Skip to main content

Kader Konservasi Alam

KADER KONSERVASI 
1.  Kader Konservasi adalah seseorang yang telah dididik/ditetapkan sebagai penerus upaya konservasi sumber daya alam yang memiliki kesadaran dan ilmu pengetahuan tentang konservasi sumber daya alam serta sukarela, bersedia dan mampu menyampaikan pesan konservasi kepada masyarakat.
2.    Fungsi dan Tugas Kader Konservasi adalah :
a.  Sebagai pelopor dan penggerak upaya-upaya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya
b.  Berperan aktif dalam menumbuhkembangkan gerakan upaya-upaya konservasi sumber daya alam di tengah-tengah masyarakat.
3.    Hak-hak kader konservasi :
a.  Mendapatkan kemudahan memasuki dan memanfaatkan kawasan konservasi.
b.  Membina kader konservasi yang lebih rendah tingkatannya
c.   Mengikuti kegiatan-kegiatan dalam lomba penghijauan dan konservasi alam serta kegiatan lain yang terkait dengan konservasi alam dan lingkungan hidup.
4. Sebagai mitra bina cinta alam, kader konservasi diharapkan dapat memberikan perannya sebagai :
a.  Inisiator
Sebagai seseorang dari bagian komunitas sadar hutan dan lingkungan, kader konservasi diharapkan dapat menjadi sumber ide/pemikiran konservasi yang bermanfaat bagi UPT PHKA maupun masyarakat secara luas melalui kepekaan dan pengetahuannya akan kondisi dan permasalahan hutan dan lingkungan saat ini.
b.  Motivator
Membangkitkan semangat/motivasi dan dorongan kepada masyarakat untuk mengetahui, memahami, serta menyadari pentingnya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya serta penerapan prinsip-prinsip konservasi dalam peri kehidupan.
c.   Fasilitator
Dalam penerapan prinsip-prinsip konservasi melalui pelaksanaan /penyelenggaraan bina cinta alam, kader konservasi berperan sebagai fasilitator/pendamping kegiatan yang diselenggarakan oleh Balai UPT PHKA, LSM, kelompok swadaya, dan Pemda setempat maupun kegiatan yang diselenggarakan secara mandiri oleh mitra.
d.  Dinamisator
Dalam menghadapi permasalahan hutan dan lingkungan yang semakin meningkat akhir-akhir ini, kader konservasi diharapkan dapat berperan sebagai mitra aktif dan sejajar dengan UPT PHKA untuk secara dinamis menyikapi kondisi yang ada. Kader
5.    Kegiatan Kader Konservasi
Kegiatan-kegiatan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, seperti yang diamanatkan dalam UU Nomor 5 tahun 1990, adalah kegiatan-kegiatan terkait prinsip-prinsip konservasi yaitu perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragamn jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, dan pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
6.    Berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 1990, jenis-jenis kegiatan yang diharapkan dapat dilaksanakan oleh kader konservasi adalah :
a.      Melaksanakan penerangan dan penyuluhan tentang konservasi SDAHE.
b.     Menyelenggarakan seminar/diskusi tentang konservasi SDHAE
c.   Melakukan kegiatan penelitian/ekspedisi tentang potensi flora, fauna dan ekosistemnya.
d.  Membantu menjaga kelestarian alam kawasan konservasi (Taman Nasional, Taman Wisata Alam, Taman Hutan Raya, Taman Laut, Cagar Alam dan Suaka Margasatwa).
e.      Menyebarluaskan informasi tentang konservasi SDAHE.
f.       Membuat tulisan/artikel di media masa tentang konservasi SDAHE
g.  Menjadi pemandu wisata alam di kawasan wisata alam (Taman Nasional, Taman wisata alam, Taman Hutan Raya, edan Taman Laut.
h.  Memanfaatkan media elektronik seperti radio dan televise sebagai sarana kampanye tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
i.   Berupaya meningkatkan keterampilan dalam memanfaatkan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya secara lestari. Keterampilan tersebut antara lain berupa kegiatan penangkaran jenis flora dan fauna dan lain-lain.
j.  Melapor kepada petugas lapangan atau jagawana bila ada perambahan hutan kayu dan pencurian kayu serta hasil hutan ikutan, satwa dan lain lain.
k.  Mengusahakan dan membantu memadamkan kebakaran hutan.
l.    Rehabilitasi Hutan baik perorangan maupun menggerakkan masyarakat.

