Skip to main content

Belajar Melindungi Lingkungan Sekolah Agar Burung Tetap Berkicau

Kesibukan sehari-hari warga di perkotaan kerap mengurangi kesadaran bahwa burung-burung nan cantik dan merdu masih berada di sekitar mereka. Tapi sebagai sosok yang lugu, anak-anak adalah pihak yang paling peka terhadap kehadiran burung di sekitar mereka

Kepekaan itulah yang coba murid SD Al Jabr Islamic School Jakarta pupuk dengan pengetahuan saat berkunjung ke Kota Bogor, Kamis (23/03). Matahari belum terlalu lama merekah saat mereka tiba, sejumlah burung berkicau dan hinggap di dahan-dahan pohon yang berada di sekitar kantor Burung Indonesia. Pohon-pohon buah memang menjadi naungan favorit bagi burung-burung perkotaan.
Sebanyak enam orang murid yang datang berkunjung mengantungi 15 pertanyaan yang telah mereka persiapkan dan disampaikan secara bergantian. Kunjungan ini merupakan bagian dari materi pembelajaran mengenai ketergantungan keragaman hayati dengan pengelolaan keseimbangan organisme yang ada di lingkungan.
Pengetahuan yang digali saat berdialog dengan staff Burung Indonesia dimaksudkan agar mereka memahami pengaruh perubahan lingkungan pelestarian populasi burung di area sekolah. Pasalnya, burung adalah satwa yang sangat sensitif terhadap perubahan di lingkungannya. Hal ini disebabkan burung memiliki keterikatan pada habitat yang cukup spesifik atau pada sumber makanan tertentu. Banyak jenis pohon buah atau serangga yang menjadi sumber pakan burung dipengaruhi juga oleh hal yang sama.
Selain itu, sejumlah murid juga melontarkan pertanyaan seputar perilaku burung-burung di perkotaan yang biasa mereka lihat. Dari kunjungan ini mereka pulang membawa pengetahuan mengenai dampak perubahan lingkungan terhadap populasi burung, dan akan mengajak kawan-kawannya di sekolah untuk aktif menjaga kelestarian lingkungan.
Disadur dari website www.burung.org oleh Amiruddin Dolok Saribu (Kader Konservasi Alam) Anggota Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia (Birdlife Indonesia Association). Dengan Nomor Anggota 15.2002.0090 

Popular posts from this blog

BARUS KOTA BERTUAH MINIATUR DAN DIMENSI SPRITUAL DARI PUNCAK MAKAM PAPAN TINGGI

Makam Tuan Syeikh Mahmud Barus di Papan Tinggi Desa Pananggahan, Kec. Barus Utara, Kabupaten Tapanuli Tengah-Sumut, sebagai Pembawa Syiar Agama Islam di Indonesia. Dari atas puncak Papan Tinggi atau yang biasa di sebut masyarakat setempat dengan sebutan Tompat atau Tangga Seribu menyimpan dimensi spritual yang tersembunyi. Dari atas terlihat hamparan pemukiman kota Barus dengan bentangan  samudera Hindia sebagai gerbang masuk nya Agama Kristen dan Islam di Indonesia dengan kekayaan Sumber Daya Alam ( SDA ) yang pada zaman itu yakni kapur barus. (Baca : Rekam Jejak Barus)

Pancur Napitu Merah Putih Alur Danau Toba dan Legenda Sisingamangaraja

Pancur Napitu di temukan pada tahun 1833 oleh sekelompok masyarakat Batak saat membuka perkampungan Parhutaan Maria Gunung di Dusun I, Desa Gunung Berkat, Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara. Pancur Napitu arti nya 7 sumber mata air yang keluar dari batu. Meskipun saat musim kemarau mata air tersebut tidak pernah kering dan bila saat musim  penghujan 7 mata air tersebut tetap mengeluarkan air yang jernih.

Tugu Titik Nol Barus

BARUS, SUMUTPOS.CO –  Presiden Joko Widodo (Jokowi) didampingi Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Tengku Erry Nuradi meresmikan Tugu Titik Nol Islam Nusantara yang terletak dipinggir pantai Barat Sumatera di Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara, Jumat (24/03/2017).
Hadir juga  Ketua Umum DPP Jam’iyah Batak Muslim Indonesia (JBMI) Syekh KH Ali Akbar Marbun, Sekjen DPP JBMI Arif R Marbun, Ketua DPW JBMI Sumut  Aidan Nazwir Panggabean, tokoh agama, tokoh masyarakat, mantan Ketua DPR RI Akbar Tanjung, sejumlah menteri, FKPD Provsu, Tapanuli Tengah dan undangan. Peresmian ditandai dengan penandatangan prasasti, menekan tombol sirine dan peninjauan lokasi oleh Presiden Jokowi. Tugu (Monumen) ini memiliki tiga tiang penyangga bola dunia ini memiliki filosofi adat Batak yang menjadi kearifan lokal masyarakat adalah Adat Dalihan Na Tolu.

REKAM JEJAK BARUS

Pesan Prof Dr. Meutia Hatta kepada Wartawan ( Pers )
" Tulislah sesuatu tentang Barus karena Barus ini bagian dari kebanggaan Nasional, dan juga Jati Diri kita, identitas Nasional karena ini menunjukkan peradaban Indonesia yang lama yang mungkin juga di lupakan orang. Bahkan mungkin bisa menjawab apakah masyarakat Bahari itu juga ada disini. Kita selalu berpikir Indonesia Timur, tapi mungkin disini juga ada. Apalagi disini memungkinkan ada pelabuhan dan sebagai nya. Ini harus ada klaim budaya, tapi klaim budaya itu baru bisa di lakukan apabila sudah ada bukti-bukti yang cukup. Jadi saya kira wartawan juga ikut mendorong . Tapi tolong juga di ingat kan karena wartawan itu ( Pers ) juga mempunyai pungsi mendidik Bangsa. Jadi tolonglah sifat " Tak Kenal Maka Tak Sayang " itu hilang dari perasaan terutama anak-anak muda kita yang duduk di SD sampai dengan Perguruan Tinggi. Jadi saya kira itu harapan saya bagi pers. Mari Pers ikut mendidik Bangsa". ( Amanat Pr…

PANTAI BARUS