Skip to main content

Selamat Hari Batik Nasional

Indonesian Batik

Inscribed in 2009 (4.COM) on the Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity



© 2007 by KADIN Indonesia Foundation and Indonesia Batik Museum Institute
The techniques, symbolism and culture surrounding hand-dyed cotton and silk garments known as Indonesian Batik permeate the lives of Indonesians from beginning to end: infants are carried in batik slings decorated with symbols designed to bring the child luck, and the dead are shrouded in funerary batik.

Clothes with everyday designs are worn regularly in business and academic settings, while special varieties are incorporated into celebrations of marriage and pregnancy and into puppet theatre and other art forms. The garments even play the central role in certain rituals, such as the ceremonial casting of royal batik into a volcano. 

Batik is dyed by proud craftspeople who draw designs on fabric using dots and lines of hot wax, which resists vegetable and other dyes and therefore allows the artisan to colour selectively by soaking the cloth in one colour, removing the wax with boiling water and repeating if multiple colours are desired. The wide diversity of patterns reflects a variety of influences, ranging from Arabic calligraphy, European bouquets and Chinese phoenixes to Japanese cherry blossoms and Indian or Persian peacocks. 

Often handed down within families for generations, the craft of batik is intertwined with the cultural identity of the Indonesian people and, through the symbolic meanings of its colours and designs, expresses their creativity and spirituality. Sumber UNESCO https://ich.unesco.org/en/RL/indonesian-batik-00170

© 2007 by KADIN Indonesia Foundation and Indonesia Batik Museum Institute
Hari Batik Nasional
Batik Museum Institute Pekalongan

Selamat Hari Batik Nasional

Hari Batik Nasional
Photo: Antara Photo Yusran Uccang
VIVA.co.id – Sejak tahun 2009, badan Perserikatan Bangsa Bangsa untuk bidang Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan--UNESCO--telah menetapkan batik Indonesia sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan nonbendawi.
Karena itu, sejak penetapannya pada 2 Oktober, maka setiap tanggal itu akhirnya menjadi momen peringatan hari batik nasional untuk di Indonesia.Mengutip dalam laman resmi UNICEF, batik Indonesia disebut sebagai bagian hidup orang Indonesia. Ia telah menjadi bagian dari sejak kelahiran hingga akhir hayat orang di Indonesia.
Dimulai dari proses kelahiran, pernikahan, kehamilan hingga kematian, batik hadir dalam aktivitas keseharian orang Indonesia.
Atas itulah, kain batik pun dinobatkan sebagai identitas budaya masyarakat Indonesia. Kehadirannya melalui warna dan desain simbolik menjadi pengungkap kreatifitas dan spiritualitas orang Indonesia.
Di linimassa Twitter, ucapan Selamat Hari Batik Nasional ikut menjadi puncak percakapan pengguna jejaring sosial pada Senin, 2 Oktober 2017. 
Ribuan pengguna jejaring sosial menggunakan kata Selamat hari Batik Nasional dan menampilkan beragam gambar batik yang dikenakan pada peringatan ini. Sumber :http://www.viva.co.id/berita/nasional/962282-selamat-hari-batik-nasional

Popular posts from this blog

BARUS KOTA BERTUAH MINIATUR DAN DIMENSI SPRITUAL DARI PUNCAK MAKAM PAPAN TINGGI

Makam Tuan Syeikh Mahmud Barus di Papan Tinggi Desa Pananggahan, Kec. Barus Utara, Kabupaten Tapanuli Tengah-Sumut, sebagai Pembawa Syiar Agama Islam di Indonesia. Dari atas puncak Papan Tinggi atau yang biasa di sebut masyarakat setempat dengan sebutan Tompat atau Tangga Seribu menyimpan dimensi spritual yang tersembunyi. Dari atas terlihat hamparan pemukiman kota Barus dengan bentangan  samudera Hindia sebagai gerbang masuk nya Agama Kristen dan Islam di Indonesia dengan kekayaan Sumber Daya Alam ( SDA ) yang pada zaman itu yakni kapur barus. (Baca : Rekam Jejak Barus)

Pancur Napitu Merah Putih Alur Danau Toba dan Legenda Sisingamangaraja

Pancur Napitu di temukan pada tahun 1833 oleh sekelompok masyarakat Batak saat membuka perkampungan Parhutaan Maria Gunung di Dusun I, Desa Gunung Berkat, Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara. Pancur Napitu arti nya 7 sumber mata air yang keluar dari batu. Meskipun saat musim kemarau mata air tersebut tidak pernah kering dan bila saat musim  penghujan 7 mata air tersebut tetap mengeluarkan air yang jernih.

SUNGAI ASAHAN DALAM MINIATUR PEMBENTUKAN KABUPATEN BANDAR PULAU YANG BAROKAH

Oleh: Amiruddin Dolok Saribu Alias Tombak Nagara
Sungai Asahan berasal dari Danau Toba Kabupaten Tobasa dengan melintasi pegunungan hutan lindung Tormatung Asahan mengalir dan membelah sejumlah desa-desa di Kabupaten Asahan, Tobasa dan bermuara ke Kota Madya Tanjung Balai membaur ke pantai laut Selat Malaka. Sungai Asahan merupakan kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) masyarakat Kabupaten Asahan, Sumatera Utara. Salah satu yang membuat Sungai Asahan mendunia karena sering menjadi tempat ajang perlombaan arum jeram bertaraf international. Namun sejak di bangun nya PLTA Asahan III arung jeram sudah tidak terdengar lagi kabar nya.

Tugu Perjuangan Bandar Pulau 'Susah di kenang senang di lupakan'

Tungu Perjuangan Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara, merupakan bukti sejarah sebagai Pengibar pertama sangsaka Merah Putih di Asahan. Bandar pulau akan selalu di kenang, banyak putera-putri Bandar Pulau yang sudah berhasil di luar daerah, jadi apabila melihat photo ini pasti akan terkenang dengan Kampung halaman nya.

Tugu Sarang Helang 'Dikenang Sifat Kesatria Rakyat Asahan'

Selain Tugu Perjuangan Bandar Pulau yang terletak di Desa Bandar Pulau Pekan, Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara, (Baca:Tugu Perjuangan Bandar Pulau masih ada satu lagi sebuah Tugu Perjuangan Sarang Helang yang terletak di Desa Sarang Helang, Kecamatan Sei Kepayang Timur, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara.