Skip to main content

Melindungi Hutan Lindung Sahendaruman Melalui Pemetaan Tata Ruang Partisipatif

Jika melihatnya melalui atlas dunia, Pulau Sangihe hanya sekadar titik di antara kepulauan besar Nusantara yang menjadi batas paling utara Indonesia. Namun dalam dunia konservasi keragaman hayati global, pulau kecil ini memiliki nama besar.
Laut dalam yang mengelilingi Sangihe menjadi penghalang alami bagi persebaran flora dan fauna. Tak heran, pulau ini memiliki endemisitas keragaman hayati yang sangat tinggi. Berdasarkan keragaman jenis burungnya saja, Sangihe menjadi satu-satunya rumah bagi sepuluh jenis burung endemis; kesepuluh jenis ini hidup di kawasan hutan lindung Gunung Sahendaruman.
Serindit sangihe, celepuk sangihe, raja-udang bengkaratu, udang-merah sangihe, paok sangihe, anis-bentet sangihe, brinji-emas sangihe, burung-madu sangihe, kacamata sangihe, dan seriwang sangihe, menggantungkan hidupnya dari ekosistem hutan Gunung Sahendaruman. Karena itu, Profil Ekosistem Wallacea memasukkan Gunung Sahendaruman sebagai KBA (key biodiversity area) prioritas yang masuk ke dalam area pendanaan Sangihe-Talaud dan Koridor Laut Sulawesi Utara, Program Kemitraan Wallacea.
Sayangnya, praktik alih fungsi lahan mengancam kawasan hutan lindung Sahendaruman yang kini hanya tersisa tidak lebih dari 500 hektare. Dampak buruk degradasi hutan tidak hanya mengancam kelestarian keragaman hayati Pulau Sangihe, tetapi juga mengancam penghidupan ribuan masyarakat yang tinggal di 25 kampung di sekitarnya. Sebab, hutan lindung menyediakan layanan alam vital bagi masyarakat, terutama sebagai sumber pasokan air bersih.
Sumber air ini juga yang menggerakkan pembangkit listrik tenaga mikrohidro yang memasok aliran listrik ke seluruh wilayah di kabupaten kepulauan ini. Ekosistem hutan yang sehat tentu saja mampu menunjang produktivitas berbagai komoditi pertanian unggulan Sangihe seperti sagu, kelapa, cengkeh, dan pala. Tetapi, perluasan lahan pertanian memicu praktik alih fungsi pada beberapa sisi hutan lindung Gunung Sahendaruman.
Penetapan batas hutan lindung telah menimbulkan menimbulkan kontroversi sejak awal. Sebagian besar masyarakat di seluruh kampung yang berbatasan dengan hutan lindung menolak pemasangan patok batas karena tidak disertai sosialisasi dan konsultasi. Munculnya potensi konflik di satu sisi dan tidak adanya manajemen di tingkat tapak membuat hutan Sahendaruman terus terdegradasi secara pelahan tapi pasti.
Program Kemitraan Wallacea melalui proyek “Pelestarian Hutan Lindung Gunung Sahendaruman bagi Konservasi Jenis Terancam Punah dan Layanan Alam” berupaya menahan laju kerusakan dan membangun tata kelola kehutanan yang baik di Pulau Sangihe. Bersama Perkumpulan Sampiri sebagai mitra lokal, edukasi sekaligus konsultasi mengenai nilai penting hutan lindung kepada warga di tiga kampung sekitar Gunung Sahendaruman menjadi pendekatan mendasar di awal proyek.
Pendekatan tersebut kemudian dilanjutkan dengan pemetaan tata ruang partisipatif sebagai dasar penyusunan rencana pengelolaan sumber daya alam kampung. Ketiga kampung tersebut antara lain Kampung Malamenggu, Kampung Bukide, dan Kampung Pelelangen. Hasil dari proses pelaksanaan proyek selama lebih dari setahun adalah kesepakatan tata ruang setempat yang mengatur wilayah pemukiman, wilayah pertanian, dan wilayah lindung.
Setelah kesepakatan disahkan menjadi peraturan kampung pada 2016, warga tidak lagi membuka dan menggarap kebun di kawasan hutan. Mata air dan daerah rawan longsor yang terletak di kawasan pertanian dan perkebunan juga menjadi kawasan lindung. Secara keseluruhan ada 2.157 hektare hutan lindung yang disepakati untuk dijaga oleh warga di tiga kampung.
Sejumlah perubahan nyata di tingkat tapak mulai lahir usai kesepakatan itu dan memicu perubahan kebijakan dan perencanaan pembangunan. Pendekatan proyek ini direplikasi oleh Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe di Kemapung Lelipang, Kecamatan Tamako. Fokus kegiatan replikasi ini adalah merevisi Peraturan Kampung Ulung Peliang tentang Pelestarian Alam Kampung.
Pemerintah Kampung Lelipang mengadopsi hasil revisi peraturan tersebut menjadi program kampung dan mengalokasikan dana kegiatan lingkungan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Kampung (APBK) 2017. Melalui strategi pengembangan partisipasi warga, upaya pelestarian hutan lindung Sahendaruman tidak hanya berhasil di lokasi proyek, melainkan telah direplikasi oleh warga kampung lain, pemerintah kampung, juga pemerintah kabupaten.
Burung Indonesia terus mendorong kolaborasi para pemangku kepentingan di Sangihe dan Sulawesi Utara agar pelestarian hutan didukung oleh seluruh warga dan pemerintah kampung di sekeliling Gunung Sahendaruman. Bupati Kepulauan Sangihe, Jabes Gaghana, mendukung pelestarian Gunung Sahendaruman sebagai penyedia layanan alam yang akan menjadi penopang bagi ketahanan pangan kabupaten kepulauan ini. (AWY)
Sumber http://burung.org/2017/12/13/melindungi-hutan-lindung-sahendaruman-melalui-pemetaan-tata-ruang-partisipatif/
Disadur dari website www.burung.org oleh Amiruddin Dolok Saribu (Kader Konservasi Alam) Anggota Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia (Birdlife Indonesia Association). Dengan Nomor Anggota 15.2002.0090 

Popular posts from this blog

BARUS KOTA BERTUAH MINIATUR DAN DIMENSI SPRITUAL DARI PUNCAK MAKAM PAPAN TINGGI

Makam Tuan Syeikh Mahmud Barus di Papan Tinggi Desa Pananggahan, Kec. Barus Utara, Kabupaten Tapanuli Tengah-Sumut, sebagai Pembawa Syiar Agama Islam di Indonesia. Dari atas puncak Papan Tinggi atau yang biasa di sebut masyarakat setempat dengan sebutan Tompat atau Tangga Seribu menyimpan dimensi spritual yang tersembunyi. Dari atas terlihat hamparan pemukiman kota Barus dengan bentangan  samudera Hindia sebagai gerbang masuk nya Agama Kristen dan Islam di Indonesia dengan kekayaan Sumber Daya Alam ( SDA ) yang pada zaman itu yakni kapur barus. (Baca : Rekam Jejak Barus)

Pancur Napitu Merah Putih Alur Danau Toba dan Legenda Sisingamangaraja

Pancur Napitu di temukan pada tahun 1833 oleh sekelompok masyarakat Batak saat membuka perkampungan Parhutaan Maria Gunung di Dusun I, Desa Gunung Berkat, Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara. Pancur Napitu arti nya 7 sumber mata air yang keluar dari batu. Meskipun saat musim kemarau mata air tersebut tidak pernah kering dan bila saat musim  penghujan 7 mata air tersebut tetap mengeluarkan air yang jernih.

Munas VI Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) 2017 TN Baluran

TN Baluran (Kader Konservasi Alam)

Usai kegiatan Jambore Nasional Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 8-10 Agustus di Taman Nasional (TN) Baluran, Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur, Baca; Jambore Nasional HKAN 2017 Seluruh jajaran pengurus FK3I Provinsi se-Indonesia bersama Kader Konservasi Alam (KKA) melakukan Musyawarah Nasional (Munas) ke-VI 11-12 Agustus 2017 di Taman Nasional Baluran, Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur untuk menentukan pengurus periode 2017-2022. Sesuai dengan tema HKAN 2017 Konservasi ALam Konservasi Kita.hingga tingkat tapak.

REKAM JEJAK BARUS

Pesan Prof Dr. Meutia Hatta kepada Wartawan ( Pers )
" Tulislah sesuatu tentang Barus karena Barus ini bagian dari kebanggaan Nasional, dan juga Jati Diri kita, identitas Nasional karena ini menunjukkan peradaban Indonesia yang lama yang mungkin juga di lupakan orang. Bahkan mungkin bisa menjawab apakah masyarakat Bahari itu juga ada disini. Kita selalu berpikir Indonesia Timur, tapi mungkin disini juga ada. Apalagi disini memungkinkan ada pelabuhan dan sebagai nya. Ini harus ada klaim budaya, tapi klaim budaya itu baru bisa di lakukan apabila sudah ada bukti-bukti yang cukup. Jadi saya kira wartawan juga ikut mendorong . Tapi tolong juga di ingat kan karena wartawan itu ( Pers ) juga mempunyai pungsi mendidik Bangsa. Jadi tolonglah sifat " Tak Kenal Maka Tak Sayang " itu hilang dari perasaan terutama anak-anak muda kita yang duduk di SD sampai dengan Perguruan Tinggi. Jadi saya kira itu harapan saya bagi pers. Mari Pers ikut mendidik Bangsa". ( Amanat Pr…

Offroad Survei Kawasan Wisata Desa

Wellcome JAC to ringroad Tobasa Asahan Simalungun Lintas Tormatutung. Tim JAC melakukan survei kawasan desa wisata di bawah kaki pegunungan hutan lindung Tormatutung reg 1/A Asahan, Sumatera Utara, Minggu, 24/4/2016.