Skip to main content

Rakornas Konservasi Dan Perdagangan Burung Rangkong

Direktoran Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Ditjen KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menggelar rapat koordinasi nasional mengenai implementasi konservasi dan perdagangan rangkong gading (Rhinoplax vigil) di Medan, Selasa (16/5). Burung Indonesia turut hadir dalam kesempatan tersebut.

Selain membahas agenda konservasi dan perlindungan rangkong gading dari aksi perdagangan, pihak Ditjen KSDAE pun menyampaikan hasil resolusi rangkong gading pada Konferensi Para Pihak (COP) terkait Konvensi Perdagangan Internasional untuk Spesies Flora dan Fauna Liar (CITES) 2017. Perlindungan jenis burung terancam punah ini dari perburuan semakin masif diimplementasikan. Rangkong gading masuk ke dalam daftar CITES Apendiks I. Artinya, penangkapan jenis ini di alam bebas adalah aktivitas ilegal.
Seperti halnya perburuan gading gajah, masuknya rangkong gading ke dalam daftar Apendiks I mendorong para pihak untuk mengadaptasi pendekatan konservasi dan perlindungan hukum yang terintegrasi, sekaligus meningkatkan pendidikan publik dan penguatan kerjasama antar badan hukum terkait untuk mencegah jenis rangkong ini dari kepunahan.
Di antara 13 jenis rangkong yang ada di Indonesia, rangkong gading merupakan jenis terunik karena memiliki bentuk cula yang berbeda dan paling kuat dibandingkan jenis lain. Rangkong gading jantan memanfaatkan kekuatan cula mereka untuk bertarung, dan baik jantan ataupun betina memanfaatkannya sebagai alat untuk mendesak keluar serangga dari pohon yang rapuh.
Selain bentuk fisiknya yang unik dan besar—ukurannya bisa mencapai 110-125 cm—rangkong  gading dikenal juga memiliki resonasi suara yang keras. Sebagai burung pemakan buah-buahan dan biji-bijian, rangkong gading dikenal pula sebagai “petani hutan” karena kerap menyebarkan biji sisa makanannya di areal hutan.  Selain karena tekanan perburuan, habitat dan populasi rangkong gading juga terancam oleh invasi perkebunan kelapa sawit. (MEI)
Disadur dar website www.burung.org oleh Amiruddin Dolok Saribu (Kader Konservasi Alam) Anggota Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia (Birdlife Indonesia Association). Dengan Nomor Anggota 15.2002.0090 

Popular posts from this blog

BARUS KOTA BERTUAH MINIATUR DAN DIMENSI SPRITUAL DARI PUNCAK MAKAM PAPAN TINGGI

Makam Tuan Syeikh Mahmud Barus di Papan Tinggi Desa Pananggahan, Kec. Barus Utara, Kabupaten Tapanuli Tengah-Sumut, sebagai Pembawa Syiar Agama Islam di Indonesia. Dari atas puncak Papan Tinggi atau yang biasa di sebut masyarakat setempat dengan sebutan Tompat atau Tangga Seribu menyimpan dimensi spritual yang tersembunyi. Dari atas terlihat hamparan pemukiman kota Barus dengan bentangan  samudera Hindia sebagai gerbang masuk nya Agama Kristen dan Islam di Indonesia dengan kekayaan Sumber Daya Alam ( SDA ) yang pada zaman itu yakni kapur barus. (Baca : Rekam Jejak Barus)

Pancur Napitu Merah Putih Alur Danau Toba dan Legenda Sisingamangaraja

Pancur Napitu di temukan pada tahun 1833 oleh sekelompok masyarakat Batak saat membuka perkampungan Parhutaan Maria Gunung di Dusun I, Desa Gunung Berkat, Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara. Pancur Napitu arti nya 7 sumber mata air yang keluar dari batu. Meskipun saat musim kemarau mata air tersebut tidak pernah kering dan bila saat musim  penghujan 7 mata air tersebut tetap mengeluarkan air yang jernih.

Munas VI Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) 2017 TN Baluran

TN Baluran (Kader Konservasi Alam)

Usai kegiatan Jambore Nasional Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 8-10 Agustus di Taman Nasional (TN) Baluran, Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur, Baca; Jambore Nasional HKAN 2017 Seluruh jajaran pengurus FK3I Provinsi se-Indonesia bersama Kader Konservasi Alam (KKA) melakukan Musyawarah Nasional (Munas) ke-VI 11-12 Agustus 2017 di Taman Nasional Baluran, Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur untuk menentukan pengurus periode 2017-2022. Sesuai dengan tema HKAN 2017 Konservasi ALam Konservasi Kita.hingga tingkat tapak.

REKAM JEJAK BARUS

Pesan Prof Dr. Meutia Hatta kepada Wartawan ( Pers )
" Tulislah sesuatu tentang Barus karena Barus ini bagian dari kebanggaan Nasional, dan juga Jati Diri kita, identitas Nasional karena ini menunjukkan peradaban Indonesia yang lama yang mungkin juga di lupakan orang. Bahkan mungkin bisa menjawab apakah masyarakat Bahari itu juga ada disini. Kita selalu berpikir Indonesia Timur, tapi mungkin disini juga ada. Apalagi disini memungkinkan ada pelabuhan dan sebagai nya. Ini harus ada klaim budaya, tapi klaim budaya itu baru bisa di lakukan apabila sudah ada bukti-bukti yang cukup. Jadi saya kira wartawan juga ikut mendorong . Tapi tolong juga di ingat kan karena wartawan itu ( Pers ) juga mempunyai pungsi mendidik Bangsa. Jadi tolonglah sifat " Tak Kenal Maka Tak Sayang " itu hilang dari perasaan terutama anak-anak muda kita yang duduk di SD sampai dengan Perguruan Tinggi. Jadi saya kira itu harapan saya bagi pers. Mari Pers ikut mendidik Bangsa". ( Amanat Pr…

Offroad Survei Kawasan Wisata Desa

Wellcome JAC to ringroad Tobasa Asahan Simalungun Lintas Tormatutung. Tim JAC melakukan survei kawasan desa wisata di bawah kaki pegunungan hutan lindung Tormatutung reg 1/A Asahan, Sumatera Utara, Minggu, 24/4/2016.