Skip to main content

Sempidan-merah Kalimantan: Pegar Menawan dari Rimba Borneo

Sempidan merupakan burung pegar yang pemalu. Di Kalimantan, populasi jenis ini adalah salah satu jenis yang merasakan dampak langsung ekspansi pemukiman dan konsesi penebangan hutan yang mengancam keberadaan mereka; selain disebabkan oleh masifnya aksi perburuan. Meski cukup toleran terhadap efek penebangan, perburuan cukup memengaruhi populasi jenis ini di habitat aslinya.

Hampir seluruh jenis sempidan di Kalimantan memiliki sebaran yang relatif kecil, dan sebagian besar telah ditetapkan Badan Konservasi Dunia (IUCN) sebagai jenis terancam punah, termasuk sempidan-merah kalimantan (Lophura pyronota) yang merupakan burung endemis pulau Borneo.
Cukup sulit menemukan sempidan-merah kalimantan di hutan terbuka. Sebab jenis ini memiliki relung ekologi di kawasan hutan dataran rendah yang utuh dan luas. Kini, populasi sempidan-merah kalimantan diperkirakan hanya berkisar 10,000-19,999 individu dewasa. Karena ancamannya yang terus meningkat, IUCN memasukkan jenis ini ke dalam daftar merah satwa terancam punah dengan status Rentan (Vulnerable/VU).
Tingkat kerusakan hutan di Kalimantan memang begitu tinggi. Bahkan selama periode 1985-1997, Kalimantan telah kehilangan hampir 25% tutupan hutan. Hal itu mendorong sejumlah pihak untuk melakukan aksi konservasi terhadap jenis ini di sejumlah kawasan lindung, termasuk di Taman Nasional Tanjung Puting dan Gunung Mulu National Park di Sarawak, Malaysia.
Sempidan-merah kalimantan adalah jenis burung baru dari hasil pemisahan jenis sempidan merah (Lophura erythrophthalma) yang tersebar di daratan Sumatera, Semenanjung Malaysia, dan Kalimantan. Kedua jenis ini memiliki ciri fisik yang cukup berbeda. Sempidan-merah kalimantan memiliki bulu-bulu berwarna abu-abu pucat pada lehernya, sementara sempidan merah berwarna biru gelap mengilap.
Corak bergaris putih tebal pada bagian leher hingga ke perut bagian tengah dan pada bagian belakang leher hingga bulu mantelnya pun membedakan ciri fisik sempidan-merah kalimantan dengan kerabatnya tersebut. Berdasarkan perbedaan tersebut, sempidan merah di Kalimantan ditetapkan sebagai jenis tersendiri.
Sumber http://burung.org/2017/12/19/sempidan-merah-kalimantan-pegar-menawan-dari-rimba-borneo/
Disadur dar website www.burung.0rg oleh Amiruddin Dolok Saribu (Kader Konservasi Alam) Anggota Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia (Birdlife Indonesia Association). Dengan Nomor Anggota 15.2002.0090 

Popular posts from this blog

BARUS KOTA BERTUAH MINIATUR DAN DIMENSI SPRITUAL DARI PUNCAK MAKAM PAPAN TINGGI

Makam Tuan Syeikh Mahmud Barus di Papan Tinggi Desa Pananggahan, Kec. Barus Utara, Kabupaten Tapanuli Tengah-Sumut, sebagai Pembawa Syiar Agama Islam di Indonesia. Dari atas puncak Papan Tinggi atau yang biasa di sebut masyarakat setempat dengan sebutan Tompat atau Tangga Seribu menyimpan dimensi spritual yang tersembunyi. Dari atas terlihat hamparan pemukiman kota Barus dengan bentangan  samudera Hindia sebagai gerbang masuk nya Agama Kristen dan Islam di Indonesia dengan kekayaan Sumber Daya Alam ( SDA ) yang pada zaman itu yakni kapur barus. (Baca : Rekam Jejak Barus)

Pancur Napitu Merah Putih Alur Danau Toba dan Legenda Sisingamangaraja

Pancur Napitu di temukan pada tahun 1833 oleh sekelompok masyarakat Batak saat membuka perkampungan Parhutaan Maria Gunung di Dusun I, Desa Gunung Berkat, Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara. Pancur Napitu arti nya 7 sumber mata air yang keluar dari batu. Meskipun saat musim kemarau mata air tersebut tidak pernah kering dan bila saat musim  penghujan 7 mata air tersebut tetap mengeluarkan air yang jernih.

Munas VI Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) 2017 TN Baluran

TN Baluran (Kader Konservasi Alam)

Usai kegiatan Jambore Nasional Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 8-10 Agustus di Taman Nasional (TN) Baluran, Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur, Baca; Jambore Nasional HKAN 2017 Seluruh jajaran pengurus FK3I Provinsi se-Indonesia bersama Kader Konservasi Alam (KKA) melakukan Musyawarah Nasional (Munas) ke-VI 11-12 Agustus 2017 di Taman Nasional Baluran, Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur untuk menentukan pengurus periode 2017-2022. Sesuai dengan tema HKAN 2017 Konservasi ALam Konservasi Kita.hingga tingkat tapak.

REKAM JEJAK BARUS

Pesan Prof Dr. Meutia Hatta kepada Wartawan ( Pers )
" Tulislah sesuatu tentang Barus karena Barus ini bagian dari kebanggaan Nasional, dan juga Jati Diri kita, identitas Nasional karena ini menunjukkan peradaban Indonesia yang lama yang mungkin juga di lupakan orang. Bahkan mungkin bisa menjawab apakah masyarakat Bahari itu juga ada disini. Kita selalu berpikir Indonesia Timur, tapi mungkin disini juga ada. Apalagi disini memungkinkan ada pelabuhan dan sebagai nya. Ini harus ada klaim budaya, tapi klaim budaya itu baru bisa di lakukan apabila sudah ada bukti-bukti yang cukup. Jadi saya kira wartawan juga ikut mendorong . Tapi tolong juga di ingat kan karena wartawan itu ( Pers ) juga mempunyai pungsi mendidik Bangsa. Jadi tolonglah sifat " Tak Kenal Maka Tak Sayang " itu hilang dari perasaan terutama anak-anak muda kita yang duduk di SD sampai dengan Perguruan Tinggi. Jadi saya kira itu harapan saya bagi pers. Mari Pers ikut mendidik Bangsa". ( Amanat Pr…

Offroad Survei Kawasan Wisata Desa

Wellcome JAC to ringroad Tobasa Asahan Simalungun Lintas Tormatutung. Tim JAC melakukan survei kawasan desa wisata di bawah kaki pegunungan hutan lindung Tormatutung reg 1/A Asahan, Sumatera Utara, Minggu, 24/4/2016.