentingan. Selain daripada itu ada juga pembentukan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Silo Baru.

Undang-Undang No 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Bab IX Pasal 70 ayat 1 dan 2 mengatakan bahwa masyarakat turut berperan serta dalam pembangunan di bidang kehutanan (1) dan Pemerintah wajib mendorong peranserta masyarakat melalui berbagai kegiatan dibidang kehutanan yang berdaya guna dan berhasil guna (2). Namun menurut amatan kami hal tersebut masih jauh dari mimpi. Kecualai KKA yang aktif dengan kemandirian nya terus mendorong dan membina masyarakat dalam upaya-upaya KSDAHE di tingkat tapak sebagaimana ayat 3 dari pasal 70 tersebut mengatakan dalam rangka meningkatkan peranserta masyarakat pemerintah dan pemerintah daerah dapat dibantu oleh forum pemerhati hutan. Sayang nya pemerintah dalam hal ini petugas yang membidangi nya mendapat anggaran dari negara sedangkan KKA sama sekali atau nihil anggaran.

KTH Cinta Mangrove bersama KKA pada kegiatan rehabilitasi dan pengayaan Mangrove. Photo: Amiruddin Dolok Saribu Kader Konservasi Alam.
Selain itu pada pasal 56 ayat 2 mengatakan penyelenggaraan penyuluhan kehutanan di lakukan oleh pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Dalam hal ini KKA secara automatis menjadi Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat (PKSM).

PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN, PENDIDIKAN DAN LATIHAN SERTA PENYULUHAN KEHUTANAN. 

Ekositem Mangrove Asahan belum di tatabatas dan dikukuhkan meski demikian Kader Konservasi Alam bersama Lembaga Jawara mencanangkan Mangrove Asahan sebagai  Pengembangan Kawasan Pusat Restorasi dan Pembelajaran Ekosistem Mangrove (PRPEM) Asahan sebagaimana amanat Undang-Undang No 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Bab VI Pasal 53 ayat 3 yang mengatakan Penyelanggaraan penelitian dan pengembangan kehutanan dilakukan oleh pemerintah dan dapat bekerja sama dengan perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat. Semoga terlaksana.

Hal tersebut dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan nasional serta budaya ilmu penegetahuan dan tekhnologi dalam pengurusan hutan. Hal tersebut pula di dorong oleh keikutsertaan Amiruddin Dolok Saribu dalam Kongres Kehutanan Indonesia (KKI) VI 28 November-2 Desember 2016 di Jakarta 'Reposisi Kehutanan Indonesia Menuju Terlaksananya Tata Kelola Hutan Yang Baik' (Baca : Kongres Kehutanan Indonesia VI)

Hutan Lindung (HL) Mangrove Asahan banyak mengalami kerusakan akibat perambahan kayu Mangrove yang di jual ke luar negeri yakni ke Singapura. Selain itu pengawasan dari aparat terkaitbelum maksimal di tambah dengan kepentingan-kepentingan pertambakan udang ilegal dan perluasan perkebunan. (Baca :Menelisik Keberadaan Hutan Mangrove Asahan).

Hutan Mangrove Asahan di Sarang Elang hanya tinggal tegakan hutan sejenis api-api sementara jenis Bakau punah total sengaja di curi dan dibiarakan tanpa adanya pengawasan yang ketat. Demikian hal nya di Sei Sembilang dan Sei Pematang Baru juga mengalami degradasi. Boleh di katakan terancam punah.
Mangrove Sarang Elang
Amiruddin Dolok Saribu Kader Konservasi Alam patroli pada kawasan HL Mangrove Asahan Desa Sarang Elang. Photo: Amiruddin Dolok Saribu Kader Konservasi Alam.
Apabila ini tidak disikapi serius maka lambat laun akan berubah menjadi Alih Pungsi Lahan (APL) hutan hanya tinggal dalam Peta saja, konkrit lapangan nya eng in eng. Harapan satu-satu nya hanya tinggal di Pantai Berangas dan Janggawari yang terbilang masih hutan asli (Alam) mangrove itupun masih was-was akan keberadaan nya. Selain doa, upaya harus berjalan sebagaimana mestinya dan KPH III kami harap dapat memeberi penyuluhan, pengawasan, dan pemberdayaan masyarakat sebelum nanti pihak-pihak yang peduli hutan akan melakukan gugatan ke pengadilan akibat pasal pembiaran.
Kader Konservasi alam
Do'a kami untuk HL Mangrove Asahan, Amiruddin Dolok Saribu Kader Konservasi Alam di HL Mangrove Asahan Desa Sarang Elang Photo: Amiruddin Dolok Saribu Kader Konservasi Alam. 
(Baca Juga:Tugu Sarang Helang)