I.           PENDAHULUAN
 


A.   Latar Belakang
Berbagai jenis flora dan fauna eksotik terdapat di Indonesia sebagai kekayaan sumberdaya alam yang sangat penting dan bermanfaat bagi kelangsungan hidup bangsa dan pembangunan nasional. Beberapa jenis flora dan satwa merupakan jenis unggulan (flagship species) dan menjadi perhatian internasional, diantaranya adalah bunga bangkai (Rafflesia sp), komodo (Varanus komodoensis), orang utan (Pongo pygmaeus dan Pongo abelii), jalak bali (Leucopsar rotschildi), harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) dan lain-lain. Namun kekayaan tersebut saat ini mengalami penurunan kualitas dan kuantitasnya dengan adanya deforestasi.
Laju deforestasi yang sangat tinggi (kurang lebih sekitar 2 juta ha/tahun) menimbulkan ancaman dan tekanan terhadap sumber daya alam. Ancaman dan tekanan keberadaan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya disebabkan oleh perilaku manusia maupun akibat bencana alam. Terjadinya banjir, kebakaran, kekeringan, dan tanah longsor menjadi bukti kurangnya kepedulian dan kesadaran masyarakat akan kelestarian alam. Kerusakan sumber daya alam dan ekosistem ini telah sampai pada tingkat yang mengkhawatirkan. Peningkatan aktivitas ekonomi untuk mempercepat laju pembangunan di satu sisi berhasil meningkatkan pendapatan penduduk, namun di sisi lain menimbulkan permasalahan yaitu semakin menipisnya persediaan sumber daya alam, serta penurunan kualitas ekosistem. Maka sudah menjadi kesadaran bersama bahwa kelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistemnya adalah tugas dan tanggung jawab setiap warga negara. Kesediaan masyarakat menjadi kader konservasi merupakan salah satu bentuk peranserta masyarakat di bidang konservasi. Sebagai ujung tombak pemerintah, kader konservasi diharapkan mampu berperan aktif dalam memberikan motivasi dan menggerakan masyarakat untuk berpartisipasi dalam konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.  
Kader konservasi sesuai dengan fungsi dan tugasnya, diharapkan mampu berperan aktif dalam menumbuh-kembangkan dan menggerakan upaya-upaya konservasi sumber daya alam di tengah-tengah masyarakat. Sebagai mitra bina cinta alam, pembinaan yang efektif, intensif, serta optimal oleh Unit Pelaksana Teknis Ditjen PHKA dan instasi terkait selaku pembina kader konservasi sangat diperlukan untuk meningkatkan peran aktif kader konservasi selain juga untuk meningkatkan kemandirian kader konservasi. Sampai dengan saat ini telah tercatat sebanyak 38.319 orang kader konservasi, dengan 32.771 kader tingkat pemula, 4.921 kader tingkat madya, dan 627 kader tingkat utama. Dari tahun ke tahun peningkatan jumlah kader konservasi belum menunjukkan kenaikan jumlah yang signifikan. Jumlah kader tersebut dirasakan belum dapat memenuhi kebutuhan kader konservasi sebanyak 1 (satu) orang per 1000 (seribu) penduduk. Target pencapaian jumlah dan jenis kegiatan kader konservasi ini diharapkan dapat tercapai di tahun-tahun mendatang.
Dalam rangka optimalisasi tugas dan fungsi kader konservasi, berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan Dan Pelestarian Alam No. No 11/kpts/DJ-VI/95 tanggal 9 Januari 1995 tentang Pedoman Pembinaan Kader Konservasi, telah disahkan Pedoman Pembinaan Kader Konservasi, maka pedoman dimaksud perlu untuk dilakukan penyempurnaan untuk disesuaikan dengan tata kerja Departemen Kehutanan baik dari subtansi kegiatan maupun materi.
B.   Maksud, Tujuan dan Sasaran
1.   Maksud
Sebagai arahan dan pedoman dalam kegiatan pembinaan kader konservasi bagi para pembina (UPT Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam) serta pihak terkait baik Pusat dan Daerah.
2.    Tujuan
a.    Terselenggaranya kegiatan pembinaan kader konservasi pada UPT PHKA yang berhasil dan berdaya guna.
b.    Meningkatkan dan mengembangkan kemampuan kader konservasi sebagai pelopor (motivator) dan penggerak (dinamisator) dalam kegiatan-kegiatan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya di masyarakat secara optimal.
c.    Meningkatkan peran serta kader konservasi dalam menggerakkan upaya konservasi
d.    Terciptanya sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang terlindungi, lestari, dan dapat dimanfaatkan secara bijaksana.


3.  Sasaran
a.    Kepala Balai Besar/Balai dan pelaksana bina cinta alam pada Balai Besar/Balai Taman Nasional dan Balai Besar/Balai Konservasi Sumber Daya Alam serta instansi terkait selaku pembina kader konservasi di pusat dan daerah.
b.    Kader konservasi pada UPT PHKA berbagai jenjang (pemula, madya, dan utama).
C.   Landasan Hukum
1.  Undang-undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya;
2.  Undang-undang No. 5 Tahun 1994 tentang Pengesahan United Nations Conservation on Biological Diversity (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Keanekaragaman Hayati);
3.  Undang-undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan;
4.  Undang-undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan;
5.  Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.64/Menhut-II/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kehutanan
6.  Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.02/Menhut-II/2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Konservasi Sumber Daya Alam.
7.  Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.03/Menhut-II/2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Taman Nasional.
8.  Keputusan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam tentang Pedoman Pembinaan Kader Konservasi Nomor.11/Kpts/Dj-IV/95.
9.  Keputusan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Nomor SK.41/IV-Set/HO/2006 tentang Pedoman Pembentukan Kader Konservasi.




II.        BATASAN PENGERTIAN


1.    Sumber Daya Alam Hayati adalah unsur-unsur alam hayati di alam yang terdiri dari sumber daya alam nabati (tumbuhan) dan sumber daya alam hewani (satwa) yang bersama unsur non hayati disekitarnya secara keseluruhan membentuk ekosistem.
2.    Ekosistem sumber daya alam hayati adalah sistem hubungan timbal balik antara unsur dalam alam, baik hayati maupun non hayati yang saling tergantung dan pengaruh mempengaruhi.
3.    Konservasi Sumber Daya Alam adalah pengelolaan konservasi sumber daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan lain-lainnya.
4.    Mitra bina cinta alam adalah seseorang/kelompok yang menjadi binaan UPT PHKA yaitu kader konservasi (KK), Kelompok Pecinta Alam (KPA), dan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM).
5.    Kader Konservasi adalah seseorang/sekelompok orang yang telah dididik/ditetapkan sebagai penerus upaya konservasi sumber daya alam yang memiliki kesadaran dan ilmu pengetahuan tentang konservasi sumber daya alam serta sukarela, bersedia dan mampu menyampaikan pesan konservasi kepada masyarakat.
6.    Pembinaan adalah salah satu usaha-usaha, tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara berhasil dan berdaya guna untuk memperoleh hasil yang lebih baik.
7.    Pembinaan Kader Konservasi adalah usaha dan kegiatan yang dilakukan secara berhasil dan berdaya guna untuk lebih meningkatkan dan mengembangkan pengetahuan serta kemampuan kader konservasi sesuai dengan fungsi dan tugasnya.
8.    Unit Pelaksana Teknis Konservasi Sumber Daya Alam adalah organisasi pelaksana tugas teknis di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal PHKA.
9.    Unit Pelaksana Teknis Taman Nasional adalah organisasi pelaksana teknis pengelolaan taman nasional yang berada di bawah dan bertanggung jawab secara langsung kepada Direktur Jenderal PHKA.

III.     KADER KONSERVASI


1.  Kader Konservasi adalah seseorang yang telah dididik/ditetapkan sebagai penerus upaya konservasi sumber daya alam yang memiliki kesadaran dan ilmu pengetahuan tentang konservasi sumber daya alam serta sukarela, bersedia dan mampu menyampaikan pesan konservasi kepada masyarakat.
2.    Fungsi dan Tugas Kader Konservasi adalah :
a.  Sebagai pelopor dan penggerak upaya-upaya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya
b.  Berperan aktif dalam menumbuhkembangkan gerakan upaya-upaya konservasi sumber daya alam di tengah-tengah masyarakat.
3.    Hak-hak kader konservasi :
a.  Mendapatkan kemudahan memasuki dan memanfaatkan kawasan konservasi.
b.  Membina kader konservasi yang lebih rendah tingkatannya
c.   Mengikuti kegiatan-kegiatan dalam lomba penghijauan dan konservasi alam serta kegiatan lain yang terkait dengan konservasi alam dan lingkungan hidup.
4.  Sebagai mitra bina cinta alam, kader konservasi diharapkan dapat memberikan perannya sebagai :
a.  Inisiator
Sebagai seseorang dari bagian komunitas sadar hutan dan lingkungan, kader konservasi diharapkan dapat menjadi sumber ide/pemikiran konservasi yang bermanfaat bagi UPT PHKA maupun masyarakat secara luas melalui kepekaan dan pengetahuannya akan kondisi dan permasalahan hutan dan lingkungan saat ini.
b.  Motivator
Membangkitkan semangat/motivasi dan dorongan kepada masyarakat untuk mengetahui, memahami, serta menyadari pentingnya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya serta penerapan prinsip-prinsip konservasi dalam peri kehidupan.
c.   Fasilitator
Dalam penerapan prinsip-prinsip konservasi melalui pelaksanaan /penyelenggaraan bina cinta alam, kader konservasi berperan sebagai fasilitator/pendamping kegiatan yang diselenggarakan oleh Balai UPT PHKA, LSM, kelompok swadaya, dan Pemda setempat maupun kegiatan yang diselenggarakan secara mandiri oleh mitra.
d.  Dinamisator
Dalam menghadapi permasalahan hutan dan lingkungan yang semakin meningkat akhir-akhir ini, kader konservasi diharapkan dapat berperan sebagai mitra aktif dan sejajar dengan UPT PHKA untuk secara dinamis menyikapi kondisi yang ada. Kader
5.    Kegiatan Kader Konservasi
Kegiatan-kegiatan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, seperti yang diamanatkan dalam UU Nomor 5 tahun 1990, adalah kegiatan-kegiatan terkait prinsip-prinsip konservasi yaitu perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragamn jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, dan pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
6.    Berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 1990, jenis-jenis kegiatan yang diharapkan dapat dilaksanakan oleh kader konservasi adalah :
a.      Melaksanakan penerangan dan penyuluhan tentang konservasi SDAHE.
b.     Menyelenggarakan seminar/diskusi tentang konservasi SDHAE
c.   Melakukan kegiatan penelitian/ekspedisi tentang potensi flora, fauna dan ekosistemnya.
d.  Membantu menjaga kelestarian alam kawasan konservasi (Taman Nasional, Taman Wisata Alam, Taman Hutan Raya, Taman Laut, Cagar Alam dan Suaka Margasatwa).
e.      Menyebarluaskan informasi tentang konservasi SDAHE.
f.       Membuat tulisan/artikel di media masa tentang konservasi SDAHE
g.  Menjadi pemandu wisata alam di kawasan wisata alam (Taman Nasional, Taman wisata alam, Taman Hutan Raya, edan Taman Laut.
h.  Memanfaatkan media elektronik seperti radio dan televise sebagai sarana kampanye tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
i.    Berupaya meningkatkan keterampilan dalam memanfaatkan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya secara lestari. Keterampilan tersebut antara lain berupa kegiatan penangkaran jenis flora dan fauna dan lain-lain.
j.    Melapor kepada petugas lapangan atau jagawana bila ada perambahan hutan kayu dan pencurian kayu serta hasil hutan ikutan, satwa dan lain lain.
k.  Mengusahakan dan membantu memadamkan kebakaran hutan.
l.    Rehabilitasi Hutan baik perorangan maupun menggerakkan masyarakat.


IV.       KEBIJAKSANAAN PEMBINAAN


A.     Kebijaksanaan Umum
1.    Meningkatkan pengetahuan dan kemampuan kader konservasi dalam perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan dalam kegiatan - kegiatan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
2.    Meningkatkan pengetahuan dan kemampuan kader konservasi dalam inisiasi, identifikasi, pengembangan motivasi, dan fasilitasi kegiatan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya di tengah-tengah masyarakat.
B.     Kebijaksanaan Operasional
1.    Melaksanakan pendataan jumlah, sebaran, dan kegiatan kader konservasi sesuai dengan tingkatannya, yaitu tingkat pemula, madya dan utama.
2.    Menyediakan bahan dan materi informasi konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dalam rangka peningkatan ilmu pengetahuan dan kemampuan bagi para kader konservasi yang akan dibina.
3.    Mengembangkan jaringan dan komunikasi sesama kader konservasi, organisasi Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I), Kelompok Pencinta Alam, Kelompok Swadaya Masyarakat, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), serta organisasi terkait.
4.    Menggalang keterpaduan program kerja antar sesama kader konservasi, organisasi FK3I, serta dengan kebijaksanaan Pemerintah Daerah maupun Pemerintah Pusat.
5.    Mengikutsertakan dan mendayagunakan kader konservasi dalam kegiatan-kegiatan perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang diselenggarakan oleh UPT PHKA.
6.    Memantapkan dan mengembangkan fungsi dan tugas kader konservasi melalui kegiatan pembinaan secara langsung maupun tidak langsung (contoh : seminar, diskusi, pelatihan, pengembangan keterampilan, tertib administrasi dll)
7.    Memberikan apresiasi dan penghargaan kepada kader konservasi yang telah berperan aktif serta berprestasi dalam lomba Penghijauan dan Konservasi Alam setiap tahunnya.
V.          PROGRAM PEMBINAAN
                                                       
Kebijaksanaan pembinaan kader konservasi (dalam hal ini kebijaksanaan operasional) dijabarkan dalam bentuk program-program pembinaan. Program pembinaan kader konservasi disusun oleh UPT PHKA adalah sebagai program jangka menengah/jangka pendek dan berkesinambungan (berkelanjutan dan saling berhubungan). Program pembinaan disusun dalam rangka memberikan tuntunan/arah penyelenggaraan pembinaan kader konservasi oleh UPT PHKA. Rencana program pembinaan dapat diwujudkan dalam bentuk kerangka acuan atau rencana kerja yang berisi jenis kegiatan, waktu pelaksanaan, lokasi dan peserta, serta hal-hal yang akan dicapai pada setiap kegiatan pembinaan kader konservasi. Pada setiap program pembinaan kader konservasi diharapkan dapat memuat hal-hal yang bersifat pengembangan disiplin pribadi, bakat, pengetahuan dan kemampuan tiap kader konservasi dalam konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
Beberapa program pembinaan yang dikembangkan meliputi kegiatan-kegiatan yang terkait dengan :
1.  Peningkatan dan pembekalan pengetahuan dan kemampuan kader konservasi
2.  Pemberdayaan kader konservasi di masyarakat dalam kegiatan perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya
3.  Kerjasama kemitraan kader konservasi baik dengan perseorangan (sesama kader) maupun kelompok/organisasi.
4.  Penjenjangan kader konservasi (tingkat pemula, madya, utama) sebagai tindak lanjut kegiatan pembentukan kader konservasi (sesuai pedoman yang berlaku)
Dari program – program yang telah disusun dan dilaksanakan, maka dapat diselenggarakan  monitoring dan evaluasi kegiatan pembinaan yang diwujudkan dalam bentuk pelaporan (format seperti pada lampiran). Dengan program pembinaan ini, diharapkan kedepannya UPT PHKA dapat mempunyai arahan dalam mengetahui jumlah, keberadaan, kegiatan, serta hambatan-hambatan yang dihadapi oleh kader konservasi dalam kegiatannya. Sehingga dapat diupayakan pemecahan permasalahan/hambatan serta dukungan baik sarana maupun prasarana kepada kader konservasi dalam peningkatan kualitas dan kuantitas kegiatannya.



VI.       PERENCANAAN PEMBINAAN


A.   Metoda
1.    Langsung
Merupakan metode pembinaan yang melibatkan dua pihak secara langsung berinteraksi (komunikasi antara pembina/UPT PHKA dengan kader konservasi) melalui aktivitas pertemuan/tatap muka dll.
2.     Tidak Langsung
Merupakan metode pembinaan dengan perantara (bahan/sesuatu), dimana komunikasi yang terjalin adalah satu arah (berasal dari pembina/UPT PHKA atau kader konservasi saja).
B.   Pelaksana Pembinaan
Kegiatan pembinaan kader konservasi utamanya diselenggarakan oleh UPT PHKA dimana kader konservasi terdaftar sebagai kader. Namun kegiatan pembinaan juga tidak mengikat hanya bagi UPT PHKA, pembinaan dapat diselenggarakan melalui kerjasama UPT PHKA dengan pihak-pihak terkait (Pemda setempat, LSM, sekolah atau perguruan tinggi setempat), maupun diselenggarakan secara mandiri oleh pihak-pihak terkait selain UPT PHKA. Namun diharapkan setelah diselenggarakannya pembinaan, dapat melaporkan kegiatan tersebut kepada UPT PHKA sebagai bahan monitoring dan evaluasi pembinaan kader konservasi.
C.   Pembinaan Kader Konservasi Pada Berbagai Jenjang
Pembinaan kegiatan kader konservasi pada jenjang/tingkat pemula, madya, dan utama dapat terdiri atas materi dalam kelompok dasar, kelompok inti, kelompok penunjang, praktek lapangan, dan lain-lain), namun mempunyai variasi pada jenis-jenis uraian materi yang diberikan sesuai tingkatan kader konservasi. Materi pembinaan untuk berbagai jenjang/tingkat kader konservasi secara lengkap terdapat dalam Pedoman Pembentukan Kader Konservasi.


D.   Bentuk dan Materi Pembinaan Metoda Langsung
1.    Pertemuan Kader Konservasi;
Merupakan media untuk saling bertemu, bertatap muka, tukar-menukar informasi baik kegiatan maupun keterampilan, pengetahuan serta pengalaman selama menjalankan tugas sebagai seorang kader konservasi untuk mendapatkan umpan balik dari sesama kader konservasi atau pembina/UPT PHKA.  Pada kesempatan ini juga dapat digunakan sebagai ajang penyampaian masalah maupun hambatan-hambatan yang dialami untuk diupayakan pemecahannya. Pertemuan kader konservasi dapat diselenggarakan oleh kader konservasi secara mandiri dan dapat difasilitasi oleh UPT PHKA. Pertemuan kader konservasi tingkat propinsi dalam FK3I Propinsi diharapkan dapat dijadwalkan minimal 1 (satu) kali dalam setahun. Untuk tingkat nasional diselenggarakan pada saat pelaksanaan temu karya kader konservasi.
2.    Peningkatan Pengetahuan;
Bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan kepada kader konservasi di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Upaya pembinaan dalam rangka peningkatan pengetahuan kader konservasi, dapat dilaksanakan antara lain melalui ; workshop, seminar, sarasehan, diskusi panel, penyegaran, pertemuan ilmiah dan lain-lain, yang selanjutnya dapat dilengkapi dengan kegiatan lapangan (misalnya studi banding di kawasan konservasi). Melalui kegiatan ini kader konservasi dapat memperoleh ilmu dan pengetahuan dari pembicara yang menguasai pengetahuan dan keahlian di masing-masing bidang. Upaya pembinaan ini dapat diselenggarakan oleh UPT PHKA, atau bekerja sama dengan pihak terkait (KPA, KSM, LSM, Pemerintah Daerah setempat), maupun mitra bina cinta alam secara mandiri. Untuk kegiatan diskusi panel dan penyuluhan, dapat dijadwalkan minimal 3 (tiga) bulan sekali dalam satu tahun/tiap trimester. Pelaksanaannya dikaitkan dengan peringatan hari-hari penting nasional seperti menjelang Hari Konservasi Alam Nasional, Hari Bhakti Rimbawan, Hari Bumi, Hari Lingkungan Hidup, Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional, Hari Sumpah Pemuda dan lain lain.
3.    Pengembangan Keterampilan;
Merupakan upaya pembinaan dalam rangka peningkatan keahlian kader konservasi di bidang pengelolaan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya baik yang diselenggarakan oleh UPT PHKA, KPA, KSM, LSM maupun Pemerintah Daerah setempat. Pembinaan pengembangan keterampilan kader konservasi diharapkan dapat diselenggarakan paling tidak 1 (satu) kali dalam satu tahun.  Bentuk dan materi pembinaan pengembangan keterampilan kader konservasi dapat diwujudkan dalam kegiatan :
a.  Pengamatan Jenis Flora dan Fauna
Berupa kegiatan pengamatan jenis flora dan fauna melalui identifikasi dan inventarisasi jenis-jenis flora dan fauna, habitat, populasi, cara hidup, manfaat dan pengaruh keberadaannya bagi flora fauna lain maupun ekosistem. Bentuk kegiatannya dapat berupa inventarisasi dan atau ekspedisi.
b.  Pemandu Wisata/Guide
Pembinaan kader konservasi sebagai pemandu wisata saat ini adalah dalam rangka menjawab kebutuhan pentingnya interpreter lokal bagi para wisatawan. Dengan adanya pemandu wisata yang berasal dari kader konservasi, diharapkan dapat tercipta interpreter handal yang mampu menyebarluaskan dan menciptakan kesadaran konservasi bagi pengunjung kawasan konservasi. Materi yang diberikan dalam pelatihan ini meliputi teknik – teknik interpretasi, karakteristik flora-fauna endemik setempat, karakteristik pengunjung, dan kemampuan berbahasa asing.
c.   Penangkaran dan Budidaya Jenis Flora - Fauna
Dengan pelatihan penangkaran dan budidaya, selain bermanfaat untuk pengawetan/pelestarian flora-fauna, pengembangan bakat dan kesempatan berusaha, juga dapat menjadi alternatif peningkatan pendapatan. Selain sebagai salah satu bentuk pembinaan, pelatihan penangkaran dan budidaya bagi kader konservasi ini juga menjadi salah program pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan konservasi. Dalam pelatihan ini, kader konservasi memperoleh materi tentang pengenalan jenis flora-fauna penangkaran dan budidaya, karakteristik flora-fauna, jenis-jenis yang dilindungi/tidak dilindungi (status flora-fauna tertentu), metode penangkaran dan budidaya, pemasaran hasil dan lain-lain dengan berdasar pada pemanfaatan lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Jenis-jenis penangkaran yang dapat dikembangkan diantaranya adalah penangkaran rusa, anggrek, buaya, tumbuhan obat, tanaman hias, budidaya dan lain lain.
d.  Pelatihan Penulisan Ilmiah dan Penyusunan Proposal
Pelatihan penulisan ilmiah dan penyusunan proposal kegiatan sangat diperlukan bagi kader konservasi dalam rangka pengembangan kerangka berpikir, kemampuan analisis dan berkomunikasi, serta menjalin kerjasama. Dengan penguasan penulisan ilmiah sederhana, kader konservasi dapat mempublikasikan dan mendokumentasikan pengetahuan dan pengalamannya terkait dengan konservasi pada media massa/jurnal setempat. Serta dengan penyusunan proposal, diharapkan kader konservasi dapat mengembangkan kemampuan untuk menjaring dan menjalin kerjasama dalam penyelenggaran kegiatan konservasi secara mandiri atau bersama dengan pihak terkait (misalnya LSM, perguruan tinggi, perusahaan yang bergerak di bidang pemanfaatan alam dan lingkungan, Pemerintah Daerah dll).
e.    Penyelenggaraan lomba
Penyelenggaraan lomba selain berfungsi sebagai media pembinaan, dapat juga berfungsi sebagai media promosi konservasi di UPT PHKA kepada masyarakat disamping pameran - pameran. Dengan keikutsertaan kader konservasi dalam lomba – lomba, maka akan dapat meningkatkan motivasi dan tolak ukur bagi kader konservasi dalam hal partisipasinya untuk kegiatan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
f.     Pengamatan Gejala Alam
Pembinaan dalam bentuk pengamatan gejala alam berupa kegiatan pencatatan dan penilaian oleh kader konservasi berupa pengamatan perkembangan potensi keadaan alam di suatu kawasan konservasi diharapkan dapat menjadi salah satu dasar/acuan untuk pengembangan aspek konservasi dan aspek pemanfaatan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Hasil pengamatan gejala alam oleh kader konservasi akan menjadi sangat bermanfaat dan strategis dengan respon positif dan mendukung dari UPT PHKA.
g.    Pengamatan Kerusakan Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.
Sebagai rangkaian dari upaya pembinaan terkait pengamatan fenomena hutan dan alam, maka pengamatan kerusakan/potensi kerusakan yang terjadi pada sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, dapat meningkatkan kepekaan kader konservasi terhadap penyebab kerusakan, upaya pencegahan, dan penanggulangan kerusakan menuju upaya perlindungan dan pelestarian.
h.    Penanggulangan Kebakaran Hutan
Melibatkan kader konservasi dalam kelompok-kelompok masyarakat peduli api sangat penting dalam rangka meningkatkan keterampilan dan keahlian kader konservasi dalam penanggulangan kebakaran hutan, serta dalam rangka peningkatan kemampuan masyarakat untuk pengolahan lahan perkebunan/pertanian tanpa pembakaran. Pelibatan kader konservasi dalam penanggulangan kebakaran hutan sangat diperlukan bagi kawasan konservasi rawan kebakaran, atau banyak terdapat lahan gambut.
i.    Pengamanan Hutan
Peran kader konservasi dalam kegiatan perlindungan dan pengamanan hutan dapat diwujudkan dalam pengamanan swakarsa kader konservasi dengan kelompok-kelompok patroli pengamanan. Setiap ketua kelompok pengamanan melaksanakan koordinasi antar kelompok dengan fasilitasi UPT PHKA.
4.    Pelibatan Kader Konservasi dalam program kerja UPT PHKA
Pembinaan kader konservasi melalui pelibatannya dalam kegiatan/program kerja UPT PHKA merupakan jalur pembinaan yang dapat dikatakan sangat bermanfaat dan memberikan efek besar dan positif dikarenakan sifatnya yang melekat dan berkesinambungan satu sama lain. Selain meningkatkan hubungan kerja antara kader konservasi dan UPT PHKA, jalur pembinaan ini juga dapat memberikan pengaruh yang baik bagi mitra bina cinta alam yang lain (KPA dan KSM).  Beberapa contoh kegiatan pelibatan kader konservasi dalam kegiatan/program kerja UPT PHKA adalah sebagai :
a.  Fasilitator dan motivator bagi kegiatan pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan konservasi dalam kegiatan pembinaan daerah penyangga
b.  Turut membantu dalam penyelenggaraan kegiatan-kegiatan konservasi, misalnya kemah konservasi, sosialisasi konservasi, pembentukan kader konservasi dll.
c.   Sebagai anggota kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA).
d.  Ikut serta dalam kegiatan pengamanan pam swakarsa, masyarakat peduli kelestarian alam, penanaman dll.
e.  Berpartisipasi dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh mitra UPT PHKA (KPA, KSM, LSM, sekolah/Perguruan Tinggi, dan Pemerintah Daerah setempat)
E.      Bentuk dan Materi Pembinaan Metoda Tidak Langsung
1.  Distribusi informasi berupa leaflet, booklet, buku dan poster dll mengenai konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya kepada kader konservasi. Dimana kegiatan ini sangat diperlukan dalam rangka meningkatkan pengetahuan konservasi serta sebagai salah satu sarana pendukung kegiatan kader konservasi dalam upaya menyampaikan/menyebarluaskan pesan-pesan konservasi dan penyadartahuan kepada masyarakat.
2.    Pengisian angket/kuesioner kader konservasi;
Melalui pengisian angket–angket yang disampaikan kepada para kader konservasi diharapkan akan dapat memberikan gambaran secara tidak langsung tentang keberadaan, aktifitas kader konservasi, dan hambatan-hambatan yang dihadapi dalam melaksanakan tugas dan fungsi kader konservasi. Rekapitulasi hasil pengisian angket kader konservasi juga dapat digunakan sebagai bahan penentuan langkah kebijaksanaan yang diperlukan dimasa datang dalam rangka meningkatkan kuantitas dan kualitas jenis kegiatan bagi kader konservasi dan UPT PHKA (contoh format angket seperti pada lampiran 1).
Pengiriman/penyampaian angket kepada kader konservasi dapat dilaksanakan dalam kerangka waktu minimal 6 (enam) bulan sekali. Pengiriman angket kader konservasi dapat dilakukan oleh UPT PHKA maupun pusat. Banyaknya angket yang dikirimkan tidak untuk keseluruhan kader melainkan dilakukan dengan memakai sistem acak/random dengan intensitas sampling (IS) minimal 10% dari jumlah kader konservasi yang terdaftar pada masing-masing UPT PHKA.
F.      Pembinaan Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I)
Sebagai wadah komunikasi, koordinasi, dan konsultasi kader konservasi, maka di setiap propinsi dibentuk Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I). Melalui forum ini, kader konservasi dapat mengkomunikasikan kegiatan-kegiatannya baik pada tingkat pusat maupun daerah (propinsi). Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia ditetapkan berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam Nomor 106/Kpts/DJ-VI/1996 tentang Pedoman Pembentukan dan Organisasi Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) di Daerah Tingkat I. FK3I berfungsi sebagai media untuk memadukan kegiatan perencanaan, pembinaan, dan pengembangan kader konservasi di daerah tingkat propinsi. Pembinaan FK3I oleh UPT PHKA terdiri atas pembinaan organisasi dan kegiatan. Pembinaan organisasi meliputi pembinaan kepada pengurus, serta tinjauan terhadap rencana dan program kerja FK3I Propinsi. Terkait dengan pembinaan kegiatan FK3I, maka dapat dilakukan monitoring dan evaluasi kegiatan di bidang hubungan masyarakat, peningkatan sumber daya manusia, penelitian dan pengembangan, serta pengabdian masyarakat.
G.   Koordinasi Pelaksanaan Pembinaan
Dalam rangka meningkatkan efektivitas pelaksanaan pembinaan kader konservasi oleh UPT PHKA, maka diperlukan adanya koordinasi pelaksanaannya. Koordinasi yang dijalin terkait dengan teknis pelaksanaan pembinaan dalam hal ini meliputi pendanaan, sumber daya manusia, sarana prasarana, materi pembinaan, dan hal-hal lain terkait dengan kelancaran kegiatan pembinaan. Hal ini mengingat kader konservasi tidak hanya menjalankan tugas dan fungsinya dalam lingkup kerja UPT PHKA saja, namun juga menyangkut semua sektor terkait konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Koordinasi dimaksud dapat diselenggarakan dalam lingkup propinsi, dimana pihak-pihak terkait bidang kehutanan dapat bekerja sama dalam penyelenggaraan pembinaan kader konservasi.
Beberapa pihak yang menjadi mitra koordinasi adalah masing-masing UPT PHKA (Balai Besar KSDA/TN, Balai KSDA/TN), Dinas Kehutanan Propinsi dan Kabupaten, Kelompok Pecinta Alam, Kelompok Swadaya Masyarakat, Lembaga Swadaya Masyarakat setempat, Perguruan Tinggi/sekolah, Pramuka, Dinas terkait, perusahaan-perusahaan setempat yang bergerak di bidang pemanfaatan hutan/alam, maupun UPT Departemen Kehutanan yang lain (BPDAS, Balai Penelitian, BP2HP, BPKH dll)
Koordinasi kegiatan pembinaan kader konservasi yang dijalin bersifat saling menghormati, menghargai, dan berkomitmen untuk meningkatkan kapasitas kader konservasi sebagai agen konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Diharapkan koordinasi pembinaan kader konservasi dalam bentuk kerjasama ini dapat berjalan aktif, intensif, dan berkesinambungan dari waktu ke waktu atau dapat dikatakan menjadi agenda kegiatan rutin/agenda kegiatan bersama.
VII.    PELAPORAN
Tahap pelaporan merupakan tahap penyusunan dokumen sebagai bahan/media monitoring dan evaluasi yang disusun berdasarkan kegiatan pembinaan kader konservasi yang telah dilaksanakan. Laporan ini secara umum dapat dikategorikan menjadi laporan yang dibuat oleh kader konservasi dan laporan yang dibuat oleh UPT PHKA sebagai pembina.
1.  Laporan oleh Kader Konservasi
Laporan dibuat oleh kader konservasi setelah melaksanakan suatu kegiatan maupun laporan rutin yang dibuat setiap tahun. Laporan kegiatan minimal memuat beberapa hal diantaranya; jenis kegiatan, waktu pelaksanaan, lokasi kegiatan, peserta, metode, jenis kegiatan, sumber dana, manfaat / hasil kegiatan, dan lain-lain yang diperlukan (contoh format seperti pada lampiran 2).
2.  Laporan oleh UPT PHKA sebagai Pembina
Laporan yang disusun oleh UPT PHKA merupakan rekapitulasi hasil-hasil kegiatan pembinaan kader konservasi yang telah diselenggarakan oleh UPT PHKA, serta kerja sama dengan pihak terkait maupun rekapitulasi hasil-hasil kegiatan yang dilaksanakan oleh kader-kader konservasi di masing-masing UPT PHKA (termasuk hasil angket/kuesioner yang dibagikan kepada kader). Laporan - laporan tersebut meliputi Laporan Semester dan Laporan Tahunan (contoh format seperti pada lampiran 2 dan 3).
a.  Laporan Semester (contoh format lampiran 3)
Merupakan rekapitulasi laporan hasil pembinaan kader konservasi selama satu semester (6 bulan). Laporan disampaikan kepada Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam cq. Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam. Untuk semester I, laporan diharapkan dapat diterima paling lambat bulan September, dan untuk semester II diharapkan laporan dapat diterima paling lambat bulan Maret untuk setiap tahunnya.
b.  Laporan Tahunan (contoh format lampiran 4)
Merupakan rekapitulasi dari laporan semester I dan II dengan dilengkapi penjelasan mengenai hambatan/kendala serta upaya-upaya yang telah dilakukan dalam rangka penyelesaian.  Laporan tahunan disampaikan kepada Direktorat Jenderal PHKA cq. Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam. Laporan tahunan diharapkan dapat diterima paling lambat bulan Maret untuk setiap tahunnya.
VIII.  MONITORING DAN EVALUASI


Sebagai tindak lanjut dari sebuah kegiatan pembinaan dan untuk mengetahui tingkat keberhasilan pelaksanaan pembinaan kader konservasi maka diperlukan adanya kegiatan monitoring dan evaluasi. Yang dimaksud dengan monitoring dan evaluasi adalah suatu proses pengumpulan data dan informasi tentang hasil pelaksanaan kegiatan pembinaan kader konservasi sebagai dasar untuk melakukan pertimbangan, membuat keputusan, dan kebijaksanaan untuk menentukan langkah-langkah perencanaan program-program kegiatan pembinaan kader konservasi selanjutnya.
Tujuan monitoring dan evaluasi pembinaan kader konservasi adalah :
1.  Mengetahui efektifitas dan efisiensi pelaksanaan program pembinaan kader Konservasi
2.  Identifikasi hambatan dan kendala pelaksanaan pembinaan kader konservasi
3.  Penilaian terhadap program-program pembinaan, metoda, materi, persepsi masyarakat, dan dampak pembinaan terhadap kelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistemnya
Untuk kepentingan penyempurnaan perencanaan pembinaan kader konservasi dimasa mendatang, kegiatan monitoring dan evaluasi ini meliputi :
1.  Menetapkan beberapa standar atau kriteria penilaian yang digunakan sebagai bahan perbandingan data/informasi yang diperoleh.
2.  Pengumpulan data/informasi baik melalui pengamatan pada saat kegiatan berlangsung maupun berdasarkan laporan-laporan.
3.  Pengolahan data/informasi yang diperoleh.
4.  Membuat pertimbangan untuk menetapkan penyempurnaan perencanaan pembinaan berikutnya.
Mekanisme pelaksanaan monitoring dan evaluasi dapat dilakukan pada akhir setiap kegiatan, namun dapat juga dilakukan secara berkala setiap enam bulan sekali (semester) atau setiap satu tahun sekali/tahunan. Penyajian hasil monitoring dan evaluasi dapat berupa laporan (contoh format laporan seperti pada lampiran). Selanjutnya dari hasil monitoring dan evaluasi ini dapat diupayakan penyelenggaraan pembinaan kader konservasi yang lebih baik di masa mendatang, sehingga dapat tercipta kader-kader konservasi yang aktif, kreatif, dan inovatif dalam menyikapi permasalahan-permasalahan konservasi. Dan bagi kader konservasi yang berprestasi, dapat diikutsertakan dalam Lomba Penghijauan dan Konservasi Alam tingkat propinsi maupun tingkat nasional untuk setiap tahunnya.
IX.           PENUTUP
Kelengkapan program kegiatan dalam rangka pembinaan kader konservasi oleh UPT PHKA diawali dengan tahap perencanaan/penyusunan program kegiatan sampai dengan monitoring dan evaluasi. Berbagai macam metoda dan bentuk kegiatan pembinaan, diharapkan dapat menjadi alternatif pembina dalam upaya meningkatkan pengetahuan dan kapasitas kader konservasi dalam pelaksanaan tugasnya.
Pembinaan kader konservasi bukan hanya menjadi tanggung jawab UPT PHKA dalam pelaksanaannya, tetapi menjadi perhatian berbagai pihak untuk turut berpartisipasi. Dalam penyelenggaraan pembinaan kader konservasi nantinya, dimungkinkan akan ditemui hambatan/kendala teknis maupun non teknis. Namun diharapkan hal ini tidak menjadi hal yang menghalangi upaya penyelenggaraannya. Langkah penyesuaian dengan kondisi dan situasi di masing-masing UPT PHKA sangat mungkin untuk dilakukan.
Diharapkan dengan adanya Pedoman Pembinaan Kader Konservasi ini, para pelaksana pembinaan (UPT PHKA) mempunyai acuan dan arahan dalam pengembangan pelaksanaan kegiatan pembinaan. Sehingga kegiatan pembinaan kader konservasi dapat berjalan dengan efektif dan efisisen, serta mampu menciptakan kader konservasi sebagai mitra bina cinta alam yang dapat diandalkan dalam menghadapi berbagai tantangan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.








Popular posts from this blog

BARUS KOTA BERTUAH MINIATUR DAN DIMENSI SPRITUAL DARI PUNCAK MAKAM PAPAN TINGGI

Makam Tuan Syeikh Mahmud Barus di Papan Tinggi Desa Pananggahan, Kec. Barus Utara, Kabupaten Tapanuli Tengah-Sumut, sebagai Pembawa Syiar Agama Islam di Indonesia. Dari atas puncak Papan Tinggi atau yang biasa di sebut masyarakat setempat dengan sebutan Tompat atau Tangga Seribu menyimpan dimensi spritual yang tersembunyi. Dari atas terlihat hamparan pemukiman kota Barus dengan bentangan  samudera Hindia sebagai gerbang masuk nya Agama Kristen dan Islam di Indonesia dengan kekayaan Sumber Daya Alam ( SDA ) yang pada zaman itu yakni kapur barus. (Baca : Rekam Jejak Barus)

Pancur Napitu Merah Putih Alur Danau Toba dan Legenda Sisingamangaraja

Pancur Napitu di temukan pada tahun 1833 oleh sekelompok masyarakat Batak saat membuka perkampungan Parhutaan Maria Gunung di Dusun I, Desa Gunung Berkat, Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara. Pancur Napitu arti nya 7 sumber mata air yang keluar dari batu. Meskipun saat musim kemarau mata air tersebut tidak pernah kering dan bila saat musim  penghujan 7 mata air tersebut tetap mengeluarkan air yang jernih.

SUNGAI ASAHAN DALAM MINIATUR PEMBENTUKAN KABUPATEN BANDAR PULAU YANG BAROKAH

Oleh: Amiruddin Dolok Saribu Alias Tombak Nagara
Sungai Asahan berasal dari Danau Toba Kabupaten Tobasa dengan melintasi pegunungan hutan lindung Tormatung Asahan mengalir dan membelah sejumlah desa-desa di Kabupaten Asahan, Tobasa dan bermuara ke Kota Madya Tanjung Balai membaur ke pantai laut Selat Malaka. Sungai Asahan merupakan kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) masyarakat Kabupaten Asahan, Sumatera Utara. Salah satu yang membuat Sungai Asahan mendunia karena sering menjadi tempat ajang perlombaan arum jeram bertaraf international. Namun sejak di bangun nya PLTA Asahan III arung jeram sudah tidak terdengar lagi kabar nya.

Tugu Perjuangan Bandar Pulau 'Susah di kenang senang di lupakan'

Tungu Perjuangan Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara, merupakan bukti sejarah sebagai Pengibar pertama sangsaka Merah Putih di Asahan. Bandar pulau akan selalu di kenang, banyak putera-putri Bandar Pulau yang sudah berhasil di luar daerah, jadi apabila melihat photo ini pasti akan terkenang dengan Kampung halaman nya.

Tugu Sarang Helang 'Dikenang Sifat Kesatria Rakyat Asahan'

Selain Tugu Perjuangan Bandar Pulau yang terletak di Desa Bandar Pulau Pekan, Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara, (Baca:Tugu Perjuangan Bandar Pulau masih ada satu lagi sebuah Tugu Perjuangan Sarang Helang yang terletak di Desa Sarang Helang, Kecamatan Sei Kepayang Timur, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara.