Skip to main content

Sungai Asahan: Perlindungankah, Arung Jeram, PLN atau Pariwisata.

Arung Jeram
Sungai Asahan. Photo: Amiruddin Dolok Saribu Kader Konservasi Alam.
Sungai Asahan adalah sungai yang berasal dari mulut Danau Toba, mengalir melewati Porsea, Kabupaten Tobasa (Hulu), hingga ke Kabupaten Asahan dan bermuara ke Kodya Tanjung Balai Pantai Selat Malaka.  Adapun Desa-Desa di Kabupaten Asahan yang di lalui Sungai Asahan mulai dari Desa Tangga, Desa Aek Songsongan Kecamatan Aek Songsongan, Desa Marjanji Aceh, Desa Padang Pulau, Desa Perkebunan Padang Pulau,  Desa Bandar Pulau, Kecamatan Bandar Pulau, Desa Gunung Melayu,  Desa Perkebunan Gunung Melayu, Desa Perkebunan Aek Nagaga, Kecamatan Rahuning Kemudian Desa Pulau Rakyat Pekan, Desa Pulau Rakyat Tua,  Kecamatan Pulau Rakyat, Desa Teluk Dalam, Desa Pulau Tanjung, Kecamatan Teluk Dalam, Sungai Dua Hulu, Kecamatan Simpang Empat, Hingga ke Teluk Nibung, Tanjung Jumpul, Kecamatan Tanjung Balai, Kota Madya Tanjung Balai.



Panjang Sungai Asahan 147 km, luas dari DAS Asahan ini mencapai 3.741 km2 . Kota utama yang di lingkupi oleh DAS Asahan di antara nya Parapat, Porsea, Balige, Kisaran dan Tanjung Balai. Titik ketinggian tertinggi di DAS Asahan yaitu Gunung Dolok Sibutan, Bandar Tongging Merek, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Indonesia dengan tinggi 2.457 mdpl sedangkan yang terendah terdapat di Tanjung Jumpul 0 mdpl.

Daerah aliran sungai (DAS) dapat dipandang sebagai sistem alami yang menjadi tempat berlangsungnya proses-proses biofisik-hidrologis maupun kegiatan sosial-ekonomi dan budaya masyarakat yang kompleks.
video
Sungai Asahan: Video Amiruddin Dolok Saribu Kader Konservasi Alam

Kerusakan kondisi hidrologis DAS sebagai dampak perluasan lahan kawasan budidaya dan pemukiman yang tidak terkendali, tanpa memperhatikan kaidah-kaidah konservasi tanah dan air seringkali menjadi penyebab peningkatan erosi dan sedimentasi, penurunan produktivitas lahan, percepatan degradasi lahan, dan banjir.

Arung Jeram
Sungai Asahan dibawah pengelolaan Dirjen PDASHL KLHK RI.  Photo: Amiruddin Dolok Saribu Kader Konservasi Alam.
Persoalan DAS harus segera ditangani melalui perencanaan, pengelolaan, monitoring dan evaluasi DAS secara terpadu baik antar wilayah administrasi (Provinsi dan Kabupaten/Kota), antar sektor, dan antar disiplin ilmu. Pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) bersifat dinamis sejalan dengan dinamika alam dan perilaku manusia terhadap sumberdaya alam

Pengelolaan DAS Asahan nyaris sunyi dari konsep konservasi dan pemberdayaan masyarakat sempadan Sungai padahal sungai tersebut berda dalam Pengolaan Direktoran Jenderal Perlindungan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (PDASHL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI. Sejalan dengan itu bebagai perusahaan beroperasi di hulu DAS Asahan dan kami selaku masyarakat bawah hanya mendapat limbah-limbah mereka, limbah-limbah pariwisata Danau Toba.

video
Sungai Asahan . Video : Amiruddin Dolok Saribu Kader Konservasi Alam

Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan ruang di mana sumber daya alam, terutama vegetasi, tanah dan air, berada dan tersimpan serta tempat hidup manusia dalam memanfaatkan sumberdaya alam tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebagai wilayah,  DAS juga dipandang sebagai ekosistem dari daur air, sehingga DAS didefinisikan sebagai suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anakanak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan, dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami.



Batas di darat merupakan pemisah topografi dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan (UU No. 7 Tahun 2004).  Dengan demikian DAS merupakan satuan wilayah alami yang memberikan manfaat produksi serta memberikan pasokan air melalui sungai, air tanah, dan atau mata air, untuk memenuhi berbagai kepentingan hidup, baik untuk manusia, flora maupun fauna.

                      KAMPANYE PERUBAHAN IKLIM


Untuk memperoleh manfaat yang optimal dan berkelanjutan perlu disusun sistem perencanaan pengelolaan DAS yang obyektif dan rasional. Perencanaan pengelolaan DAS bersifat dinamis karena dinamika proses yang terjadi di dalam DAS, baik proses alam, politik, sosial ekonomi kelembagaan, maupun teknologi yang terus berkembang. (Baca:Menko Perekonomian Darmin Nasution)



Sungai Asahan Arung Jeram terbaik ke-3 di Dunia

Sungai Asahan menempati urutan terbaik ke-3 di dunia untuk kegiatan lomba arung jeram internasional. Bagi pegiat arus deras sungai Asahan tempat yang sangat menantang adrenalin. Sepanjang 22 km arus sungai Asahan merupakan aliran adrenaline yang tidak berujung. Dengan kata lain sungai Asahan berada posisi setingkat dibawah Zambesi di Afrika dan Sungai Colorado di Amerika Serikat.



Hal tersebut dikatakan oleh Ketua Federasi Arung Jeram Indonesia (Faji) Kabupaten Asahan, Yulia Hasyim Nasution, SH kepada Kader Konservasi Alam Amiruddin Dolok Saribu 4 November 2016 di Kisaran
Congbie
Kader Konservasi Alam Amiruddin Dolok Saribu bersama Ketua FAJI Asahan Yulita Hasyim Nasution, SH. Photo: Amiruddin Dolok Saribu Kader Konservasi Alam.


Menurut Amiruddin Dolok Saribu selaku Kader Konservasi Alam, Sungai Asahan harus menjadi icon Asahan yang berpusat di Bandar Pulau, dalam hal ini harus didorong percepatan pembangunan DAS Asahan dan sektor Pariwisata. Meski PLN kini telah mengambil alih pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) III di Desa Tangga Kecamatan Aek Songsongan dan PLTA V di Desa Marjanji Aceh dan Desa Padang Pulau yang di tangani oleh Taiwan guna memasok kebutuhan arus listrik.
Sungai Asahan
Ket gambar :Kegiatan Lomba arung Jeram Internasional di Sungai Asahan. Credit Photo Pedoman Wisata
Hal serupa juga dikatakan oleh Dewan Penasehat Arung Jeram Rapting Asahan (ARA) Syopyan Panjaitan yang juga Kepala Desa Marjanji Aceh, bahwa DAS Asahan harus dapat memberi manfaat dan kesejahteraan bagi masyarakat dan kelestarian lingkungan hutan lindung Tormatutung 1/A Asahan.
Sungai Asahan
Ket gambar :Kegiatan Lomba arung Jeram Internasional di Sungai Asahan. Credit Photo Pedoman Wisata
Antara kepentingan olah raga, pariwisata dan perlindungan DAS menurut hemat kami harus dibentuk tim percepatan pembangunan DAS Asahan yang melibatkan berbagai stakeholder agar tidak terjadi tumpang tindih kepentingan dan ada yang terugikan dalam hal ini Kader Konservasi Alam Amiruddin Dolok Saribu yang juga berada dalam Forum Komunikasi Kader Kanservasi Indonesia (FK3I) Sumatera Utara dan Dewan Kehutanan Nasional (DKN) sudah membuat strategi pembangunan DAS Asahan berkelanjutan sinergitas dengan kebutuhan listrik, pariwisata dan Perlindungan Hutan Lindung. (Baca juga : Kongres Kehutanan Indonesia)
Sungai Asahan
Ket gambar :Kegiatan Lomba arung Jeram Internasional di Sungai Asahan. Credit Photo Pandu Wira Nusa Mapala Gempar Amik Royal.


Setiap tahun masyarakat Tobasa dan Asahan menyelenggarakan Festipal arung Jeram Sungai Asahan. Namun infrastruktur jalan perlulah dibangun dengan prima. Perlu pembangunan-pembangunan Home Stay dan menjaga kebersihan dan keramah tamahan.

(Baca Juga : Munas FK3I)

Dan untuk pembangunan DAS Asahan menurut KKA harus uptudate seperti Kegiatan Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah (RLKT) dan atau Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL)  Pada Kawasan DAS Asahan :

A.     Arahan kegiatan RLKT/RHL pada wilayah dengan fungsi Kawasan Lindung
1. Reboisasi dengan jenis-jenis vegetasi/pohon insitu (tanaman asli) –
multistrata tajuk
2. Reboisasi/penghijauan dengan jenis pohon yang berfungsi untuk
resapan air
3. Reboisasi/penghijauan dengan jenis vegetasi/pohon yang berfungsi
untuk tanaman sempadan sungai
4. Rebosisasi/penghijauan dengan jenis vegetasi/pohon yang berfungsi
untuk perlindungan mata air, situ, telaga
5. Reboisasi/penghijauan dengan jenis vegetasi/pohon yang berfungsi
sebagai pengendali daerah rawan bencana alam (tanah longsor)

B.     Arahan kegiatan RLKT/RHL pada wilayah dengan fungsi Kawasan Budidaya
1. Reboisasi dengan vegetasi campuran – fast growing dan daur panjang
(jati, mahoni, acasia, sengon, dll.)
2. Reboisasi/penghijauan dengan vegetasi MPTS (multi purpose tree
species)
3. Hutan Rakyat – fast growing bernilai komersial-log process/agro bisnis
4. Agroforestry – tanaman pertanian, hutan & buah-buahan
5. Agrosilvopastur – tanaman pertanian, hutan & rumput
6. Agrosilvofishery – tanaman pertanian, hutan & ikan
7. Penanaman dalam sistim strip (tanaman semusim/rumput)
8. Penanaman dalam sistim kontur (// kontur, / kontur)
9. Alley cropping – multiple cropping
10. Pengaturan pola tanam tanaman semusim/tahunan
11. Tanaman penutup tanah (cover crop) – jenis-jenis leguminosa
12. Penyempurnaan teras (teraserring yang dilengkapi dengan SPA
Tanaman penguat teras (gamal, turi, dll.)
14. Tanaman penguat tebing sungai (bambu, Pakem, dll.)
15. Tanaman pengendali lereng/tebing/longsor – jenis pohon/perdu
berakar dalam
16. Tanaman pengendali lereng/tebing/longsor – sistim bioengineering,
gabion, geotextil, retaining wall, dll
17. Pemberian mulsa – sisa tanaman, serasah daun, plastik
18. Pemberian kompos dan atau bahan organik
19. Penanaman sistim hydro-seeding – pada daerah yang remote
20. Penanaman pohon pelindung – tepi jalan, tempat ibadah, tempat
pendidikan, perkantoran, mall, area parkir, dll.
21. Teknik konservasi tanah sipil teknis

C. Arahan kegiatan terkait Sosial Ekonomi kelembagaan Masyarakat Desa
1. Sosialisasi peran hutan dan Sungai (lindung, konservasi, dll.) sebagai pengendali
lingkungan
2. Sosialisasi peran tata ruang wilayah untuk keseimbangan ekosistem dan
lingkungan
3. Pelatihan teknik RHL/RLKT.
4. Pelatihan Partisipatory Rapid Apprasial dan RKTD.
Pengembangan Kebun Bibit Desa.
5. Sosialisasi sistim peringatan dini bencana alam
8. Pemberdayaan kelompok untuk kegiatan RLKT/RHL

Salam Lestari.........
Amiruddin Dolok Saribu Conservationist)
KKA, DKN dan FK3I Sumut
Ketua dan Dewan Pendiri Jaringan Wahana Rimba Raya (Jawara) Asahan.
HP. 082165666612
email: dolok24jam@gmail.com


                         Kampanye Perubahan Iklim


Baca Juga:

Popular posts from this blog

Bara JP: Budi Daya Teripang Konservasi Pantai Barat Bersama Masyarakat

Dalam rangka meningkatkan perekonomian masyarakat pesisir Pantai Barat Tapanuli Tengah dan Kota Madya Sibolga, Provinsi Sumatera Utara, Organisasi Masyarakat (Ormas) Barisan Relawan Jokowi Presiden (Bara JP) Kabupaten Tapanuli Tengah dan Kota Madya Sibolga mengajak masyarakat membudidayakan Teripang dan tanam pohon.

WORLD OCEAN SUMMIT

Aliansi Mangrove Global menggerakkan dunia untuk membalikkan hilangnya ekosistem pesisir yang paling berharga di dunia selama World Ocean Summit - Conservation International, The Nature Conservancy dan World Wildlife Fund bergabung dan meminta kolaborator untuk memulihkan 20% habitat mangrove pada tahun 2030.


BARUS KOTA BERTUAH MINIATUR DAN DIMENSI SPRITUAL DARI PUNCAK MAKAM PAPAN TINGGI

Makam Tuan Syeikh Mahmud Barus di Papan Tinggi Desa Pananggahan, Kec. Barus Utara, Kabupaten Tapanuli Tengah-Sumut, sebagai Pembawa Syiar Agama Islam di Indonesia. Dari atas puncak Papan Tinggi atau yang biasa di sebut masyarakat setempat dengan sebutan Tompat atau Tangga Seribu menyimpan dimensi spritual yang tersembunyi. Dari atas terlihat hamparan pemukiman kota Barus dengan bentangan  samudera Hindia sebagai gerbang masuk nya Agama Kristen dan Islam di Indonesia dengan kekayaan Sumber Daya Alam ( SDA ) yang pada zaman itu yakni kapur barus. (Baca : Rekam Jejak Barus)

Pancur Napitu Merah Putih Alur Danau Toba dan Legenda Sisingamangaraja

Pancur Napitu di temukan pada tahun 1833 oleh sekelompok masyarakat Batak saat membuka perkampungan Parhutaan Maria Gunung di Dusun I, Desa Gunung Berkat, Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara. Pancur Napitu arti nya 7 sumber mata air yang keluar dari batu. Meskipun saat musim kemarau mata air tersebut tidak pernah kering dan bila saat musim  penghujan 7 mata air tersebut tetap mengeluarkan air yang jernih.