Popular posts from this blog

BARUS KOTA BERTUAH MINIATUR DAN DIMENSI SPRITUAL DARI PUNCAK MAKAM PAPAN TINGGI

Makam Tuan Syeikh Mahmud Barus di Papan Tinggi Desa Pananggahan, Kec. Barus Utara, Kabupaten Tapanuli Tengah-Sumut, sebagai Pembawa Syiar Agama Islam di Indonesia. Dari atas puncak Papan Tinggi atau yang biasa di sebut masyarakat setempat dengan sebutan Tompat atau Tangga Seribu menyimpan dimensi spritual yang tersembunyi. Dari atas terlihat hamparan pemukiman kota Barus dengan bentangan  samudera Hindia sebagai gerbang masuk nya Agama Kristen dan Islam di Indonesia dengan kekayaan Sumber Daya Alam ( SDA ) yang pada zaman itu yakni kapur barus. (Baca : Rekam Jejak Barus)

Pancur Napitu Merah Putih Alur Danau Toba dan Legenda Sisingamangaraja

Pancur Napitu di temukan pada tahun 1833 oleh sekelompok masyarakat Batak saat membuka perkampungan Parhutaan Maria Gunung di Dusun I, Desa Gunung Berkat, Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara. Pancur Napitu arti nya 7 sumber mata air yang keluar dari batu. Meskipun saat musim kemarau mata air tersebut tidak pernah kering dan bila saat musim  penghujan 7 mata air tersebut tetap mengeluarkan air yang jernih.

SUNGAI ASAHAN DALAM MINIATUR PEMBENTUKAN KABUPATEN BANDAR PULAU YANG BAROKAH

Oleh: Amiruddin Dolok Saribu Alias Tombak Nagara
Sungai Asahan berasal dari Danau Toba Kabupaten Tobasa dengan melintasi pegunungan hutan lindung Tormatung Asahan mengalir dan membelah sejumlah desa-desa di Kabupaten Asahan, Tobasa dan bermuara ke Kota Madya Tanjung Balai membaur ke pantai laut Selat Malaka. Sungai Asahan merupakan kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) masyarakat Kabupaten Asahan, Sumatera Utara. Salah satu yang membuat Sungai Asahan mendunia karena sering menjadi tempat ajang perlombaan arum jeram bertaraf international. Namun sejak di bangun nya PLTA Asahan III arung jeram sudah tidak terdengar lagi kabar nya.

Tugu Perjuangan Bandar Pulau 'Susah di kenang senang di lupakan'

Tungu Perjuangan Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara, merupakan bukti sejarah sebagai Pengibar pertama sangsaka Merah Putih di Asahan. Bandar pulau akan selalu di kenang, banyak putera-putri Bandar Pulau yang sudah berhasil di luar daerah, jadi apabila melihat photo ini pasti akan terkenang dengan Kampung halaman nya.

Tugu Sarang Helang 'Dikenang Sifat Kesatria Rakyat Asahan'

Selain Tugu Perjuangan Bandar Pulau yang terletak di Desa Bandar Pulau Pekan, Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara, (Baca:Tugu Perjuangan Bandar Pulau masih ada satu lagi sebuah Tugu Perjuangan Sarang Helang yang terletak di Desa Sarang Helang, Kecamatan Sei Kepayang Timur, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara.