Skip to main content

Tugu Sarang Helang 'Dikenang Sifat Kesatria Rakyat Asahan'

Kader Konservasi Alam
Tugu Sarang Helang. Photo Amiruddin Dolok Saribu-Kader Konservasi Alam pohoto direkam tanggal 6/1/2017
Selain Tugu Perjuangan Bandar Pulau yang terletak di Desa Bandar Pulau Pekan, Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara, (Baca:Tugu Perjuangan Bandar Pulau masih ada satu lagi sebuah Tugu Perjuangan Sarang Helang yang terletak di Desa Sarang Helang, Kecamatan Sei Kepayang Timur, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara.

Kader Konservasi Alam
Prasasti Sarang Helang.  Photo Amiruddin Dolok Saribu-Kader Konservasi Alam
"DIKENANG SIFAT KESATRIA RAKYAT ASAHAN DISINI PERNAH TERJADI PERTEMPURAN DENGAN BELANDA". Demikian bunyi prasasti Tugu Sarang Helang yang di resmikan oleh Bupati KDH Asahan alm. H. Abdul Manan Simatupang pada tanggal 5 Oktober 1972.

Tugu Sarang Helang berbatas dengan Kawasan Hutan Lindung (KHL) Mangrove Asahan, tanpa sengaja ketika Kader Konservasi Alam (KKA) Amiruddin Dolok Saribu bersama Gunawan melakukan Patroli dan Pendataan hutan Mangrove Sarang Helang 6 Januari 2017.
Kader Konservasi Alam
Gunawan Kader Konservasi Alam di Hutan Lindung Mangrove Desa Sarang Helang.  Photo Amiruddin Dolok Saribu-Kader Konservasi Alam pohoto direkam tanggal 6/1/2017
KKA harus cinta sejarah, darah pejuang lingkungan sejalan dengan sejarah perjuangan nenek moyang bangsa dalam melawan penjajah Belanda. Sifat kesatria KKA adalah cerminan sifat para pejuang kemerdekaan RI. Tanpa jiwa kesatria KKA akan kalah bertarung dalam melawan perambah hutan dan melawan ketidakadilan pemangku kawasan hutan.
Patroli Hutan Mangrove
Patroli Hutan Mangrove Desa Sarang Helang.  Photo Amiruddin Dolok Saribu-Kader Konservasi Alam pohoto direkam tanggal 6/1/2017
Tugu Perjuangan Sarang Helang menjadi pusat perdagangan dan dermaga rakyat Asahan di tengah rimbunan HL Mangrove Sarang Helang kala itu. Masyarakat Desa Sarang Helang tidak akan melupakan para kesatria-kesatria yang mereka sebut sebagai Panglima Hulu Balang.
Anak Bermain
Anak-Anak Desa Sarang Helang setiap hari bermain di lokasi Tugu Sarang Helang. Photo Amiruddin Dolok Saribu-Kader Konservasi Alam pohoto direkam tanggal 6/1/2017.
Gunawan menjadi saksi perjalanan saya dan beberapa masyarakat Desa Sarang Helang. Infrastruktur Desa Sarang Helang perlu dibangun dengan Prima termasuk sarana air bersih dan keadilan Coorporate Social Responsibility (CSR) PT. CSIL demikian pula keadilan hutan dan Dana Desa.

Do'a kami untuk para Pejuang, Do'a Kami untuk masyarakat Desa Sarang Helang, Do'a Kami untuk Mangrove Asahan. Photo Amiruddin Dolok Saribu-Kader Konservasi Alam pohoto direkam tanggal 6/1/2017.
Baca Juga :

Popular posts from this blog

Bara JP: Budi Daya Teripang Konservasi Pantai Barat Bersama Masyarakat

Dalam rangka meningkatkan perekonomian masyarakat pesisir Pantai Barat Tapanuli Tengah dan Kota Madya Sibolga, Provinsi Sumatera Utara, Organisasi Masyarakat (Ormas) Barisan Relawan Jokowi Presiden (Bara JP) Kabupaten Tapanuli Tengah dan Kota Madya Sibolga mengajak masyarakat membudidayakan Teripang dan tanam pohon.

WORLD OCEAN SUMMIT

Aliansi Mangrove Global menggerakkan dunia untuk membalikkan hilangnya ekosistem pesisir yang paling berharga di dunia selama World Ocean Summit - Conservation International, The Nature Conservancy dan World Wildlife Fund bergabung dan meminta kolaborator untuk memulihkan 20% habitat mangrove pada tahun 2030.


BARUS KOTA BERTUAH MINIATUR DAN DIMENSI SPRITUAL DARI PUNCAK MAKAM PAPAN TINGGI

Makam Tuan Syeikh Mahmud Barus di Papan Tinggi Desa Pananggahan, Kec. Barus Utara, Kabupaten Tapanuli Tengah-Sumut, sebagai Pembawa Syiar Agama Islam di Indonesia. Dari atas puncak Papan Tinggi atau yang biasa di sebut masyarakat setempat dengan sebutan Tompat atau Tangga Seribu menyimpan dimensi spritual yang tersembunyi. Dari atas terlihat hamparan pemukiman kota Barus dengan bentangan  samudera Hindia sebagai gerbang masuk nya Agama Kristen dan Islam di Indonesia dengan kekayaan Sumber Daya Alam ( SDA ) yang pada zaman itu yakni kapur barus. (Baca : Rekam Jejak Barus)

Pancur Napitu Merah Putih Alur Danau Toba dan Legenda Sisingamangaraja

Pancur Napitu di temukan pada tahun 1833 oleh sekelompok masyarakat Batak saat membuka perkampungan Parhutaan Maria Gunung di Dusun I, Desa Gunung Berkat, Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara. Pancur Napitu arti nya 7 sumber mata air yang keluar dari batu. Meskipun saat musim kemarau mata air tersebut tidak pernah kering dan bila saat musim  penghujan 7 mata air tersebut tetap mengeluarkan air yang jernih.

Sungai Asahan: Perlindungankah, Arung Jeram, PLN atau Pariwisata.

Sungai Asahan adalah sungai yang berasal dari mulut Danau Toba, mengalir melewati Porsea, Kabupaten Tobasa (Hulu), hingga ke Kabupaten Asahan dan bermuara ke Kodya Tanjung Balai Pantai Selat Malaka.  Adapun Desa-Desa di Kabupaten Asahan yang di lalui Sungai Asahan mulai dari Desa Tangga, Desa Aek Songsongan Kecamatan Aek Songsongan, Desa Marjanji Aceh, Desa Padang Pulau, Desa Perkebunan Padang Pulau,  Desa Bandar Pulau, Kecamatan Bandar Pulau, Desa Gunung Melayu,  Desa Perkebunan Gunung Melayu, Desa Perkebunan Aek Nagaga, Kecamatan Rahuning Kemudian Desa Pulau Rakyat Pekan, Desa Pulau Rakyat Tua,  Kecamatan Pulau Rakyat, Desa Teluk Dalam, Desa Pulau Tanjung, Kecamatan Teluk Dalam, Sungai Dua Hulu, Kecamatan Simpang Empat, Hingga ke Teluk Nibung, Tanjung Jumpul, Kecamatan Tanjung Balai, Kota Madya Tanjung Balai.